[UPDATE SESUAI TARGET!]
.
"Kakak gue yang bikin lo bunting, kenapa gue yang harus nikahin?" - Erwin.
*****
Hidup seorang ketua genk motor yang diidolakan banyak gadis, tak semulus kelihatannya. Sifat dingin dan cuek Erwin bukan tanpa alasan, ada ban...
Reaksi Erwin membuat Thalita dongkol. Dia langsung mengambil sapu tangan dan kantung keresek untuk membersihkannya sendiri.
Erwin bisa mengerti gerak-gerik Thalita yang masih marah karena pertengkaran semalam.
"Jangan, Sayang, biar Erwin aja, nanti tangan kamu luka," cegah Tari.
"Aku nggak mau ngerepotin Erwin, Ma."
Hening. Jawaban Thalita menunjukkan segalanya. Tari langsung paham situasi dingin ini.
Erwin menyahut sapu tangan yang dipegang Thalita.
"Win, balikin!" Thalita memekik, memandang Erwin kesal. Dia berusaha merebutnya kembali, namun dicegah oleh cowok itu.
"Minggir," usir Erwin memaksa.
"Biar gue aja!"
"Nggak!"
"Gue yang mecahin, gue harus tanggung jawab!"
"Lo tahu apa soal tanggung jawab?"
Thalita bungkam. Pertanyaan Erwin membuat dadanya sesak. Mereka kini hanya saling melempar pandangan tajam.
Tari merasa tak nyaman melihat pertengkaran anak dan menantunya. Dia segera pamit, tak ingin ikut campur.
Thalita melangkah mundur, membiarkan Erwin membersihkan pecahan gelas di lantai. Melihat Erwin, gadis berbadan dua itu seketika merasa bersalah.
Erwin benar, Thalita tak tahu apa-apa soal tanggung jawab.
***
Erwin panik setelah mendengar kabar bahwa teman-temannya akan datang ke rumah untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-18. Bukan pertama kali, tahun lalu Erwin juga berpesta dengan teman satu genknya di rumah sampai pagi. Tapi, kali ini beda.
"Lo harus pindah!" seru Erwin pada Thalita yang belum tahu apa-apa.
"Pindah ke mana?"
"Pulang dulu kek ke rumah orang tua lo!" jawab Erwin asal. "Bentar aja."
"Kenapa?" Thalita semakin kebingungan. "Bukannya besok ulang tahun lo?"