"Bagaimana Bisa jam itu tidak ada di sana?" Anzilla bergumam heran, sedari tadi wanita itu tengah mondar-mandir di depan ranjang sambil mengigit kuku.
Seperti biasa, dua dayang setianya hanya melihat tingkah ratu dengan tatapan heran. Sejak beberapa jam lalu, tepatnya setelah kembali dari masjid, wanita itu terus bertingkah aneh karena bicara sendiri. Ingatan Anzilla berputar pada kejadian siang tadi, ketika dia berada di masjid tujuh belas ramadan.
Anzilla tampak berlari kesana-kemari untuk menelusuri setiap sudut masjid itu karena ruangan di sana tentu berbeda dari keadaan di masa depan. Areta dan dayang-dayang yang mengikuti di belakang hanya menautkan alis bingung.
"Ratu, sebenarnya kita di sini untuk mencari apa?" tanya Areta penasaran. Sebab sedari tadi wanita di depannya ini hanya sibuk mondar-mandir tak jelas.
"Aku mencari ruangan bawah tanah di masjid ini," jawab Anzilla sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut masjid. Wanita itu menghentikan langkah, lalu memutar tubuhnya ketika teringat sesuatu. Anzilla terdiam sejenak saat menyadari bahwa kini di belakangnya banyak pengawal dan dayang-dayang yang ikut.
'kenapa aku bisa lupa kalau ada mereka di sini? Untuk apa aku susah payah mencari kalau ada mereka yang bisa diandalkan. Aku ini kan ratu sekarang, dasar bodoh' Maki Anzilla pada dirinya sendiri. Tak lama setelahnya dia menyunggingkan senyum senang.
"Kalian semua ... cepat cari ruang bawah tanah di sini sampai ketemu! Kalau sudah beri tahu aku secepatnya, mengerti!" perintah Anzilla pada semua pelayannya.
"Baik, Yang Mulia!" jawab pelayan serentak.
Anzilla lalu memilih duduk selonjoran di atas permadani merah di masjid itu. Beruntung belum memasuki waktu salat asar, jadi masjid masih tampak sepi. Wanita itu bahkan tak merasa sungkan untuk merebahkan diri dengan posisi telentang sambil menatap keindahan arsitektur tempat ibadat tersebut. Bentuk asli dari masjid itu adalah segi empat dengan ukuran 91 meter pada setiap sisinya. Dibangun dari batu bata dan plester. Bagian fondasinya dihiasi muqarnas atau lengkung stalaktit yang menonjolkan cerukan sebagai ciri khas. Adapun bingkai atau sisi permukaan masjid diukir dengan ornamen-ornamen yang indah. Selain pola-pola geometris, ada pula kaligrafi yang menggunakan corak Kufi. Keseluruhan ornamen di bangunan tempat ibadah itu hampir sembilan puluh persen berbeda dari yang terakhir Anzilla lihat di masa depan.
Tak berapa lama setelah menunggu, seorang pelayan tergopoh-gopoh mendatangi ratu yang tengah berbaring dengan nyaman.
"Ratu, ruang bawah tanahnya sudah ditemukan," ujar seorang pengawal laki-laki.
Anzilla pun bangkit mendengar laporan itu, senyumnya merekah, karena merasa sebentar lagi dia akan bisa kembali ke masa depan. Sebelum pergi, wanita itu mengalihkan perhatiannya pada Halima dan Aliyah. "Kalau begitu, aku pamit dulu, terima kasih karena kalian sudah baik padaku selama aku di sini. Kalian jaga diri baik-baik," ujar Anzilla dengan wajah sedih, lalu memeluk dua dayang setianya. Mereka hanya menunjukan rasa bingung saat ratu berkata seperti itu.
Anzilla lalu mengalihkan perhatian pada Areta yang masih menatapnya dengan wajah malas. "Kau tak perlu khawatir, setelah aku pergi kau bisa bebas memiliki raja kejam itu," ujar Anzilla sambil memegang bahu Areta dengan yakin.
"Yang Mulia, Anda tidak bolah mengatakan hal seperti itu!" seru Halima mengingatkan. Namun, hanya diabaikan oleh ratu.
"Ayo antar aku ke ruang bawah tanah," ujar Anzilla pada beberapa pelayan. Dengan semangat empat lima wanita itu akhirnya menuju tempat yang dimaksud. Tak lupa beberapa hadiah dari Khalifah pun dia bawa. Anzilla berpikir dia bisa membawa semua barang itu ke masa depan melalui portal ajaib yang akan dia temukan. Anzilla tersenyum sinis karena menertawakan kekonyolannya sendiri saat ini, bisa-bisanya dia percaya kalau benar ada portal ajaib. 'Semua ini gara-gara jam sialan itu' makinya dalam hati.
"Mana ruangan bawah tanah yang kalian maksud?" tanya Anzilla karena merasa tak sabar lagi.
"Sebentar lagi, Yang Mulia," jawab salah satu pelayan. Anzilla tersenyum senang ketika dia menemukan beberapa lorong yang familiar di ingatannya, itu berarti memang tak salah kalau dia memutuskan untuk kembali ke masjid tersebut.
"Silakan, Yang Mulia, ini ruang bawah tanah yang saya maksud," ujar salah satu pelayan.
