002. bertemu, kembali.

295 44 8
                                    

Ini bukanlah kegagalan pertama. Tetapi kali ini rasanya sangat berbeda. Berawal dari mendaftarkan diri ke universitas negeri agar orang tuaku tidak mengeluarkan biaya besar untuk uang pangkal dan semesteran, lalu berakhir gagal, tidak diterima. Aku sangat kecewa dan sedih, tetapi masih bersyukur bisa tetap kuliah di salah satu universitas swasta ngetop di Kota Bandung.

Ibu selalu bilang, 'Ini berkat adikmu, Sita. Budhe Yanti dan Pakdhe Agus yang membantu biaya kuliahmu!' Membuatku merasa punya hutang budi yang banyak pada keluarga Budhe.

Budhe Yanti sudah membantu memberikan modal untuk ibu berwirausaha—sekarang ibu punya toko baju sendiri—mendidik adikku dengan baik, dan sekarang membantu biaya kuliahku.

"Padahal Budhe bilang Lita juga bisa tinggal di rumahnya," kata ayah menambahkan. Sementara aku sedang mengingat barang-barang apa yang belum dibawa ke Bandung. "Enak toh, di sana juga ada Sita. Jadi, kamu bisa sekalian nemenin dia."

"Jarak dari rumah Budhe ke kampus lumayan jauh, Yah. Tapi sampaikan terima kasih Lita pada keluarga Budhe, ya!" Sebenarnya jarak yang ditempuh tidak benar-benar jauh. Aku hanya perlu naik angkutan umum satu kali saja. Namun, alasan sesungguhnya mengapa aku menolaknya justru karena keberadaan Sita.

Dulu kami memang sangat dekat sekali. Aku sempat sedih ketika harus berpisah dengannya. Tetapi makin dewasa, kami makin sibuk dengan urusan masing-masing. Di sana Sita begitu sibuk dengan pendidikannya, begitu pun denganku di sini. Komunikasi kami terakhir kali juga tidak begitu baik.

Sita jarang menghubungiku. Aku juga jadi segan karena beberapa kali pesanku tak pernah dibalas.

"Kamu udah menghubungi penjaga kos belum kalau hari ini mau ke sana?"

"Sudah kok, Bu. Yang jaga juga tinggal di sana."

Melalui Nata—kakak kelas waktu di SMA, sekaligus kuliah di Universitas Padma—aku mendapatkan rekomendasi kosan dekat kampus yang harganya lumayan miring. Jaraknya hanya satu setengah kilometer menuju kampus dengan estimasi waktu enam belas menit jika berjalan kaki.

Karena tidak bisa ke sana untuk survey tempat, Nata mengirimkan gambar dan video sebelum aku mentransfer uang muka. Mulai dari rute jalan sampai bentuk bangunannya. Kosan itu berada di sebuah gang yang terhubung langsung dengan jalan raya menuju kampus. Akses transportasi juga mudah, serta banyak sekali warung-warung makanan di sepanjang jalan.

Bangunan kosan bercat biru masih terlihat baru. Menurut Pak Im—penjaga kos, melalui telepon—tempat ini memang baru dibangun sekitar tiga tahun lalu. Memiliki dua lantai: lantai pertama untuk pria, lantai kedua untuk wanita. Area parkir luas, lingkungan aman, terdapat sisi cctv, serta semua kamarnya sudah kamar mandi dalam dan full furnish. Aku pun langsung setuju saat itu juga.

Setelah selesai sarapan, aku langsung berangkat ke Stasiun Cirebon pukul delapan. Menempuh waktu perjalanan selama tiga jam lebih, akhirnya aku sampai di Bandung pukul sebelas siang.

Nata berbaik hati menjemputku dan mengantarkan ke kosan baruku. Kemudian untuk membalas kebaikannya, aku meneraktirnya makan siang.

**

Aku membebaskan Nata memilih tempat makan yang ia mau. Uang tabunganku masih cukup meneraktir satu orang di kafe yang harganya mungkin tiga kali lipat makanan di pinggiran. Tetapi ternyata Nata malah mengajakku makan di warteg yang jaraknya tidak begitu jauh dari kampus. Makanan di sini bervariasi dan semuanya terlihat lezat.

"Ini juga rekomendasi tempat makan yang murah dan enak, Ta. Nanti kalau kamu bosen sama makanan kantin ... ini bisa jadi opsi."

Lokasinya pinggir Jalan Dipatiukur. Warteg Abah lumayan luas dibandingkan warteg pada umumnya. Parkirannya juga luas. Tampak sederhana dengan bangku-bangku kayu panjang dan meja di setiap sisinya, orang-orang bisa makan di sini. Kebetulan waktu kami datang hanya ada beberapa orang saja. Mungkin karena sudah melewati jam makan siang.

Eternal Sunshine (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang