21
[New Friend; Kevin]***
Kepulan uap panas dari cangkir ber-ornamen klasik serta aroma teh melati berhasil membuat pikiran Elisa sedikit merasa tenang.
Setelah mendengar keseluruhan cerita masa lalunya dari salah satu orang kepercayaan Almer, siapa lagi kalau bukan bibi Mey, seketika membuat kepala cantik wanita itu diliputi rasa pening yang begitu dalam.
Ternyata kehidupan sempurna milik Elizabeth Almora yang begitu kuinginkan itu, dulunya menyimpan masa lalu yang begitu kelam.
Elisa menghembuskan napas gusar. Berusaha meredakan tangis yang terus menerus meronta ingin keluar dari kedua matanya yang telah memerah. Efek karena menangis semalam penuh.
Di culik.
Di lukai.
Bahkan...
Diperkosa.
"Entah kejutan apa lagi yang wanita ini miliki di masa lalunya."
Sudut bibir wanita itu bahkan masih bergetar. Menandakan tangis sesenggukannya sejak semalam itu masih tak kunjung hilang. Menyadari betapa menyedihkannya kehidupan Elizabeth Almora semasa kecil itu.
"Wanita ini bahkan sudah tak suci lagi. Kesuciannya direnggut secara paksa oleh seorang psikopat gila yang begitu terobsesi padanya. Bahkan dulu ia masih begitu kecil."
Lagi-lagi setetes air mata jatuh membasahi pipi pucat miliknya. Tubuh kecil milik wanita itu bergetar. Menandakan seberapa buruk masa lalunya yang begitu berbanding terbalik dengan sosok Elizabeth Almora di masa kini.
"Pantas saja Elizabeth Almora tumbuh menjadi wanita angkuh yang tak mengenal belas kasih. Ia berusaha keras menutupi perasaan hina yang bahkan tak ia ketahui penyebabnya. Sungguh malang nasib wanita ini."
Batin Elisa terus menerus bermonolog. Tatapan matanya begitu sendu. Menandakan perasaannya yang berkecamuk kian dalam.
Kini wanita itu mengerti. Berada di posisi seorang Elizabeth Almora tidaklah mudah. Walaupun ia melupakan hampir seluruh kenangan masa kecilnya, termasuk insiden penculikan dan kenangannya bersama Almer, perasaannya tak pernah tenang.
Bagi seorang wanita yang tumbuh di keluarga yang begitu menyayangi dan memperhatikan eksistensinya, perasaan bersalah karena telah gagal menjaga harkat dan martabatnya membuat Elizabeth tumbuh menjadi sosok antagonis dalam cerita ini. Intuisi wanita tak pernah salah. Dan memang itulah yang Elizabeth rasakan.
"Siapa yang tak akan berubah menjadi jahat, saat tunangannya tiba-tiba memutuskan hubungan sepihak hanya karena wanita lain?"
Jika itu adalah dirinya, tentu saja Elisa akan melakukan semua hal yang Elizabeth lakukan didalam novel sialan itu.
Kini, Elisa telah sepenuhnya memiliki raga seorang Elizabeth Almora. Ia jadi mengetahui betapa kosong perasaan wanita itu selama ini. Tumbuh dewasa dan melupakan peristiwa menyakitkan paling penting dalam hidup adalah definisi dari mimpi buruk itu sendiri.
Dan selama ini, Elizabeth hidup dalam sebuah rintangan tak kasat mata bagai labirin berkelok-kelok yang berjudul a deep nightmare.
Perasaan kosong yang mengindikasikan bahwa ia adalah wanita suci yang begitu menjaga tubuh dan hatinya untuk calon suaminya kelak, ternyata jauh sebelum itu, tubuhnya sudah dijamah oleh laki-laki lain tanpa seizinnya.
Tentu saja perasaan kosong itu kian menjadi-jadi, kala ia dihadapkan pada sebuah cobaan baru bahwa tunangannya meninggalkan dirinya hanya karena wanita lain yang tentu saja tak begitu baik darinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect Obsession (Tamat)
RomantizmJika orang lain menganggap obsesi adalah hal negatif, maka jauh berbeda untuk Almer. Ia terobsesi dengan Elisa. Dan melalui cerita ini, akan ia tunjukkan sebuah obsesi baru yang penuh cinta dan ketulusan. _____ Elisa Jasmine selalu berharap bahwa ke...