Hari demi hari terlewati dengan penuh suka dan duka. Sudah satu bulan berlalu semenjak hal itu terjadi. Usia kandungan Renjun kini menginjak sebelas minggu. Tentu saja dengan perut yang semakin membesar.Perlahan semuanya kembali membaik, Renjun mencoba untuk bangkit dari keterpurukannya meski perih yang dirasakan tak dapat hilang, hanya sekedar menyaru dimakan waktu. Selama apa pun waktu bergulir, semua luka yang dirasakan akan terus berbekas di hatinya.
Malam itu, mobil sedan milik Jaehyun memasuki halaman rumah. Jaehyun turun dari dalam mobil dengan menenteng jas dan tas kerjanya usai memarkirkan mobil. Kakinya melangkah memasuki rumah yang sangat sepi dan sunyi. Lampu di ruang tamu dan dapur, semua sudah padam, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di rumah ini. Jaehyun tak heran sebab saat ini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.
Jaehyun bawa kakinya menaiki tangga menuju kamar yang berada di lantai dua. Pintu kamar itu dibuka pelan tanpa suara hingga netranya mendapati punggung mungil Renjun di atas ranjang yang sedang tertidur. Jaehyun pulang larut hari ini bukan tanpa sebab, melainkan ada urusan di kantor yang harus dikerjakan.
Dengan hati-hati, Jaehyun masuk ke dalam kamar dan meletakkan tas di atas meja juga jas ke keranjang baju kotor yang berada di pojok kamar. Setibanya di hadapan cermin, Jaehyun lepas dasi yang mencekik lehernya seraya membuka satu per satu kancing kemeja yang dikenakannya.
"Jae?" panggil Renjun serak sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Calon ibu itu tiba-tiba saja terbangun, hidungnya yang sensitif mencium aroma parfume Jaehyun yang menguar di kamar ini.
"Hm?" Jaehyun hanya menoleh melihat Renjun kini mengusap kedua matanya dengan muka khas bangun tidur.
"Baru pulang?"
Jaehyun mengangguk lalu menghadap Renjun dengan kemeja yang sudah ditanggalkan. "Aku ingin mandi."
"Aku siapkan air hangat, ya?" tawar Renjun seraya menyibak selimutnya, membawa tubuhnya beranjak dari atas ranjang.
"Tidak perlu, tidak apa." Jaehyun menghampiri Renjun yang hendak menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar, mencekal tangan Renjun hingga sang empu berbalik badan dengan kedua netra mereka yang saling bersirobok.
"Tidur lagi saja dan istirahat. Jangan sampai kelelahan," ujar Jaehyun mengingatkan. Bukannya terlalu berlebihan atau apa, hanya saja setiap kali Renjun melakukan check up di rumah sakit, selalu saja diimbau agar jangan terlalu lelah dan memperbanyak istirahat.
Renjun menggeleng tak terima. Dirinya bisa bosan jika hanya terus-terusan diam di rumah tak melakukan apa-apa. Jaehyun hanya terlalu khawatir, menurutnya.
"Aku baik-baik saja sekarang," jawab Renjun tegas. Entah kenapa, dipandang seperti orang lemah membuat harga dirinya terluka, walau memang nyatanya begitu. Renjun hanya terlalu sensitif untuk sekarang.
Jaehyun menghela napasnya, menatap teduh ke sepasang netra bening itu. "Baguslah kalau begitu, tapi aku melarangmu ini dan itu karena aku takut terjadi sesuatu hal yang buruk lagi kepadamu, Renjun. Cukup kemarin, kau dan aku merasa terpuruk, tidak untuk sekarang dan kedepannya, juga calon anak kita yang sedang kau kandung." Jaehyun bawa tangannya menangkup wajah Renjun, diusapnya pipi berisi itu pelan dengan pandangan teduh usai memberi pengertian.
Renjun menggigit bibir bawahnya, matanya memanas hanya karena kata-kata yang keluar dari mulut Jaehyun. Renjun seratus persen yakin bahwa kondisi fisiknya saat ini baik-baik saja, tapi kondisi batinnya? Renjun ragu, masa lalu dan hal buruk yang menimpanya kemarin masih membuatnya merasa begitu buruk.

KAMU SEDANG MEMBACA
Between Us | JaeRen✔️
FanfictionBerawal dari kejadian di sebuah pesta, masalah mulai datang perlahan ke dalam hidupnya. Setiap Renjun berada dalam masalah itu, ia tanpa sengaja akan selalu bertemu dengan Jaehyun, penolongnya. Start : 25/04/23 Finish : 11/02/24 RANK #1 JAEREN 23/12...