011. Business Plan Competition

134 20 27
                                    

---

Setiap sudut rumah yang biasanya asing mendadak aku rindukan. Pundak yang biasanya aku lihat sedang menyeruput kopi di ruang makan, samar-samar bayangannya kulihat dalam angan-angan. Suara lembutnya, suara tawanya, masih begitu jelas terngiang. Semua terekam pada memori paling dalam.

Aku dan ibu masih berduka. Kami tak saling bicara satu sama lain setelah acara pemakaman. Ada kalanya kami berubah kikuk ketika kepergok sedang menangis. Rasanya menampakan kesedihan bukan "tipe" keluarga kami. Mungkin itu salah satu alasan mengapa kami tak saling memahami. Keterbukaan atau pun komunikasi, kami buruk akan hal itu.

Pada kenyataannya ... kami-yang masih hidup-harus terus berjuang menjalani hidup. Jadi meskipun aku masih tetap ingin di sini menemani ibu, aku tetap harus pergi kuliah. Pagi itu ibu memasak dengan wajah kuyu. Kulirik ia mengusap-usap matanya seolah-olah ada debu yang masuk, tetapi aku tahu itu upaya agar bisa menyeka air matanya. Ingin sekali aku bangkit dari kursi, lalu bertanya tentang kabarnya. Namun, enggan aku lakukan. Takut jika suasanya jadi makin canggung.

"Ibu tahu kan kalau hari ini Lita balik ke Bandung?" Aku bicara dengan nada hati-hati. Pergerakan tangan ibu yang sedang memotong wortel di talenan perlahan mengendur. Ia sempat terdiam, lalu membalikan badan dengan wajah ceria yang terlalu dipaksakan.

"Iya. Kamu naik kereta kan?"

Aku mengangguk pelan sebagai jawaban. Kemudian ibu kembali dengan aktivitasnya lagi tanpa bilang apa-apa. Di sela sarapan kami, ibu bertanya lagi. "Berangkat jam berapa keretanya?"

"Jam tiga sore, Bu."

Awalnya makan pagi ini berjalan seperti biasanya, tidak ada yang spesial dari itu. Hanya saja, untuk pertama kalinya aku melihat ibu melamun sambil makan. Pandangannya lurus ke lauk pauk di meja tanpa pernah menyentuhnya. Aku sedikit khawatir. Kemudian aku menggerakan telapak tangan sambil memanggil namanya agar ibu tersadar.

"Iya. Ke--kenapa?" Ibu sedikit salah tingkah.

Aku tertegun melihat kondisi ibu. Rasanya tak rela harus meninggalkanya seorang diri di sini. Di satu sisi aku juga tidak bisa melepaskan begitu saja tanggung jawabku sebagai mahasiswa. Seperti yang ayah bilang, aku harus berpendidikan tinggi. Tetapi di sisi lain, sekarang ibu jadi tanggung jawabku. Sebagai anak pertama aku harus menjaga dan melindunginya.

Kebimbangan menyeruak di hatiku.

"Apa--aku mengundurkan diri saja ya, Bu. Lita gak tega kalau harus-ninggalin ibu sendirian di sini."

Ibu tidak setuju. Wajahnya yang kuyu berubah serius. Ia menarik kursinya agar jarak kami lebih dekat. Kemudian ibu menarik tanganku, lalu menggenggamnya penuh keyakinan. Matanya masih memancarkan kesedihan, tetapi ada tekad di sana. Lalu, ibu mulai bicara, "Kalau kamu bilang begitu karena ibu ... jangan lakukan itu. Jangan khawatir, ibu akan baik-baik saja di sini, Ta. Kamu cukup kuliah yang baik." Suaranya agak serak, mungkin karena masih banyak kata-kata yang ingin diucapkan tetapi tertahan di tenggorokan.

Ibu terus meyakinkan aku. Membuat rasa bimbangku perlahan luruh.

Namun, ingatan percakapan ibu dengan seorang wanita asing beberapa waktu lalu mengusikku lagi. Waktu itu hari sudah larut dan mereka bicara di ruang tamu. Mungkin ibu mengira aku sudah tertidur sehingga bisa bicara leluasa. Kebetulan saat itu aku ingin ke kamar mandi. Karena letak kamar mandi dan ruang tamu berdekatan, aku jadi bisa mendengar percakapan keduanya.

'Hutang harus tetap dibayar meskipun suami Mbakyu meninggal dunia. Toh kenapa saya ndak boleh minta sama kakak suamimu? Mereka kan kaya raya.'

'Jangan Mbak. Hutang itu biar saya saja yang menanggung. Tetapi saya mohon kasih saya waktu,' jawab ibu waktu itu.

Eternal Sunshine (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang