—
"Al, aku boleh ngobrol sebentar?"
Setelah mengerjalan tugas BMC di kosan Yovie, aku punya kesempatan ngobrol empat mata dengan Alfian. Dari jarak sedekat ini, aku baru menyadari bahwa ada yang berubah dari fisik Alfian. Ia terlihat lebih kurus, mata pandanya makin lebar.
Nata sempat memperhatikan kami yang ngobrol di dekat tangga, lalu tiba-tiba saja Gie minta tebengan ke kampus karena mobilnya sengaja ia tinggal. Kebetulan saja Nata juga ingin balik ke kampus karena ada rapat BEM. "Buruan ya, Bang. Gue udah ada janji sama orang!"
Kemudian mereka pamit pergi, sementara Yovie yang peka-jika ada yang ingin aku katakan-masuk ke dalam kamar meninggalkan kami di ruang tengah kosannya.
"Kenapa, Ta?"
"Kamu ke mana aja?"
Alfian menautkan alisnya bingung. "Maksudnya?"
Aku menghela napas panjang, mengubah posisiku serileks mungkin. Meyakinkan diri bahwa apa yang aku lakukan bukanlah sesuatu hal yang besar. "Kamu menjauh dari Marisa?"
Mendengar nama pacarnya disebut, senyumnya luntur seketika. Aku bisa melihat perubahan yang tiba-tiba itu. Menunggu cukup lama, Alfian tidak menjawab pertanyaanku.
"Eum-maaf kalau kesannya aku lancang. Aku tahu ini masalah pribadi kamu, gak seharusnya aku ikut campur. Tetapi Maris bilang, awal kesalahpahaman ada di aku. Dia cerita semuanya--"
"Marisa udah minta maaf?"
"Sudah," jawabku cepat dengan tubuh menegang. Aku takut sorot matanya yang tajam itu.
"Kamu sudah maafin dia?"
"Sudah."
"Oke. Nanti aku hubungin dia lagi," jawabnya enteng. Aku speechless, semudah itu kah membujuknya? Aku pikir dia akan membuat masalah ini panjang dengan pemikirannya yang rumit. "Kamu bukan awal kesalahpahaman di antara kami, Ta. Sejak awal, pemikiran Marisa yang teralu berlebihan. Aku cuma mau dia berpikir dewasa. Dan minta maaf, bukan hal yang buruk."
Kemudian Alfian tersenyum hangat. Sinar matahari sore itu membuat silhouette rambut depannya yang mulai gondrong itu menutupi separuh wajahnya. Jantungku berdebar tak menentu. Perasaan aneh, tetapi membuatku nyaman. Mungkin perasaan sayang, atau mungkin cinta. Lalu, ketika mengingat lagi wajah kekasihnya, aku jadi merasa bersalah lagi.
"Udah mau sore nih. Mau aku anterin pulang gak?"
Aku menggeleng cepat. "Gak terima kasih. Habis ini aku udah ada janji mau ke rumah Budhe."
"Budhe Yanti?" tebaknya dengan benar. "Ya udah sekalian aja aku anterin ke sana."
Seberapa keras aku menolak, Alfian tetaplah Alfian. Ia tetap bertekad mengantarkan aku dengan segala alibinya.
**
Rumah dua tingkat berwarna lavender itu terlihat mencolok dibandingkan dengan rumah-rumah tetangganya. Pagarnya berwarna emas, di samping garasi, ada sebuah halaman yang penuh dengan pot-pot bunga dan pohon mangga besar. Mobil SUV dan mobil LCGC terparkir berjejer rapih di garasi.
Dengan gugup, aku menekan bel rumah, lalu tak lama yang punya rumah keluar lalu menyambutku dengan wajah sumeringah.
"Duh makasih banyak ya udah dateng. Tadinya Budhe gamau ngerepotin kamu, tapi Teteh yang biasa beberes mendadak anaknya masuk RS. Jadi, punten pisan ngerepotin kamu ya, Ta."
Orang miskin tidak bisa protes jika dimintai tolong. Aku benci mengatakannya, tetapi memang begitu adanya. Budhe menyuruhku datang kemari hanya untuk mencuci piring kotor bekas acara arisan tadi siang. Merasa punya hutang budi, aku mengiyakan permintaannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Eternal Sunshine (Selesai)
RomantikTidak ada yang spesial dalam hidup Lita sebelum akhirnya kuliah di Bandung, lalu bertemu lagi dengan Alfian, teman SD yang dulu pernah mencium pipinya di depan banyak orang. Alfian tumbuh menjadi pria berbeda, Lita tahu dari bagaimana Alfian menata...