(— an interconnect to The School of Eden)
"Dunia ini bukan milikmu saja.,"
Minggu, 13 Agustus 2023
Pukul 16.36Penjara Pusat Samut Prakan
333 Moo 5 Jalan Sukhumvit, Khlong Dan,
Distrik Bang Bo, Samut Prakan
Kebahagiaan yang dimulai di awal bulan Juli lalu, ketika semua yang membaik semakin baik dan semakin indah, berakhir pada 4 Agustus 2023. Tepat pada hari ulang tahun Dunk yang ke dua puluh lima, hari itu terakhir kali melihat ia sekretarisnya hidup. Force Jiratchapong Srisang ditemukan tewas di toilet di dalam kamarnya dalam keadaam tenggelam dengan keretakan di kepalanya. Pelaku masih dalam penyelidikan hingga saat ini.
Hal ini merubah suasana nyaris dalam segala waktu dalam hari - hari Dunk setelahnya. Ia tak sekalipun tersenyum. Kulitnya berangsur pucat, wajahnya semakin tirus. Ia hanya terus berada di ruang kerjanya tanpa mengerti apa yang sedang dilakukannya. Semua perkataan Mr. Force semasa ia hidup terus berulang di dalam otak Dunk. Terutama kalimat "sepertinya pelaku kali ini bukan manusia biasa.,". Dunk menghabiskan setengah waktu tidurnya untuk memikirkan kalimat itu. Berakhir ia meragukan jika mungkin kalimat itu ada benarnya. Ia mulai meragukan jika Thanawat Ruttapanakul terdiagnosa skizofrenia.
Dan siapa yang membunuh Mr. Force? Bukankah harusnya semua sudah selesai saat Thanawat Ruttapanakul tertangkap? Laki - laki itu juga sudah mengakui semua perbuatan kejinya. Atau ternyata bukan dia pelaku sebenarnya? Apa mungkin Dunk melewatkan sesuatu?
Pertanyaannya bertambah banyak ketika hari cukup mendung pada tanggal dua belas, satu buah paket surat datang ke kantornya. Paket itu berisi beberapa lembar foto lama, potret - potret momen yang terjadi beberapa tahun silam. Ada beberapa pemuda terekam di sana. Pada amplop pembungkus paket itu, tertulis,
"Foto - foto ini ditemukan di meja kerja pribadi Force J. Srisang. "
Siapa pemuda - pemuda di foto ini? Apa kaitannya dengan Mr. Force?
Satu foto lagi tersisa di dalam amplop. Ukurannya lebih kecil dari foto lain. Di sana ada satu perempuan menggendong bayi dengan selimut putih. Perempuan itu duduk, kelihatan bahagia. Seolah ia baru saja melahirkan putra pertamanya. Tebakan ini membuat Dunk menyadari bahwa wanita itu terlihat seperti Juntapich Kamolkirilak dengan versi lebih muda. Dan jika benar, bayi itu pastilah Adello Nuttapong Srisang, putranya dengan Mr.Force. Pendapat ini didukung dengan catatan kaki di balik foto bertuliskan,
Ny. Juntapich Kamolkirilak
4401, Penjara Pusat Samut Prakan
Hati Dunk dipenuhi keraguan. Ia tidak bisa membiarkan dirinya tanpa jawaban. Maka dengan sigap ia bangkit, meraih mantel hitamnya, turun dari ruang kerja menuju garasi, menyiapkan mobil. Lima menit kemudian, ia sudah melaju pergi keluar dari daerah Phrom Phong, menyusuri Bangna Utara, kemudian berbelok ke Samut Prakan. Satu jam kemudian ia tiba di Penjara Pusat Samut Prakan, mengisi buku tamu, memanggil keluar satu tahanan yang ingin ia temui.
Setidaknya setelah ia duduk di kursi selama lima menit menghadap kaca yang menjadi batasnya dengan narapidana, seorang wanita paruh baya datang. Angka 4401 tertulis di atas dada kanannya. Wanita itu duduk di hadapan Dunk. Tersenyum lemah.
"Aku ikut merasa bahagia kau tumbuh dengan baik, Nak.," ucap wanita itu. Ia kelihatan ramah, atau sedang berusaha ramah karena berhadapan dengan Dunk. "Sudah lama setelah hari itu. Aku merasa bersalah, tapi aku rasa aku tidak perlu minta maaf. Aku tau aku sudah terlambat."

KAMU SEDANG MEMBACA
HOLD ME TIGHT a joongdunk alternative universe
FanfictionDunk tidak pernah berniat kembali ke Bangkok setelah ia tinggal dengan nyaman di Cambridge. Ia punya flat yang sudah lunas, pekerjaan yang menyenangkan, aman, tenteram, dan teman baik yang akrab. Namun pada pukul tiga pagi di hari Jum'at, keputusan...