16 Ayo, Dek! Pukul Abang lebih keras lagi!

3.2K 69 4
                                    


Author's Note: Teman! Aku rewrite chapter yang baru saja kemarin publish. Mengapa? 

Aku merasa alurnya terlalu cepat, seperti nonton film aksi tanpa jeda iklan. Jadi, dengan semangat perbaikan (dan sedikit rasa bersalah), Aku putuskan untuk rewrite chapter tersebut. Mohon pengertiannya, ya. Dan jangan khawatir, versi baru ini dijamin lebih nikmat .

Jadi, mohon maaf atas kebingungan ini, dan terima kasih atas kesabaran Anda. 


Dewo kemudian mengambil keputusan yang berani - ia mengangkat Rama dengan satu lengan, memeluknya erat sambil melanjutkan pertarungan. Gerakannya kini menjadi lebih lincah dan taktis, mengkombinasikan kecepatan dan kekuatan untuk melindungi Rama sekaligus menyerang lawan. Rama, yang berada dalam pelukan Dewo, merasakan perlindungan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tubuh Dewo yang kekar mengelilinginya, memberikan rasa aman di tengah kekacauan. 

Di sekitar mereka, para siswa menyaksikan dengan napas yang tertahan, seolah-olah mereka sedang menyaksikan adegan dari film aksi yang penuh ketegangan.

Gondrong, dengan gerakan licik, mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya dan menyerahkannya kepada Jamal. Rama, yang berdiri di dekatnya, merasa darahnya membeku saat melihat senjata tajam itu.

"Hei! Itu keterlaluan!!" teriak Rama, suaranya mencerminkan rasa takut dan kepanikan yang mendalam. "Itu pisau!" Seketika, bisikan dan desas-desus mulai terdengar di antara para siswa, membuat suasana semakin tegang.

Mata para siswa terpaku pada pisau lipat yang dipegang Jamal, dan suasana berubah menjadi penuh kekhawatiran. Mereka berkerumun, tapi tetap menjaga jarak.

Jamal, dengan pisau lipat yang mengkilap, mencoba menguasai situasi. "Gue cuma ingin menorehkan sedikit di wajah Neng Rama yang cantik," ucapnya dengan nada meremehkan, menyeringai sinis.

Dewo, yang berdiri kokoh di antara Rama dan Jamal, menyimpan ketegangan yang siap meledak kapan saja. Otot-ototnya yang terbentuk sempurna di bawah seragam SMA yang ketat itu menegang, siap untuk pertarungan. "Jangan berani-berani menyentuh Rama," ucapnya, suaranya rendah tapi penuh dengan kekuatan yang tidak terbantahkan.

Tiba-tiba, dengan gerakan yang secepat kilat, Dewo menangkap tangan salah satu anak buah Jamal yang mencoba menyerang dari belakang, memutar pergelangan tangannya hingga terdengar suara 'krek!' yang memuaskan. Anak buah itu jatuh, merintih kesakitan.

Namun, dalam momen konsentrasi pada anak buah itu, Jamal berhasil melancarkan serangan licik. Pisau lipatnya mendarat di lengan Dewo, meninggalkan luka sayatan yang dalam. Darah merah mengalir, membasahi seragam SMA Dewo yang kini robek. Rama menjerit, terkejut dan ketakutan.

"Bang! Di belakang!" teriak Rama. 

Dewo, mendengar aba-aba Rama, segera menoleh dan melihat dua anak buah Jamal yang mencoba menyerang dari belakang. Dengan gerakan cepat, ia menangkis serangan mereka, gerakannya secepat kilat, masing-masing pukulan dan tendangannya tepat sasaran. 

Anak buah pertama melancarkan pukulan, namun Dewo dengan mudah menghindar dan membalas dengan tendangan yang kuat ke perut lawan. Anak buah kedua mencoba menyerang dengan sebuah tongkat, tetapi Dewo menangkapnya dan mematahkannya dengan satu tangan, lalu dengan gerakan cepat, ia memberikan pukulan keras ke wajah lawan, membuatnya tersungkur.

Dalam sekejap, kedua anak buah Jamal telah dikalahkan. Dewo, dengan napas yang teratur, mempersiapkan diri untuk melawan Jamal yang sudah bangkit lagi. Wajahnya tetap tenang dan fokus, seolah-olah setiap serangan yang datang adalah tantangan yang harus dihadapi dengan penuh keberanian..

PENTIL DEWOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang