FOLLOW DULU SEBELUM BACA !!!
⚠️IDE ITU SANGAT MAHAL!⚠️
⚠️DILARANG PLAGIAT!!!⚠️
"Nak, apakah engkau bersedia jika Abi menikahkanmu dengan putra kami ini?" ujar Kiai Fatih serius sambil menatap Khanza sekilas.
DEGH!
'Ya Allah apakah ini episode sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Gus Zhafi bergeming mendengar ucapan yang keluar dari mulut Gus Afif tadi. Darahnya begitu mendidih tatakala sang kakak mengatakan bahwa wanita yang dia cintai itu adalah istrinya.
"Kenapa diam? Puas kamu sekarang 'kan!" Gus Afif tersenyum miring menatap Gus Zhafi. "Selamat atas keberhasilanmu dalam meraih semua kebahgiaan, dengan cara menghancurkan kebahagiaanku," lanjut Gus Afif dengan tatapan sinisnya.
Gus Zhafi kembali mendongak menatap sang kakak. Ia masih belum percaya dengan sifat kakaknya ini yang tiba-tiba berubah darastis, "Menghancurkan kebahagiaan Kakak? Yang mana?!" Tanya Gus Zhafi dengan tegas.
Gus Afif menatap sang adik dengan tatapan sengit. "Masih saja belum sadar atas semua yang telah kamu lakukan padaku Zhafi?!" hardik Gus Afif berapi-api.
Gus Zhafi tetap diam agar tidak kembali terpancing emosi. Ia tetap setia mendengarkan ucapan demi ucapan sang kakak kepadanya.
Gus Afif menganggat sebelah tangannya seolah-olah sedang menghitung. "Satu. Kamu sudah menolak perjodohan itu sehingga membuatku harus menikahi perempuan yang tidak aku cintai, padahal kamu tau bahwa pada saat itu aku sudah menemukan wanita pilihanku sendiri,"
"Dua. Kamu diam-diam sudah menusukku dari bekakang dengan cara menikahi wanita yang aku cintai selama ini." lanjut Gus Afif.
Gus Zhafi memejamkan matanya sejenak mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut sang kakak. Sungguh, hatinya sangat sakit tatkala mendengar bahwa istrinya dicintai oleh laki-laki lain, terlebih lagi dia adalah kakaknya sendiri.
Gus Zhafi menghembuskan nafasnya kasar. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdegup begitu kencang. "Sudah? Kalau sudah, izinkan aku berbicara," kata Gus Zhafi meminta izin.
Merasa tak mendapat jawaban dari sang kakak, Gus Zhafi pun langsung angkat bicara, "Pertama. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menjerumuskan Kakak pada perjodohan itu, karena pada saat itu aku masih belum siap, dan umurku masih kurang cukup untuk merajut rumah tangga. Dan aku takut kelabilanku akan membawa pengaruh buruk pada rumah tanggaku, yang mana nantinya rumah tangga itu akan retak dan gagal," jelas Gus Zhafi panjang lebar.
"Dan yang ke-dua. Aku sama sekali tidak tau, bahwa wanita yang Kakak cintai itu adalah istriku. Pernikahanku ini juga atas dasar perjodohan, jadi jangan menganggap seolah-olah aku merebutnya darimu," lanjut Gus Zhafi yang seketika membuat kakaknya bungkam.