14 Aku Ingin Menciummu Rama!

2.7K 70 32
                                    


Di kelas 3D, Dewo, dengan postur tegap yang mencerminkan kepercayaan diri yang baru ia temukan, duduk di bangku pojok kelas yang terasa seperti singgasananya. Lembaran soal ujian sejarah di tangan Dewo kini bukan lagi sebuah ancaman, melainkan menjadi saksi perjalanan dirinya menuju pemahaman dan pertumbuhan. Mata Dewo yang tajam menatap lembaran itu, seolah melihat refleksi perubahan dirinya sendiri.

Di dalam hatinya, ada kebanggaan yang menyala, sebuah kebanggaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Senyum tipisnya menggambarkan kepuasan yang mendalam, sebuah perasaan yang begitu asing namun menyenangkan. "Aku mampu," bisiknya, penuh keyakinan. Setiap jawaban yang ia tuliskan, seakan menjadi bukti atas kemajuan yang telah ia capai.

Memori tentang Rama menyelinap dalam setiap jawaban pilihan ganda dan isian singkat yang ia tulis. Dewo merasakan kehadiran Rama di sampingnya, seakan pelatih yang sabar dan pengertian, membimbingnya melalui setiap tantangan.

Ketika tiba pada soal essay, jantung Dewo berdetak lebih kencang. Ia ingat betul nasihat Rama, yang selalu mengatakan, "Esai itu harus keluar dari hati, Bang. Tulislah apa yang kau rasakan, bukan sekadar apa yang kau baca." Dewo mengambil napas dalam dan membiarkan pikirannya mengalir secara bebas dan alami.

"Soal: 'Bagaimana peran minoritas dalam membentuk identitas nasional Indonesia dan bagaimana mereka memperkuat keragaman?'" Dewo membacanya dengan suara yang rendah, penuh perenungan.

Dengan cara yang hanya bisa ia lakukan, Dewo mulai menulis jawabannya, sederhana namun penuh makna: "Minoritas itu kayak bumbu di nasi goreng. Tanpa bumbu, nasi gorengnya nggak lengkap. Jadi, minoritas penting untuk membuat Indonesia lebih 'lezat'. Mereka kayak cabai, terasi, bawang, yang memberikan keunikan rasa. Beda-beda tapi membuat satu makanan menjadi sempurna."

Dewo merasa kata-katanya mengalir dari tempat yang paling dalam dalam hatinya, sebuah kejujuran yang sederhana tapi penuh arti. "Perbedaan itu penting, sebab dari situ kita belajar. Di sekolah aja, kita semua beda. Ada yang jago olahraga, ada yang pinter matematika. Beda, tapi kalau kita gabung, kita jadi lebih kuat."

Selesai menulis esainya, Dewo merasa sebuah kelegaan dan kebanggaan yang luar biasa. Ia tahu jawabannya mungkin bukan yang paling cemerlang secara akademis, tapi itu adalah pendapatnya, pendapat Dewo yang tulus dan asli.

Sementara itu Rama duduk tegak di bangku kelas 1A, menatap tajam ke soal ujian Sosiologi di tangannya. Dengan semangat pemuda yang ingin melawan ketidakadilan, ia membaca soal yang menantang: "Bagaimana stigma dan prasangka terhadap kelompok minoritas mempengaruhi struktur sosial di Indonesia? Berikan contoh dan saran solusi."

Dengan rasa marah yang tulus, Rama mulai menulis: "Gini, masalah gede di Indonesia itu bukan orang LGBT, tapi homophobia yang dimana-mana. Kita punya masalah serius sama orang-orang yang pake agama buat nyebarin benci. Mereka yang sok suci itu malah bikin masalah sosial makin parah."

Dengan gaya bahasa yang langsung dan emosional, Rama terus menulis, "Kita harus berani ngomongin dan nantangin pemimpin-pemimpin yang nyebarin homophobia. Edukasi tentang toleransi dan keragaman itu penting banget, dan harus dimulai dari sekolah-sekolah, bukan cuma ngomong doang."

Rama tambah semangat, "Kita perlu perubahan dari akar rumput. Media, pendidikan, semuanya harus ikut andil ngubah cara pandang masyarakat. Kita butuh gerakan bersama buat sadarin orang tentang pentingnya keragaman seksual dan hormatin hak asasi manusia."

Dia menutup esainya dengan seruan aksi, "Indonesia kan dikenal dengan keberagamannya, masa iya kita biarin homophobia jadi norma? Saatnya kita semua berdiri bareng melawan homophobia. Indonesia harusnya jadi tempat dimana cinta dan penerimaan jadi dasar hubungan antar manusia, bukan ketakutan dan kebencian."

PENTIL DEWOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang