FOLLOW DULU SEBELUM BACA !!!
⚠️IDE ITU SANGAT MAHAL!⚠️
⚠️DILARANG PLAGIAT!!!⚠️
"Nak, apakah engkau bersedia jika Abi menikahkanmu dengan putra kami ini?" ujar Kiai Fatih serius sambil menatap Khanza sekilas.
DEGH!
'Ya Allah apakah ini episode sel...
Jika malam indah karena adanya bulan dan bintang. Maka, manusia akan jauh lebih indah, jika dilumiri dengan iman.
—Zhafi Abyan Falah
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*
*
*
Pagi ini Gus Zhafi ada jadwal untuk tausiah. Sebenarnya, acara yang akan didatangi oleh Gus Zhafi akan mulai pada jam 09.00 AM. Tetapi Gus Zhafi, berangkat lebih awal, karena masih ada kepentingan lain yang harus diurus.
Khanza kini tengah menyiapkan baju sembari menunggu suaminya yang kini masih ada di dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian, Gus Zhafi keluar dari kamar mandi, hanya dengan menggunakan handuk yang ia lilitkan di pinggangnya. Dan jangan lupakan juga, rambutnya yang basah dan sedikit acak-acakan, terlihat semakin menambah aura ketampanannya.
"Ini Mas, bajunya sudah aku siapkan semuanya," Khanza menyodorkan baju yang sedari tadi ia pegang itu kepada suaminya.
Gus Zhafi menerima baju dari uluran tangan istrinya, "Kamu mau ikut gak?"
"Kemana Mas?"
"Ikut aku tausiah."
Khanza berpikir sejenak, lantas menggelengkan kepalanya, "Enggak deh Mas. Aku malu kalau gak ada temennya."
"Nanti kamu sumpek kalau di rumah terus," ucap Gus Zhafi.
Memang benar sih. Khanza merasa sumpek jika harus di rumah terus. Apalagi dirinya sedang sendirian. Itu, pasti sangat membosankan.
"Gak papalah Mas. Tapi, kalau kamu sudah selesai, langsung pulang ya, soalnya aku bosen kalau sendirian terus di rumah."
Gus Zhafi tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Iya. Aku langsung pulang."
"Mau jalan-jalan gak, setelah aku pulang dari acara?" Tanya Gus Zhafi.
"Gak usah Mas. Aku tau kamu pasti capek. Biar langsung istirahat aja," sebenarnya Khanza jika ditanya seperti itu, jawabannya pasti sangat mau. Tapi ia tidak mau jika sampai menurutkan egonya, hanya untuk kebahagiaannya sendiri. Sementara suaminya dibiarkan kelelahan begitu saja.
"Sok tau." ujar Gus Zhafi tiba-tiba.
"Kok sok tau sih Mas?" Tanya Khanza mengernyitkan dahinya bingung.
"Kamu salah kalau bilang aku bakalan capek. Karena, capekku itu akan hilang setelah bertemu dengan kamu."
Tuh kan. Ada-ada saja, ucapan Gus Zhafi yang mampu membuat Khanza mabuk kepayang. Kata-katanya, selalu saja mampu membuat Khanza rasanya, ingin terbang melayang.