..
.
Suasana di koridor rumah sakit begitu canggung. Jimin yang berdiri tepat di belakang Lya hanya mengusap lengan istrinya. Entah apa yang sedang terjadi tapi ketegangan itu begitu terasa.
Dokter Nam memandang Lya dan ayahnya bergantian. Tidak dipungkiri raut tegang bercamoir panik terlihat jelas sekali di wajh dokter Kim.
"Sudah lama tidak bertemu ya dokter? Bagaimana kabarmu?" Lya mengulurkan tangannya.
Selama beberapa detik tangan Lya menggantung di udara sampai akhirnya dokter Kim menyambutnya.
"Jadi ... Ayah mengenal Lee? Dia pasienku sejak dia masih kecil. Aah maaf aku belum cerita."
Lya tersenyum penuh arti. "Dokter Kim bahkan lebih mengenalku ketimbang dirimu kak," ucap Lya.
"Sayang, mau pulang sekarang?" Jimin menengahi karena merasa suasana kurang begitu menyenangkan.
"Kak Nam kami hendak mengundangmu–" pandangan Lya beralih pada dokter Kim, "–dan dokter Kim untuk datang ke perayaan rumah baruku. Besok jam tujuh malam." Lya tersenyum.
Dokter Nam menyambut undangan Lya dengan suka cita. Senyumnya lebar tatkala Lya mengulurkan tangannya. "Kami datang Lee... Terima kasih tuan Park," dokter Nam berganti menyalami tangan Jimin yang sudah mengulur lebih dulu.
"Kami berdua pamit," Jimin membungkukkan tubuhnya bergantian menghadap dokter Nam dan dokter Kim. Lalu satu tangannya merangkul pundak Lya dan membawanya menjauh.
Lya berjalan dengan raut wajah yang masih terlihat tegang. Begitu kacau dan terlihat sekali kalau dia sedang menahan emosi.
Wajah ramah penuh senyum beberapa saat lalu sudah berubah. Tidak ada lagi senyuman. Yang ada hanya Lya yang sibuk mengumpat.
"Sayang? Tidak mau cerita dulu?" Langkah Jimin dibuat ikut mengejar Lya yang berjalan lebih cepat. "Sayang! Kenapa?"
"Aku mau pulang."
"Oke kita pulang, tapi pelan jalannya." Jimin lantas menggenggam satu tangan Lya hanya untuk menahan kecepatan langkahnya.
Jimin membatalkan niatnya untuk kembali pergi bekerja. Ia memilih pulang bersama Lya dan menemani Lya beristirahat.
"Sayang, memangnya kapan kita berencana mengadakan perayaan di rumah? Siapa saja yang akan datang?" Jimin membawa kendaraannya menuju kediaman mereka.
Suasana di dalam mobil juga masih terasa dingin. Itu karena Lya yang masih memendam marah dan terlihat begitu kesal setelah bertemu dengan dokter Nam dan ayahnya.
"Oppa bisa kita pulang ke rumah ayah sebentar? Ada sesuatu yang tertinggal disana," ucap Lya tiba-tiba. Ia membetulkan posisi duduknya untuk lebih tegak lalu merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan. Mungkin karena merasa sedikit bersalah pada Jimin, Lya mengalihkan pandangannya pada sang suami yang sedang fokus menyetir.
Tangannya terangkat lalu ia letakkan di atas punggung tangan Jimin yang sedang berada di atas setir. "Oppa ... Aku minta maaf sudah bersikap buruk padamu." Ada penyesalan pada kalimat yang Lya ucapkan.
Jimin menoleh sebentar seraya tersenyum, "Tidak apa-apa ... Pasti ada yang membuatmu kesal. Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita." Jimin membalas genggaman tangan Lya. Ia meremasnya dengan begitu lembut juga hangat. "Asalkan kau baik-baik saja, aku sudah cukup tenang."
"Nanti ... Aku akan menceritakannya padamu." Jimin mengangguk. Lalu menarik tangan Lya yang masih ia genggam untuk Jimin kecup sebanyak dua kali.
Kali perjalanan terasa begitu menyenangkan. Jimin mendapatkan senyumnya kembali. Ia bahkan beberapa kali melirik Lya hanya untuk memastikan istrinya tidak kembali gelisah dan marah.

KAMU SEDANG MEMBACA
PARK & LEE
FanfictionJimin bertekad mencari manusia yang sudah menghancurkan hidupnya lima belas tahun yang lalu. Hingga akhirnya ia membangun sebuah firma hukum dibantu oleh Hae Mi dan teman-temannya. Siapa sangka di tengah pencarian itu Jimin justru bertemu dengan se...