Sebuah kelemahan, sebuah obsesi, dan sebuah hubungan yang tak terduga. Rama, seorang remaja gay cerdas dengan fetish yang spesifik-tubuh berotot-mengincar Dewo, remaja macho dan berotot. Tapi ada satu rahasia yang Dewo simpan, sebuah kelemahan yang...
Dalam keheningan yang tiba-tiba menyelimuti ruangan, Ario dan Dewo terperangkap dalam momen yang tak terbayangkan. Ario, dengan otot-ototnya yang menegang dan nafas yang terengah-engah, memandang Dewo yang terlentang di lantai. Rama, meski tubuhnya lebih kurus, kini mendominasi Dewo dalam posisi yang begitu menantang. Kontol Rama masih tertancap dalam dubur Dewo, seolah menjadi segel dominasi yang tak terbantahkan.
Dewo, dengan mata terbelalak dan nafas tercekat, menatap ke arah ayahnya. Ario, yang tubuhnya berotot dan kekar, tengkurap di permukaan island dapur, di bawah kendali Andara yang mencabik-cabik celananya dengan penuh nafsu.
Kontol kedua binaragawan itu, tegang dan keras, bersiap untuk meledak, layaknya bom waktu.
Otak sederhana mereka konslet, tak mampu memproses situasi ini, hanya ada satu dorongan yang menerobos ke permukaan: LARI.
Sebelum Ario sempat bergerak, Andara, dengan kecepatan dan ketegasan yang mengejutkan, mencengkeram putingnya. "Tunggu, kalian harus bicara!" katanya, suaranya tegas namun penuh kasih sayang, menghentikan Ario seketika.
Dewo, dalam kepanikan yang sama, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Rama. Namun Rama, dengan gerakan yang cepat dan lincah, mencengkeram puting Dewo, menghentikan upaya pelariannya.
Dalam perjuangan yang sia-sia, Ario dan Dewo, keduanya terperangkap dalam cengkeraman kasih sayang Andara dan Rama. Tubuh mereka yang berotot dan kuat, kini pasrah di bawah kendali yang lembut namun kuat dari pasangan mereka.
Rama menatap Andara "J..jadi, Mama sama Om Ario??" tanyanya dengan nada bingung.
"Ya, Rama. Nanti Mama jelaskan semuanya. Sekarang bantu Mama iket mereka yuk, biar gak kabur," jawab Andara dengan nada yang menenangkan namun tegas. Rama, meski masih penuh tanya, mengikuti instruksi ibunya dengan jantung berdebar dan kontol berdenyut.
Andara, dengan ketelitian seorang maestro shibari, memulai proses mengikat Ario, sementara Rama, masih belajar, mengamati dan membantu sebagai asisten.
"Ram, Kita iketin pake 'Takate Kote' ya," jelas Andara sambil menunjukkan tali di tangannya. "Ini akan memastikan lengan mereka terikat erat di belakang."
Andara dan Rama mulai mengikat Ario dan Dewo dengan teknik shibari yang rumit. Andara, sebagai seorang ahli, memimpin prosesnya, sementara Rama membantu dengan cermat.
"Sabar, Yo. Ini untuk kebaikanmu juga," ucap Andara dengan suara yang tenang namun tegas saat ia mulai mengikat lengan Ario di belakangnya dengan erat. Tali itu dibawa melintasi dada perkasanya, satu tali tepat di bawah otot dadanya, satu lagi di tengahnya, lalu secara diagonal dalam bentuk X. Teknik ini bukan hanya mengekang, tapi juga memamerkan keindahan tubuh Ario yang berotot dan kekar.
Sementara itu, Rama, dengan perhatian penuh, membantu Andara. Ia mengamati setiap simpul yang dibuat ibunya, memastikan bahwa tali terikat dengan kuat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.