Jangan lupa bahagia!
Tetap jaga iman dan imun✨Happy Reading!
***
"Naya."
Naya menoleh setelah panggilan itu. Sosok lelaki di depannya membuatnya terkejut, sudah lama tak bertemu. Lelaki dengan senyuman hangat mendekati Naya yang tengah memandang heran.
"Kaget, ya?"
"Kenapa lo di sini, Dev?"
"Seorang Devan Fadgham pasti tahu harus ke mana cari lo, meskipun baru kali ini kita ngobrol lagi sejak 7 tahun lalu." Devan duduk di kursi berdekatan dengan kursi roda Naya.
"Maaf."
"Soal lo mutusin gue? Apa soal terima gue jadi pacar lo karena kasihan sama gue?" tanyanya terkekeh.
"Untuk keduanya, Dev. Gue tahu tindakan gue dulu nyakitin lo banget. Maafin gue, ya."
Devan tersenyum. "Gue udah maafin lo. Kalau gue egois, gue nggak bakal biarin lo ngejauhin gue. Gue cinta sama lo tulus, gue mau jaga lo bukan buat lo tersakiti."
"Lo masih cinta sama gue?" Naya benar-benar terkejut.
"Dari dulu sampai sekarang, Nay, tapi lo tenang aja gue tahu kok lo udah nikah dan gue percaya Raga sosok suami yang baik buat lo. Bukan kayak gue yang brengsek."
"Raga emang baik, Dev, tapi gue udah nyakitin dia."
Naya menunduk, teringat pertengkaran mereka tadi malam. Rasanya sesak karena menyadari sudah menyakiti Raga terlalu dalam. Sedih dengan sikapnya sendiri.
"Lo nyakitin dia gimana?"
"Gue minta dia lepasin gue karena gue nggak mau jadi beban dia seumur hidupnya. Tapi Raga tetap mempertahankan gue meskipun sikap gue udah kelewatan batas."
Devan mengembuskan napas. "Nay, Raga nggak pernah nganggap lo beban. Waktu lo sakit dia selalu datang tiap hari ke rumah sakit. Pas lo keluar dari rumah sakit, Raga juga langsung ngelamar lo kan."
"Eh, tunggu--bentar. Kok lo tahu?"
"Gue selalu mantau lo dari kejauhan. Setelah gue tahu lo nikah sama Raga, gue bersyukur karena Raga bisa lupain Amelia."
"Eh?" Naya terkejut. "Lo mantau gue sejak kapan? Terus kok lo kenal sama Amelia?"
"Gue mantau lo sejak kita putus haha. Gue kenal Amelia karena dia pernah jadi istri gue. Sejak itu, gue merasa sedikit bersalah dengan Raga."
"Hah! Jadi, lo itu pebinor di hubungan Amel sama Raga?"
"Amelnya aja yang murahan mau sama gue. Padahal dia udah tahu gue sebrengsek apa." Devan tertawa kecil.
"Lo bukan Devan yang gue kenal dulu."
"Sejak lo putusin gue, gue ngelampiasin rasa sakit hati gue dengan macarin banyak cewek. Ternyata, nggak ada yang bisa buat gue sejatuh cinta itu, Nay. Andaikan gue egois, gue bakalan nggak akan mau nikah kalau bukan sama lo, tapi gue sadar kalau lo berhak bahagia dengan pilihan lo."
"Dev, lo nggak marah sama gue?" Naya memandang Devan sendu, ia semakin merasa bersalah.
"Gue nggak pernah bisa marah sama orang yang gue cintai, Naya."
"Tapi, ...."
"Sssuut, diem jangan bahas itu. Gue udah maafin lo dan nggak marah sama lo. Sekarang lo harus bisa baikan sama Raga, Nay. Gue yakin, Raga nggak bakal lepasin lo kok dan tenang gue nggak bakalan jadi pebinor di hubungan kalian."

KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Hati Braga (END)
RomanceBraga Pratama Athaya tenggelam dalam jurang patah hati setelah hubungannya dengan Amelia Syakira kandas. Perasaan yang hancur membuatnya mengidap gangguan kecemasan. Di tengah kekelaman itu, hadir sosok Naya Ayura Ningtyas, seorang wanita yang memb...