4. Daddy Akan Melindungimu

9K 65 0
                                    

Pria itu kembali membenamkan wajahnya ke salah satu dada Bee dan menjilat ujungnya yang menguncup kaku.

Seketika badan Bee mencair. Gadis itu memejamkan matanya dan meraih leher Dominic untuk berpegangan. Setiap jilatan dari pria itu, mengirimkan getaran penuh kenikmatan keseluruh nadi Bee. Ia melenguh pelan.

Hanya Daddy yang bisa membuatnya merasa seperti itu.

Hanya Daddy yang menyayanginya.

Pria itu adalah dunia Bee. Segalanya bagi Bee.

Dominic tegas, tapi juga lembut. Dan selalu ada ketika Bee membutuhkan perlindungan. Dominic tidak pernah membiarkan gadis itu merasa buruk rupa. Bahkan ketika wajah Bee sedang benar-benar buruk rupa dan di penuhi jerawat, tetap pria itu akan memujinya cantik. Bahkan ketika bully di sekolah Bee mengejeknya karena harus mengenakan kawat gigi dan mengatainya dengan berbagai sebutan menyakitkan seperti 'gigi berkarat', 'gigi berpagar', atau 'tongos', tetap saja pria itu membesarkan hatinya.

"Mereka hanya cemburu padamu, Princess. Karena mereka tahu kau adalah yang tercantik dari yang lain," begitu kata Dominic pada Bee.

Benar, Daddy juga menghukum Bee jika gadis itu bersalah dan melawan, tapi juga memberinya banyak ciuman dan pujian ketika ia berbuat baik. Seperti sekarang.

Apa yang tidak akan dilakukan Bee untuk Daddynya. Apa yang tidak dilakukan Bee untuk melihat senyuman di wajah pria itu.

Ketika Dominic mengangkat roknya naik dan melihat celana dalam berenda yang dikenakan Bee, pria itu langsung menggeram.

"Oh, Princess... kau memakai hadiah yang baru kubelikan."

Dominic langsung menyeringai dan menarik benda tipis itu dari badan Bee. Tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga, benda itu langsung robek menjadi serpihan di tangan Dominic.

"Daddy! Kau merusak lagi celana baruku." Bee merengut menatap sisa kain yang kini dilemparkan Dominic ke lantai.

"Jangan khawatir, Princess. Nanti Daddy belikan lagi yang baru." Pria itu meringis dan kembali membenamkan ciumannya ke leher Bee. Bibirnya menghisap leher gadis itu hingga meninggalkan jejak kemerahan dikulit Bee.

Kejantanannya yang sejak tadi sudah menegang kini terasa panas oleh gesekan dari celah Bee yang ada diatasnya.

Tidak bisa lagi menahan diri, Dominic melepaskan resleting celananya untuk membebaskan tubuhnya yang sudah berdenyut tidak sabar.

Ia tahu Bee sudah siap. Ia bisa merasakan lelehan dari celah Bee membasahi pahanya. Dengan sekali dorong, Dominic membenamkan kejantanannya hingga pangkal.

"Ah.... D-daddy....," Bee mendesah.

Tangan Dominic berada di pinggang Bee, menggerakkan tubuh gadis itu naik dan turun. Celah Bee yang sempit, mencengkeram tubuh Dominic dengan sangat erat dan licin, pria itu merasa hanyut di dalamnya. Oh fuck, Dominic bisa membenamkan dirinya dalam kehangatan tubuh gadis itu seharian jika saja ia tidak memiliki pekerjaan yang masih menantinya.

Pantas saja kekasihnya mengomel karena seringnya ia membatalkan kencan mereka untuk menghabiskan waktu bersama Bee. Siapa yang bisa berjauhan dari gadis seperti Bee?

Masih berada di dalam Bee, Dominic mengangkat tubuh gadis itu dan menaikkannya ke atas meja. Kini berdiri, Dominic lebih bebas untuk bergerak. Ia mendesakkan tubuhnya keluar dan masuk lipatan Bee, dalam dan berulang. Ia bisa melihat cairan Bee melumuri penisnya ketika ia menariknya keluar dari tubuh gadis itu sebelum kemudian kembali membenamkannya hingga ke pangkal. Bee menarik nafas pendek setiap ia mendesak masuk dan mendesah ketika ia menarik keluar.

Entah sudah berapa kali mereka melakukan hal ini. Celah Bee sepertinya sudah terbentuk untuknya.

Ia bisa merasakan eratnya pelukan gadis itu mengelilinginya, ujung rahim Bee menubruk ujung kejantanannya setiap ia menyentak masuk. Sensasi yang dirasakannya tidak tertandingi. Sungguh luar biasa. Ia merasa seakan sedang menyelam di dalam kolam air hangat yang hanya disediakan untuknya.