Senyum Anzilla kembali merekah kala dia melihat pintu yang terakhir kali ditemukan Zura, kini ada di depan matanya. Walau kondisinya masih terlihat baru, Anzilla yakin memang pintu itu lah yang kemarin dia dan semua temannya masuki. Apa lagi ada sebuah simbol tulisan arab yang sama persis.
"Halima, Aliyah, aku pulang dulu, kalian jaga diri baik-baik." Anzilla pamit kembali. Lalu benar-benar masuk ke dalam ruangan tersebut.
Semua orang benar-benar dibuat bingung, dengan maksud ratu. "Sebenarnya apa yang ingin Ratu lakukan di sana? Bukannya tempat itu belum selesai dibangun karena diperuntukkan sebagai gudang?" Aliyah bertanya heran, sebab hanya desas-desus itu yang pernah dia dengar.
"Entahlah, aku yakin di bawah sana sangat gelap," ujar Halima menambahkan.
Baru saja Halima mengatakan itu, suara teriakan ratu terdengar dari dalam. Semua orang panik dan langsung membuka pintu.
"Ratu, apa yang-" Kalimat Halima terputus saat dia mengulurkan lampunya untuk melihat yang terjadi. Di bawah sana, Ratu tampak jatuh dengan posisi tengkurep di atas tanah.
"Astagfirullah, celakalah kita! aku lupa bilang pada Ratu, kalau ruangan ini memang baru dibuat, jadi masih belum ada penerangan yang memadai," ujar Halima panik. Wanita itu pun mengarahkan tatapan kesal pada semua penjaga yang ikut. Sedangkan Areta malah tertawa saat melihat kelakuan ratu. Dalam hati, wanita itu merasa sangat puas.
"Cepat tolong Ratu! Bagaimana bisa kalian ceroboh seperti ini dan tak memberitahu Ratu seluk-beluk kondisi ruangannya!" teriak Halima. Tanpa butuh waktu lama beberapa pengawal pun coba turun ke bawah diikuti dirinya dan Aliyah.
Namun, ketika hendak dibawa naik, Anzilla menolaknya. "Aku tak apa, tolong berikan lampu pijar yang kamu bawa, Aliyah, aku ingin melihat keseluruhan tempat ini," ujar Anzilla.
Aliyah pun mengangguk, lalu mengulurkan lampu itu pada ratu. Semua orang dibuat heran dan bertanya-tanya ketika ratu mulai mengelilingi seluruh sudut ruang bawah tanah sambil membawa lampu, lalu membuka semua kain yang digunakan untuk menutupi beberapa benda-benda antik. "Kenapa ruangannya seperti ini? Anak tangganya juga sedikit, harusnya banyak. Bukan ruangan ini yang aku cari. Jamnya juga tidak ada di sini?! Kemana jam raksasa itu?!" seru Anzilla panik sambil tetap mengarahkan penerangan ke semua sudut. Teriakannya kembali membuat semua orang saling berpandangan karena bingung.
"Maksud, Ratu, jam apa?" Halima menyuarakan kebingungan semua orang.
"Jam ...," Anzilla menggantung kalimatnya, dia menatap semua orang frustrasi sambil berusaha memberi penjelasan. "Jam yang ada penunjuk waktunya! Biasanya kalau di masa depan menggunakan angka," Ada jeda sejenak karena dia tak mendapatkan jawaban. Semua pelayannya malah sibuk saling berpandangan karena bingung.
"Jam! Apa kalian semua tidak tahu apa itu jam? Yang ada bentuk orang menunggang kuda!" sambungnya putus asa, bahkan sampai harus menekankan setiap kaliamat. Namun, agaknya semua orang masih belum memahami.
"Kalau yang Anda maksud dengan jam adalah alat penunjuk agar kita mudah menentukan waktu salat, di kerajaan ini tak ada benda macam itu, karena kami masih menggunakan perhitungan waktu manual. Tapi dari cerita beberapa petinggi kerajaan, Khalifah berencana membuat benda seperti yang Anda sebut untuk dihadiahkan pada Karel Agung," ujar Areta tiba-tiba. Wanita itu bicara dengan posisi masih berdiri di tangga.
Mendengar penjelasan Areta, mata Anzilla kembali berbinar, dia mengingat lagi pembicaraan Mahin dan teman-temannya, tentang jam yang diberikan Khalifah pada Karel Agung. Jika itu benar, berarti jam yang akan dihadiahkan pada Karel Agung baru akan dibuat. Anzilla harus mencari jawabannya pada Khalifah.
"Tolong bantu aku naik ke atas. Aku ingin segera menemui Khalifah!" ujar Anzilla dengan penuh semangat. Perkataannya membuat Areta kembali kesal. Namun, sayangnya ketika dia mendatangi kediaman raja, Anzilla tak menemukan laki-laki itu.
"Ratu, Yang Mulia Raja sedang ada di Bayt Al-Hikmah. Apakah Anda ingin menemunya sekarang?" tegur Halima tiba-tiba, seolah menarik Anzilla ke alam nyata. Dengan senyum lebar wanita itu mengangguk lalu memacu langkahnya menuju ke tempat sang Khalifah berada.

KAMU SEDANG MEMBACA
Anzilla dan Sang Khalifah
Historical FictionBest rank : 15 dalam fiksi sejarah. Anzilla Jhonson, wanita Amerika keturunan Yahudi yang begitu benci dengan islam karena cerita turun-temurun di keluarganya. Dia sengaja berkuliah di University Of Bagdad untuk membuktikan kebenaran tentang sejarah...