FOLLOW DULU SEBELUM BACA !!!
⚠️IDE ITU SANGAT MAHAL!⚠️
⚠️DILARANG PLAGIAT!!!⚠️
"Nak, apakah engkau bersedia jika Abi menikahkanmu dengan putra kami ini?" ujar Kiai Fatih serius sambil menatap Khanza sekilas.
DEGH!
'Ya Allah apakah ini episode sel...
Cintailah dunia sekadarnya saja, karena nikmat yang sesungguhnya itu ada di syurga.
-Zhafi Abyan Falah
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Pagi ini Gus Zhafi mempunyai jadwal tausiah. Acaranya berlangsung pada pukul 09.00 AM. Sehingga tidak membuatnya terlalu terburu-buru.
"Mas, kamu mau sarapan dulu kan?" Tanya Khanza memastikan.
"Iya. Hari ini acaranya tidak terlalu pagi," jawab Gus Zhafi.
"Oh, ya udah, aku mau ke bawah dulu. Mau nyiapin sarapan."
"Iya."
Khanza langsung ke bawah untuk menyiapkan sarapan pagi. Sementara Gus Zhafi kini tengah bersiap-siap di dalam kamar.
Khanza menoleh ketika mendengarkan derap lagkah menuruni anak tangga.
"Mas. Kamu sudah siap-siapnya?" Tanya Khanza ketika melihat suaminya yang kini tengah berjalan ke arahnya.
"Iya."
Gus Zhafi langsung duduk di kursi sembari menunggu istrinya yang sedang menyiapkan makanan.
Pergerakan Khanza terhenti ketika Gus Zhafi menahan tanganyya untuk menyendokkan nasi ke piring miliknya.
"Kenapa Mas?"
"Gak usah."
"Loh. Maksudnya gimana? Aku gak boleh makan?" Tanya Khanza bingung.
Gus Zhafi menggelengkan kepalanya. " Bukan begitu."
"Terus?"
"Makan di sini saja." Tunjuk Gus Zhafi pada piringnya sendiri.
Khanza mengernyitkan dahinya." Itukan piring punya kamu Mas, terus kamu gak mau makan gitu?"
"Makan sepiring berdua."
Deg deg deg
Jantung Khanza berdetak lima kali lebih cepat dari biasanya. Ia begitu gugup jika harus makan sepiring berdua dengan sang suami, yang pastinya nanti akan membuat jarak mereka begitu dekat.