Tidak pernah Dominic merasakan apa yang dirasakannya ketika bersama Bee. Bahkan ketika berhubungan badan dengan kekasihnya, ia tidak merasakan apa yang disarasakannya sekarang.

Laura terlalu pendiam. Laura terlalu pasif dan menurut. Berbeda dengan Bee yang kadang suka melawan dan bertingkah layaknya seorang Putri Raja. Tapi justru itulah yang disuka Dominic dari Bee. Gadis itu adalah Putri Rajanya, Princess nya. Ia akan melindungi dan menyayangi Princessnya. Karena Bee adalah yang tercantik dan sepenuhnya miliknya.

Ia bahkan punya dokumen yang menyatakan gadis itu sebagai miliknya. Surat adopsi, maksudnya. Hell, apalagi yang di butuhkannya untuk membuktikan bahwa Bee adalah miliknya.

Dominic meraih salah satu dada Bee dan meremasnya. Kepadatannya yang terasa kenyal membuat batangnya semakin kaku dan mengeras. Wajah Bee yang memerah dan melenguh non-stop membuat Dominic semakin bergairah.

"D-d-daddy...," Bee memanggil dengan mata terpejam. Gadis itu meletakkan kedua telapak tangannya diatas meja dibelakang tubuhnya, menahan dirinya sendiri agar tidak terjatuh oleh hentakan keras dari Dominic.

"Ya, Baby Girl?" Dominic bertanya tanpa menghentikan tumbukannya.

"B-bagian privatku mulai terasa geli, Daddy."

Dominic mempercepat gesekan tubuhnya.

"Tahan, Baby. Sebentar lagi. Daddy sudah hampir selesai."

"Ti-tidak bisa Daddy.... Aku tidak bisa menahan... Desakanmu terlalu dalam, a-aku... mhh...." Bee menggeliat. Antara desakan tubuh Dominic di dalamnya dan remasan tangan pria itu ke payudaranya, gadis itu sedang berada diatas awang-awang yang siap untuk terjun bebas.

Bee masih berusaha menahan klimaksnya untuk menuruti perintah Dominic. Tapi ketika pijakanmu tidak lagi terlihat. Apa yang bisa dilakukannya?

"D-d-daddyyy!" Bee menjerit ketika akhirnya tubuhnya kehilangan pegangan dan terjatuh ke dalam jurang kenikmatan.

Bagaikan batu yang baru saja di lemparkan ke dalam kolam air, Bee bisa merasakan getaran riaknya jauh di dalam pusat tubuhnya. Bee mengeratkan lilitan kakinya ke pinggang Dominic, berusaha untuk menahan tubuh pria itu agar tidak bergerak. Tapi desakan dari penis Dominic yang penuh terus menumbuk dan menyentak hanya memperpanjang deburan gelombang yang sedang menyapu di dalam tubuhnya.

Saking eratnya ia mencengkeram Dominic, ia bisa merasakan urat pria itu menegang di dalam celahnya beberapa detik sebelum klimaks pria itu ikut bergabung dalam denyutan rahimnya yang belum berhenti. Bee bisa merasakan semburan hangat dalam celahnya yang masih terus meremas. Ia selalu menyukai perasaan itu. Kesempurnaan yang hanya bisa dirasakannya ketika Dominic menyemburkan benihnya ke dalam tubuhnya. Bee merasa lengkap.

Bahkan ketika Dominic meraih tubuh Bee yang sudah lemas dan kembali membawanya duduk keatas kursi, gadis itu tidak ingin melepaskan dirinya. Ia ingin merasakan tubuh pria itu di dalamnya selama-lamanya.

"Daddy...," Bee berbisik sambil menguap. Ia merasa lelah. Dan mulai mengantuk.

"Ya, Princess?" Suara Dominic terdengar lembut di telinga Bee. Pria itu mengelus rambut Bee yang menyandar ke dadanya.

"Bolehkah aku tidur di pangkuan Daddy sebentar? Aku sangat mengantuk."

Dominic tersenyum, "Tentu saja. Tidurlah, Princess. Daddy akan menjagamu hingga kau bangun."

"Thanks, Daddy," Bee menggumam sambil memejamkan matanya. Ia menggali semakin dalam ke pelukan Dominic dan ia pun terlelap seperti itu. Dengan mendekap erat tubuh pria itu di dalamnya. Penuh dengan kehangatan. Terlindungi.

***

***

bersambung


Daddy's Princess [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang