FOLLOW DULU SEBELUM BACA !!!
⚠️IDE ITU SANGAT MAHAL!⚠️
⚠️DILARANG PLAGIAT!!!⚠️
"Nak, apakah engkau bersedia jika Abi menikahkanmu dengan putra kami ini?" ujar Kiai Fatih serius sambil menatap Khanza sekilas.
DEGH!
'Ya Allah apakah ini episode sel...
Jangan mengeluh atas apa yang sudah menjadi takdirmu, bukankah Allah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan? Itu artinya, segala kekurangan pasti ada kelebihan. Jadi... Jangan mudah terpengaruh untuk insecure.
-Zhafi Abyan Falah
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Pagi ini Gus Zhafi dan juga Khanza akan pergi ke pesantren. Mereka berdua sudah bersiap-siap setelah selesai sarapan tadi.
"Mas. Ayo berangkat, aku udah siap nih." Ujar Khanza seraya memperlihatkan dirinya yang telah siap sedari tadi.
"Semangat banget," jawab Gus Zhafi yang melihat Khanza begitu semangat.
"Iya dong, kan bentar lagi aku mau ketemu sama ummi. Aku udah gak sabar buat ketemu sama ummi, udah kangen benget soalnya," ujar Khanza sambil tersenyum.
Gus Zhafi dibuat melongo oleh perkataan istrinya. Apa-apaan ini, padahal baru kemaren ia membawa istrinya pindah rumah, eh sekarang dia malah bilang kangen banget sama orang tuanya itu, seperti sudah dipisahkan bertahun-tahun saja pikirnya.
"Kita baru kemaren loh pindah ke sini, masak kamu sudah kangen saja sama ummi," ujar Gus Zhafi.
"Ya, apa salahnya kan Mas? Emang aku beneran kangen kok," jawab Khanza tak mau kalah.
Gus Zhafi menggelengkan kepalanya, "Ya udah, terserah kamu aja."
"Kok terserah aku sih Mas? Maksud kamu apasih?" Sungut Khanza.
Gus Zhafi dibuat bingung lagi oleh sikap istrinya, dan sekarang Gus Zhafi sudah tau bahwa sifat perempuan yang sulit untuk di mengerti itu memang benar-benar ada nyatanya.
"Mas. Kok malah melamun sih?" Tanya Khanza melihat Gus Zhafi yang tak menanggapi ucapanyya tadi.
"Eeh iya, kamu bilang apa?" Tanya balik Gus Zhafi.
"Tuh kan, kamu malah gak ngedengerin pembicaraan aku tadi," ujar Khanza bersungut-sungut.
Gus Zhafi menangkup kedua pipi istrinya. "Maaf ya Sayang, bukannya aku sengaja gak mau ngedengerin kamu bicara, tapi memang aku bener gak denger pembicaraanmu tadi."