19 B...Bang Dewo... Aku... AkhH!!!

4.2K 85 4
                                    

Dalam ruang UKS yang seharusnya kosong itu, Rama dan Dewo menahan napas, berbaring di ranjang darurat yang keras, dengan hati yang berdebar kencang.

Rama merasakan setiap detak jantung Dewo di bawahnya.

'Hancurlah hidupku!' pikir Dewo.

Ketegangan di ruangan itu begitu pekat, hingga setiap hembusan napas terasa seperti berisiko menarik perhatian yang tidak diinginkan.

Di luar ruangan, suara Pak Mario terdengar semakin dekat, membuat Rama dan Dewo keringat dingin. Rama mencoba memfokuskan pendengarannya, berusaha menangkap setiap kata yang diucapkan Pak Mario, namun bisikan yang samar membuatnya tidak bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Pak Mario, dengan langkah pasti, memasuki ruangan UKS. Ia langsung merasa ada sesuatu yang janggal, ruangan itu memang kosong, namun jendelanya terbuka lebar. Matanya menyapu setiap sudut, mencari tanda-tanda keberadaan siswa yang mungkin bersembunyi.

Rama dan Dewo, yang bersembunyi di lantai di luar jendela, merasa jantung mereka hampir berhenti. Mereka berdua berdoa dalam hati, berharap Pak Mario tidak menemukan mereka.

Saat Pak Mario mendekati jendela, Rama dan Dewo menahan napas mereka, berharap tidak terlihat. Mereka bisa mendengar langkah kaki Pak Mario mendekat, dan detak jantung mereka semakin kencang.

Dewo memejamkan mata erat dan mulai berdoa.

Namun, setelah beberapa saat yang menegangkan, mereka mendengar suara Pak Mario yang mulai menjauh. Mereka berdua menghela napas lega.

'Ngentot! Bahaya! Ampir aja!' pikir Dewo.

Rama sambil menenangkan nafas mengangkat kepalanya dari dada Dewo. melihat sekeliling, menemukan diri mereka bersembunyi di sebuah taman sekolah yang kecil namun rindang. 

Taman itu memberikan perlindungan yang sempurna, dengan daun-daun yang lebat dan pohon-pohon yang menjulang tinggi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Taman itu memberikan perlindungan yang sempurna, dengan daun-daun yang lebat dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Salah satu pohon yang menonjol adalah pohon Mahoni, dengan daun-daunnya yang lebar dan cabang-cabangnya yang meliuk-liuk, seperti tarian alam yang menyediakan naungan dan privasi. Cahaya matahari yang tembus melalui daun-daunnya menciptakan pola cahaya dan bayangan yang menari di tanah, memberikan suasana yang magis.

Rama, menegakkan posisinya kembali menduduki dada Dewo, sesekali melirik sekeliling dengan hati yang berdebar kencang. Di satu sisi, ia merasa gugup dengan situasi mereka yang berbahaya, namun di sisi lain, birahinya tidak bisa dibendung.

'Oh Rama, kamu sudah kehilangan akal sehatmu!' Rama membatin.

Rama, dengan keberanian yang didorong oleh birahi yang tak tertahankan, mengarahkan kontolnya yang tegang ke arah Dewo yang terbaring di bawahnya.

'Apa-apaan ini, apakah Rama sudah gila!' pikir Dewo.

Mata Dewo terbelalak, ototnya menengang, namun rahangnya yang kokoh yang tertutup rapat dengan gemetar mulai membuka.

PENTIL DEWOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang