013. dia menggenggam tanganku

117 18 13
                                    

Suasana FEB Fest sangat meriah. Banner, spanduk, serta balon-balon terpampang sepanjang jalan menuju kampus. Aku menunggu Yovie di gerbang Selatan agar tidak begitu jauh jalan ke Fakultas Ekonomi. Hampir sepuluh menit menunggu akhirnya yang ditunggu datang juga.

"Aduh, aduh, Lita cantik banget deh hari ini!" Puji Yovie yang entah tulus atau tidak enak hati membuatku menunggu.

"Biasanya juga begini kok!" Tidak ada yang spesial dari penampilanku hari ini selain mengenakan cardigan putih susu dipadukan dengan celana jeans biru muda. Aku tidak pernah pergi ke konser sebelumnya, sehingga memilih pakaian yang ada saja. Prinsipku yang penting nyaman dipakai. Berbeda dengan Yovie yang kali ini pakaiannya agak girly.

"Hehehe," katanya terkekeh sendiri. "Maaf ya telat dikit. Tadi angkotnya ngetem lama soalnya. Ya udah yuk daripada telat mending kita langsung ke lokasi aja!" ajaknya dengan wajah sumeringah.

Di depan pintu masuk Fakultas Ekonomi ratusan orang yang memiliki tiket berjejer antre. Sebelum masuk akan dilakukan pemeriksaan tiket dan barang bawaan. Ada peraturan barang dilarang masuk seperti parfum dan senjata tajam.

"Anjir panas kieu, aing malah make topeng pisan. Eungap yeuh! eluh seseorang di belakang antrian yang penampilannya paling mencolok. Ia mengenakan kostum Spiderman, belum lagi suaranya yang kencang dan terkesan ceplas ceplos membuat orang-orang makin tertawa memperhatikannya.

Tadinya aku cuek saja, tetapi setelah mendengar suara tawa Alfian yang khas, aku langsung menoleh ke sumber suara. Benar saja jika pria berkostum spiderman itu adalah teman Alfian. Mata kami saling bertatapan, tapi tak saling menyapa satu sama lain. Kami seperti dua orang asing yang terjebak dalam situasi yang canggung. Semenjak berpacaran dengan Marisa, aku bisa merasakan bahwa ia menjaga jarak. Dan aku paham alasannya sehingga tak berhak untuk marah. Untuk memutus kecanggungan ini, aku memalingkan wajah ke depan lagi. Bersikap seolah-olah Alfian tidak ada di sana.

Tak lama, ada dua teman Yovie—yang ikut dalam UKM Tari—menghampiri kami dan berakhir bergabung mengantre.

Matahari siang itu sangat terik. Banyak penonton yang protes karena panitia hanya memiliki dua akses counter saja. Padahal penontonnya banyak luar biasa karena konser ini dibuka untuk umum. Antrian yang tadinya rapih pun jadi tidak kondusif. Banyak yang saling dorong hingga mengakibatkan keributan, beberapa orang terjembab dan tersungkur ke tanah. Pokoknya makin banyak saja orang-orang yang saling menyalahkan satu sama lain.

"Woi, Anjing ... jangan dorong-dorong!" teriak salah satu orang, dan kemudian di sambut lebih kasar dari barisan paling belakang.

"PANAS ANJING! BISA CEPET NGGAK SIH!" begitulah sehingga makin kacau saja antrian itu. Mulai dari adu mulut sampai hampir main bogem mentah. Aksi dorong-dorongan makin menjadi, suara toa panitia yang berusaha menenangkan pun bagaikan angin lalu. Mereka tidak menghiraukannya. Jumlah penonton tak sebanding dengan jumlah panitia yang bertugas membuat acaranya tidak terkordinir dengan baik.

Brug! Badanku terhuyung dan hampir terjembab ke depan karena terdorong dari barisan belakang. Namun, Alfian dengan refleks dan pergerakan cepat langsung manarik tanganku. "Hati-hati, Ta. Udah keluar antrian aja. Anjing banget ini acara, kacau parah. Kamu hampir jatuh loh tadi!"

Aku bisa mendengar dengan jelas apa yang Alfian katakan meskipun suasana sedang riuh. Aku bisa merasakan genggaman erat tangannya yang masih mencengkram pergelangan tanganku seolah-olah telah menghancurkan benteng pertahanan yang mati-matian aku bangun.

Kemudian tanpa aba-aba Alfian menarik tanganku menjauh dari barisan. Aku hendak protes, tetapi ucapanku terbata-bata. "Eh, tapi—aku datang sama—" sambil berjalan aku menengok ke arah Yovie dan kedua temannya yang sedang adu mulut bersama seorang pria. Ini pasti perkara saling dorong.

Eternal Sunshine (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang