"Lho ... Nat?" Alfian menujuk Nata yang baru saja datang setelah menaiki tangga menuju lantai dua. "Ngekos di sini juga?"Nata tak kalah terkejut setelah melihat keberadaanku dan Alfian yang sedang mengangkat kardus barang-barang pidahan ke dalam kamar. Tangannya menjingjing koper biru muda. Ia tampak kelelahan karena baru sampai ke Bandung setelah liburan semester genap berakhir.
Berbeda denganku yang sengaja datang lebih awal karena sudah ada janji menemani Alfian untuk mencari kosan baru.
Retaknya hubungan pertemanan antara Alfian dan Dimas membuatnya memutuskan untuk keluar dari kontrakan. Betapa canggung situasi di sana ketika Marisa datang untuk menemui Dimas, bukan dirinya lagi. 'Lagi pula, aku mau lebih privacy aja, Ta.' Begitu katanya.
"Jadi lo yang kata Babeh Ujang bakal ngisi kamar kosong disebelah kamar gue?" Nata merogoh kunci dalam kantong celana, lalu segera membuka pintu kosannya. "Kamu kapan balik ke sini, Ta?"
"Tiga hari yang lalu, Mas."
Aku menelan ludah kasar. Masih berdiam diri di depan pintu kosan Alfian sambil mengangkat kardus yang hendak dimasukan. Ingatanku tiba-tiba saja kembali ke minggu lalu ketika Nata menawarkan tiket kereta untuk kembali ke Bandung bersama. Namun, aku tolak. Nada suaranya di telepon agak kecewa saat itu. Namun, aku tak bisa kasih alasan yang sebenarnya.
Aku makin dekat dengan Alfian, masih dalam status persahabatan. Setiap hari kami bertukar kabar meskipun sebenarnya tak seintens itu. Ada kalanya dia sangat perhatian dalam sehari, terkadang hilang di jam-jam tertentu tanpa aku ketahui apa yang dilakukannya.
"Sini, aku bantu." Tanpa aba-aba, setelah memasukan barang-barangnya ke dalam kamar, Nata keluar lagi untuk membantu. "Lumayan berat ini. Isinya buku ya?"
"Iya. Tetapi itu yang paling ringan kok!" Alfian yang baru saja kembali dari dalam kamar ikut menimpali. "Gue udah bilang jangan, tetapi dia maksa. Ya, tahu sendiri lah ... Lita dari kecil emang gitu anaknya. Rajin menolong." Alfian tersenyum simpul, lalu meraih kembali kardus yang dipegang Nata. "Thank you udah mau bantuin. Padahal gausah repot-repot. Pasti capek kan di perjalanan?"
Tensinya makin menegang. Kedua sorot mata mereka terlihat berkelahi. Nata tampak tidak menyukai Alfian, begitu pun sebaliknya. Mungkin ini ada kaitannya dengan pertengkaran mereka di acara FEB Fest. Terlebih Alfian sudah cerita kalau ia kembali trauma pada saat mata-mata itu menyorotinya.
"No problem," balas Nata yang kemudian pamit masuk ke dalam kamar kosannya lagi.
**
Hujan deras mengguyur Kota Bandung sejak siang tadi. Sialnya hari ini ada jadwal mata kuliah sore sehingga aku terpaksa berangkat ke kampus meski harus menerjang hujan menggunakan payung. Namun, betapa kagetnya ketika mendapati Sita duduk di ruang tunggu kosan bersama Gie. Keningku berherut bingung, lalu perlahan-lahan mendekati mereka.
"Sita, Gie?" Aku tidak duduk bersama mereka, sengaja berdiri dengan jarak agar tak terlalu dekat. Sambil memegang payung lipat di tangan, aku menunggu jawaban dari keduanya.
Sita sedang tidak bersahabat sama sekali. Aku bisa tahu dari raut wajahnya yang ditekuk begitu. Tak mendengar respons, aku pun menoleh pada Gie. Ia malah bertopang dagu di meja, wajahnya menatap sudut langit kosan yang tak bernyawa. Perasaanku jadi tidak enak. Apa alasan mereka ke sini?
"Kalau kalian gak jawab pertanyaanku gak apa-apa. Aku pamit, ya. Sebentar lagi ada jam kuliah soalnya." Baru saja selangkah aku beranjak dari sana, suara Sita membuatku sukses mengurungkan niat pergi ke kampus.
"Bilang sama ibu lo ... jangan ngemis lagi minta uang ke keluarga gue!"
"Hah ... maksud kamu ngemis apa?" Aku memalingkan tubuh, lalu berjalan mendekatinya. Aku sudah tidak peduli dengan sosok Gie di sana yang notabene nya orang lain. Ya meskipun suatu saat ia juga akan jadi bagian dari keluarga.

KAMU SEDANG MEMBACA
Eternal Sunshine (Selesai)
RomanceTidak ada yang spesial dalam hidup Lita sebelum akhirnya kuliah di Bandung, lalu bertemu lagi dengan Alfian, teman SD yang dulu pernah mencium pipinya di depan banyak orang. Alfian tumbuh menjadi pria berbeda, Lita tahu dari bagaimana Alfian menata...