Jimin bertekad mencari manusia yang sudah menghancurkan hidupnya lima belas tahun yang lalu. Hingga akhirnya ia membangun sebuah firma hukum dibantu oleh Hae Mi dan teman-temannya.
Siapa sangka di tengah pencarian itu Jimin justru bertemu dengan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Jimin terus memperhatikan istrinya dari meja pantry. Satu piring pasta sebenarnya sudah siap sejak tadi tapi Jimin masih enggan memberikannya. Ia lebih memilih memperhatikan Lya, -istrinya.
Lilyana,
Wanita itu sedang beradaptasi sejak Jimin memanggilnya dengan satu nama yang sudah ia lupakan begitu lama.
Lya, duduk termenung dengan pandangan yang entah sedang menatap apa. Mimpi semalam masih belum ia ceritakan, hanya sesekali terisak saat ingatannya kembali.
Wanita itu tidak sekuat yang Jimin bayangkan. Saat pertama kali mereka bertemu, Lya yang nampak tegas dan berani nyatanya adalah wanita yang mudah menangis. Wanita yang terpuruk dengan semua cerita yang ia alami.
"Sayang, makan dulu ya?" Jimin sudah duduk di samping istrinya. "Kita bisa bermain sky kalau kau mau."
Ajakan Jimin sepertinya mampu menarik seluruh atensi Lya jadi dengan cepat ia menoleh. "Sky?" Jimin mengangguk. "Kau mau?"
Lya mengangguk tak kalah semangat. "Aku mau." Lalu pandangannya beralih pada piring yang Jimin bawa, "Ini untukku?"
Jimin tidak menyerahkan piringnya tapi ia menggulung pasta dengan garpu lalu menyuapkannya pada Lya.
"Aku membeli bahan-bahannya saat kau masih tertidur jadi maaf aku tidak tau kesukaanmu apa," kata Jimin sambil memberikan suapan kedua.
"Aku suka pasta yang saosnya pedas dengan campuran udang oppa," sahut Lya.
Jimin mengangguk, "Nanti aku buatkan lagi seperti kesukaanmu." Lya tersenyum lalu mengangguk dan menelan makanannya dengan semangat.
Untuk sesaat gelisah itu hilang, digantikan dengan senyuman yang kata Jimin adalah senyuman paling manis sedunia.
Wanita muda itu sudah menempati seluruh hati Jimin entah bagaimana caranya. Hanya dengan melihatnya tersenyum saja Jimin sudah suka.
Tujuan Jimin kini bertambah, selain menemukan pembunuh keluarganya, Jimin juga ingin menyembuhkan luka istrinya serta mengembalikan ingatan masa lalunya.
Sekarang, jarak keduanya perlahan terkikis. Lya yang awalnya bersikap dingin juga mulai mencair. Sikapnya sedikit lebih manis dan hangat, membuat Jimin percaya bahwa hubungan yang awalnya sepihak ini akan berhasil.
Jadi, dengan penuh percaya diri waktu yang tersisa beberapa hari di sini Jimin gunakan sebaik mungkin. Memanjakan Lya adalah salah satunya.
"Hati-hati sayang, tidak boleh terlalu cepat, kalau jatuh kita berhenti."
"Bagaimana bisa tidak boleh jatuh oppa?" protes Lya dengan kedua alisnya yang hampir menyatu.
"Ya pokoknya hati-hati," kata Jimin sambil memasangkan sepatu di kaki istrinya. "Tidak boleh cepat-cepat."