3. Rumor dan Masalah

2.8K 311 38
                                    

Inget cuman fiksi, Happy Reading!

*

Jarvis memandang saudaranya garang setelah Rheas sudah dibaringkan di kamar terdekat yang tentunya itu milik sang saudara kembar. Jedrick Elenio Alastair.

"Kali ini apa masalah yang kau lakukan?" tanya Jarvis sambil menyilangkan tangannya, jarinya sesekali membuat gerakan mengetuk menunggu jawaban dari sang kaisar.

"Aku tidak melakukan apapun.." jawaban itu justru membuat Jarvis semakin curiga.

"Tidak mungkin reaksi dari Rheas begitu jika kau tidak melakukan sesuatu padanya.." sergah Jarvis.

Jedrick menghela nafas. "Aku hanya menyebut nama panjangnya, aku juga bilang aku tidak perlu menghormatinya karena dia bukan lagi utusan tapi hanya seorang selir dari kekaisaran milikku.." jawaban Jedrick membuat Jarvis menatap Jedrick tak percaya.

"Kau sungguhan tidak tahu etika ya?"

"Untuk apa punya hal itu jika kau sudah menjadi seorang kaisar?" Jedrick mengangkat alisnya, ekspresi angkuhnya membuat Jarvis ingin mencakar wajah saudaranya.

"Oh, sungguh menyebalkan sekali.." hampir saja Jarvis mengumpat.

"Jadi, kenapa duchess garviil berada di Istana Matahari? Biasanya kau langsung ke Istana Bulan. Ada yang ingin kau diskusikan?" tanya Jedrick.

"Awalnya aku mendengar rumor.." belum selesai Jarvis menyelesaikan ucapannya, ekspresi Jedrick langsung berubah masam.

"Rumor apalagi? Kenapa kau suka sekali bergosip sih?" gerutu Jedrick pelan.

Jarvis berdecih. "Aku mendengar dua rumor, pertama putra mahkota, keponakanku yang lucu hilang dan aku mendengar setelah dia ditemukan kau menyeret Rheas ke istana milik kaisar yaitu Istana Matahari. Lalu-"

"Menyeret? Aku tidak menyeretnya. Dia mengikutiku dengan patuh!" sela Jedrick mengoreksi.

"Bisakah kau mendengarku dulu, lagipula itu yang kudengar bukan faktanya!" Jarvis melotot.

Jedrick masih berekspresi kesal, tapi dia tidak membalasnya lagi.

"Lalu memilih permaisuri dari para selir? Wah.. Bilang saja kau malas menyeleksi anak dari para bangsawan untuk menjadi permaisuri, ya kan?" todong Jarvis.

"Kau bilang itu katanya bukan faktanya! Kenapa kau terlihat percaya sekali dengan rumornya?!" sela Jedrick dengan ketus.

Jarvis menghela nafas. "Kalau begini terus aku tidak akan bisa punya anak. Tidak bisakah kau membiarkanku hidup tenang di Grand duke? Sangat sulit bolak balik Grand Duke dan pusat kekaisaran! Aku bisa mati karena kelelahan! Aku mana tega membiarkan suamiku jadi duda!" omel Jarvis.

"Sejak awal aku tidak pernah tertarik pada tahta.. Ini harusnya milik Javiero.." Jedrick menyandarkan tubuhnya.

Mulut Jarvis langsung bungkam begitu nama itu disebut. "Tidak ada yang menginginkan kematian kakak, Jed.."

"Tentu saja banyak! Gara gara kematiannya aku harus berhenti berkeliling dunia. Menyebalkan, padahal dia yang bilang jika aku bebas melakukan apa yang aku mau.." Jedrick memejamkan matanya.

"Jangan menangis.." ujar Jedrick sambil menyodorkan sapu tangan miliknya.

"Kau harus segera mengungkap kebenarannya, kau sudah berjanji.." Jarvis menyeka air matanya. "Dan lakukan dengan segera pemilihan permaisuri.. Biarkan aku menjadi Duchess Garviil sepenuhnya! Aku merasa bersalah pada orang orang grand duke karena tidak melakukan tugasku dengan benar.." ujar Jarvis ketus.

"Kau bicara begitu padahal kau sudah mengubah nama akhirmu menjadi Garviil.." lirih Jedrick.

"Jed.."

I'm not the Original Anti Villain | NorenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang