Vanishing Spirit

84 17 3
                                    

Aroma alkohol bercampur antiseptik pembersih lantai menyapa indera penciumanku ketika kesadaranku perlahan-lahan mulai terkumpul. Saat mataku mulai bisa melihat dengan jelas, pemandangan yang pertama kali terlihat olehku adalah lampu fluorescent yang menyala terang di atas kepalaku. Tidak berapa lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki mendekat.


SREEEKK !!!


Aku menolehkan kepalaku ke samping. Yang baru saja datang adalah seorang perawat paruh baya dengan senyum keibuan. Dia membuka gorden berwarna biru laut yang baru aku sadari mengelilingi tempat aku berbaring.


"Sudah bangun?"


Aku mengernyit sejenak. Berusaha mengingat-ingat kembali apa yang menimpa diriku sampai aku bisa terbaring di tempat ini.


"Tadi kau pingsan di depan bangsal inap kelas satu. Perawat yang berjaga di sana yang membawamu ke sini...."


Setelah mendengar penjelasan dari perawat tersebut, potongan-potongan ingatan mulai terbayang di kepalaku sampai membentuk memori yang utuh. Awalnya aku pergi bersama Injun Oppa. Lalu dia meninggalkanku di museum. Setelah itu aku melihat dia menaiki taksi kembali ke Tokyo dan Akkinta mengikutinya. Setelah mengetahui tujuan tujuan Injun Oppa, aku menyusul ke Rumah Sakit Umum Tokyo. Namun, ketika aku hendak masuk ke dalam bangsal karema Akkinta tidak bisa melakukannya, aku malah jatuh tak sadarkan diri.


"Sudah ingat?" Perawat itu kembali bertanya setelah selesai memeriksa diriku dengan senter kecil yang dia ambil dari sakunya.


Aku mengangguk pelan.


"Hanya anemia ringan kok. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan...."


"Terima kasih....." ucapku.


"Tinggal menghabiskan cairan infus lalu kau bisa pulang...."


Aku menolehkan kepalaku ke bagian kiri atas. Baru aku sadari ternyata ada selang infus yang terhubung dengan jarum yang menancap di atas punggung tangan kiriku.


"Tidak ada keluarga yang bisa kau hubungi untuk menjagamu di sini?" Perawat itu bertanya lagi. Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban.


"Kenalanmu mungkin?"


Aku kembali menggelengkan kepalaku. Aku tidak ingin merepotkan siapapun. Sempat terpikir untuk menghubungi Injun Oppa, tapi dia saja tadi meninggalkan aku sendirian di museum.


"Aku bisa sendiri kok....." ujarku akhirnya. Jawabanku itu mengundang tatapan simpati dari perawat tersebut.


"Kalau kau butuh sesuatu, jangan sungkan mencariku. Aku ada di nurse station...."


"Terima kasih banyak...."


Setelah mengusap lenganku sekilas, perawat dengan wajah keibuan itu lalu meninggalkan aku sendirian. Aku lantas membuang napas panjang sembari menatap tiang infus yang menjulang di dekat kepala.


"Kau itu selain bodoh ternyata lemah juga ya.... Masak tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba pingsan begitu saja?"


Aku mendecakkan lidahku lalu menolehkan kepalaku ke arah berlawanan. Akkinta terlihat di sana. Berdiri dengan tangan dilipat di depan dada. Tambahkan wajahnya mengejeknya yang terlihat benar-benar menyebalkan.


"Kau itu.... Bukannya khawatir aku pingsan, malah mengataiku lemah...." sindirku.


"Tsk.... Buang-buang waktu...." sahut Akkinta.


Unmei no Akai ItoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang