“BERANI YA KAMU BERKATA SEPERTI ITU KEPADA AYAH?!” bentak Zalman dengan emosi yang meluap-luap. Dia mengatakannya tepat di hadapan wajah Alby, Putra bungsunya yang dia pukul dan dia bentak tadi.
Alby Bayanaka Ghifari, dia lebih muda 2 tahun dari Bima, dia masih duduk di bangku kelas 3 SMP sedangkan Bima kelas 2 SMA. Walaupun dia seorang Adik, dia memiliki tubuh yang lebih tinggi dibandingkan Bima, dia benar-benar mewarisi tubuh Sang Ayah yang tinggi.
“Alby, Sayang, bangun, Nak!” Dengan tubuh yang sedikit bergetar, Marwah membantu Putra bungsunya untuk berdiri.
“Jika Ayah saja bisa menyiksa Bunda dan Abang tanpa rasa bersalah sama sekali, kenapa Alby tidak berani berkata seperti itu kepada Ayah? Lagipula itu bukan hinaan, melainkan kenyataan. Apa yang Alby katakan memang benar seperti itu, Ayahnya saja yang tidak tahu diri, tidak punya rasa malu! Alby capek tahu, Yah. Alby Capek! Lihat Ayah bersikap seperti ini terus kepada Abang, Bunda, dan Alby. ALBY CAPEK AYAH?! Hiks!” Alby yang masih dalam pelukan Sang Bunda pun berkata seperti itu dengan suara yang lantang sambil menangis, meluapkan semua emosi yang dia rasakan saat ini. Tidak peduli jika nantinya dia akan dipukuli lagi oleh Ayahnya atau tidak.Mendengar itu emosi Zalman semakin memuncak atau mungkin meledak dengan sekali pukulan saja dia berhasil membuat Alby kembali tersungkur di atas lantas bersama dengan Sang Bunda yang memeluknya erat.
“BENAR-BENAR ANAK KURANG AJAR, TIDAK TAHU DIUNTUNG! ANAK DURHAKA YA KAMU!” suara Zalman benar-benar memekakan telinga.
“ADEK?!” pekik Bima yang mati-matian bangkit untuk merengkuh tubuh Sang Adik yang tersungkur di atas lantai.
“Ngga Ibunya, Ngga anaknya, semuanya pada gak berguna dan kurang ajar?!” Zalman terus saja memaki keluarganya, seolah itu adalah hal yang wajar yang biasa dia lakukan. Tanpa memikirkan perasaan mereka saat dia berkata seperti itu. Jika mereka akan merasa sakit hati atau tidak.
“AYAH CUKUP?! BIMA BILANG CUKUP AYAH?!” dengan sisa tenaga yang dia punya, Bima memberanikan diri untuk membentak Ayahnya lagi.
“Apa dengan Bima yang sudah babak belur seperti ini Ayah masih belum merasa puas sampai harus memukuli Adek juga? Bima tidak apa jika Ayah memukuli Bima sampai sekarat sekalipun, tapi Bima tidak akan tinggal diam jika Ayah melakukan hal yang sama kepada Adek dan juga Bunda. Jadi, Bima mohon sama Ayah, tolong hentikan!” lanjutnya dengan suara yang lebih rendah daripada yang sebelumnya.
Suasana di pagi hari yang seharusnya hangat malah terkesan mencekam dan penuh ketegangan. Mendengar itu Zalman tersenyum miring, seolah dia sedang mengejek Si Sulung. “Oh, jadi ceritanya kamu nantangin Ayah, ya? Kamu mau jadi jagoan untuk Bunda dan juga Adek kamu, iya?” Dalam hitungan detik Zalman sudah menarik tubuh Bima yang sedang memeluk erat Alby.
Bugh!Bima kembali terjatuh.
Bugh!Pukulan kedua tidak mengenai bagian tubuh Bima ataupun Alby, melainkan mengenai bagian punggung Marwah yang kali ini berusaha sekuat tenaga untuk melindungi bintang hidupnya itu.
“BUNDAAA?!” pekik Alby dan Bima bersamaan.
“Kalian benar-benar menyedihkan, membosankan sekali!” Dengan tanpa merasa berdosanya Zalman pergi meninggalkan mereka begitu saja.
“Bunda ngga apa-apa?” tanya Si bungsu, yang sudah memeluk tubuh ringkih Sang Bunda.
Bunda balas pelukan Si Bungsu, Bima pun berusaha bangkit kembali untuk ikut memeluk tubuh Sang Bunda dan Sang Adik.
“Bunda ngga apa-apa, Sayang, jangan khawatirkan Bunda,” balas Bunda dengan suaranya yang sedikit parau karena menangis. Yang mana hal itu membuat hati Alby dan Bima terasa ngilu, mereka sudah tidak bisa menahan air mata mereka lagi. Mereka bertiga menangis bersama sambil berpelukan.

KAMU SEDANG MEMBACA
NAFAS UNTUK AYAH (ON HOLD)
FanfictionBima memang bukan seorang anak yang sempurna, tetapi Bima mempunyai prinsip "keluarga adalah segalanya". Dan dia akan melakukan apapun demi keluarganya. Bima benar-benar menyayangi dan menjaga keluarganya dengan nyawanya sendiri. walaupun sang Ayah...