Sesuai kesepakatan kemarin, Anzilla pun kini tampak bersiap-siap di kamarnya untuk menyambut tamu utusan dari Karel Agung. Wanita itu tengah berhias di depan cermin dengan dua dayang setianya.
"Kau mau apa, Halima?" tanya Ratu sambil menjauhkan kepala ketika pelayan yang seusia ibu Zubaidah itu, hendak memakaikan kerudung.
"Ratu, Khalifah sudah berpesan pada saya agar memastikan bahwa kali ini Ratu benar-benar menutupi wajah dan rambut Anda." Halima mengingatkan ratu akan perjanjiannya dengan raja kemarin
"Aku tak mau menuruti perintahnya, lagi pula kerudung ini terlalu besar dan membuatku tak bisa leluasa bergerak, Halima," ujar Anzilla tak peduli. Wanita itu refleks bangkit dan menjauhi Halima.
"Hamba mohon, Ratu, turuti saja perintah Raja. Nanti apa kata orang-orang jika mereka melihat Anda seperti ini? Mereka yang membenci Ratu pasti akan memanfaatkan tingkah aneh Anda belakangan ini. Lebih-lebih Khalifah Harun, dia pasti akan murka dan menghukum kami semua." Halima menatap ratu dengan wajah memelas.
Kalimatnya membuat Anzilla terdiam. 'Benar kata Halima, harusnya aku memikirkan itu dan berhenti bersikap ceroboh, karena ini istana sungguhan Anzilla, bukan game atau film. Di mana semua orang memiliki topeng masing-masing, salah-salah kau akan mati konyol di tiang gantungan. Sabarlah sebentar lagi sampai kau bisa menemukan jalan pulang' batinnya memperingatkan diri sendiri.
Anzilla menatap sang pelayan sejenak. Ada rasa iba memenuhi rongga dada kala membayangkan Halima dihukum oleh raja gara-gara dirinya. Tapi di sisi lain Anzilla benar-benar tak ingin mengenakan hijab panjang tersebut. Tapi kalau dia tak menurut, Raja pasti tak akan pernah memperlihatkan jam itu padanya.
"Ya sudah, kali ini aku akan menuruti maumu. Tapi tidak untuk lain kali," ujar Ratu akhirnya.
Mendengar ucapan itu, Halima tersenyum lebar. "Terima kasih, Yang Mulia," ujarnya, kemudian memakaikan kerudung pada ratu.
"Not bad," ujar Anzilla ketika Halima selesai memakaikan kerudung. Ratu pun bangkit demi bisa melihat pantulan dirinya di dalam cermin secara keseluruhan.
Halima dan Aliyah saling berpandangan karena bingung saat mendengar kalimat yang diucapkan Anzilla dalam bahasa inggris tadi. "Ratu tadi bicara pada kami?" tegur Halima menyuarakan rasa penasaran.
"Ah, tidak, aku hanya sedang mengagumi kemewahan baju kerajaan. Seumur hidup, ini mungkin kali pertama aku memakai baju seperti ini. Kalian lihat lah bordiran emas di setiap sisi gaun dan semua perhiasan ini, benar-benar membuatku merasa seperti toko emas berjalan," ujar Anzilla sambil menunjukan semua kemewahan yang dia pakai.
Mendengar itu, dua dayangnya kembali saling perpandangan. "Kenapa Ratu harus heran? Bukanya sejak Ratu kecil semua kemewahan ini adalah milik Anda?"
Mendengar perkataan Aliyah, Anzilla terdiam, karena sadar ucapannya pasti membuat dua dayangnya kebingungan, lagi-lagi dia asal bicara. Anzilla pun akhirnya menjawab. "Sudahlah, aku hanya bercanda, karena memang baju ini lebih mewah dari biasanya ... oh ya, aku ingin melihat diriku dulu dengan leluasa," ujar Anzilla meralat ucapannya, lalu kembali mengamati pantulan dirinya.
Qamis hitam berlapiskan jubah berwarna senada itu, membalut tubuh Anzilla dengan pas, bordiran berwarna emas menghiasi setiap pinggiran jubah sampai ke belakang menutupi tubuhnya ke bawah. Sebuah kalung emas dengan batu merah delima kecil di tengah, melingkar di lehernya. Pakaian yang Anzilla kenakan saat ini membuatnya tampak sangat berwibawa dan agung. Tak lupa sebuah tiara bertahtakan berlian diletakan oleh Halima di atas kepalanya. Baju kebesaran ratu memang selalu dipakai saat acara-acara penting atau ketika ada tamu kenegaraan.
"Aku ingin tahu, kenapa setiap memakaikan baju atau semua perhiasan ini di tubuhku, kau selalu mengucap bismillah dan beberapa ayat alqur'an, Halima?" Anzilla tak bisa menyembunyikan rasa penasaran, sebab sedari tadi wanita itu tak hentinya membacakan ayat-ayat alqur'an.

KAMU SEDANG MEMBACA
Anzilla dan Sang Khalifah
Historical FictionBest rank : 15 dalam fiksi sejarah. Anzilla Jhonson, wanita Amerika keturunan Yahudi yang begitu benci dengan islam karena cerita turun-temurun di keluarganya. Dia sengaja berkuliah di University Of Bagdad untuk membuktikan kebenaran tentang sejarah...