025. fitnah yang kejam

122 20 13
                                    


Hal-hal yang diharapkan terjadi bagai keajaiban. Belum sehari ibu operasi, ibu harus melakukan tindakan operasi lagi karena ada masalah di organ dalam. Namun, semuanya berjalan dengan semestinya. Ketika ibu membuka mata, seolah-olah aku mendapat limpahan kasih sayang dari dunia.

Setelah hampir seminggu berada di rumah sakit, ibu pulang ke rumah. Tindakan operasi besar itu memerlukan pemulihan cukup lama. Dari belajar gerak, kesulitan buang air besar, sampai berjalan. Aku selalu mendampingi di setiap prosesnya sehingga banyak waktu yang kami habiskan bersama. Dan aku tidak menyesal mengambil cuti kuliah, meskipun ibu menyayangkannya.

"Semester depan harus kuliah lagi ya! Ibu pasti sudah sembuh."

"Lihat nanti ya, Bu. Kalau memang Lita lihat progress ibu baik, Lita juga tidak akan mengulur waktu lebih lama." Karena semakin cepat lulus, aku bisa membantu perekonomian keluarga ini.

Hari demi hari berganti. LDR tidak membuat hubunganku dengan Alfian memburuk. Justru sebaliknya. Kami merasa makin dekat karena mungkin dari berbalas pesan singkat aku lebih leluasa mencurahkan isi hati dan perhatianku.

Sampai saat aku kembali lagi ke Bandung, kami langsung berpelukan sejak pertama kali bertemu. Tidak peduli seramai apa stasiun Bandung kala itu. Yang aku pikirkan hanya menyalurkan segudang rindu.

Tentang Sita dan ibu ... Mereka masih sama seperti dulu. Hanya sekali saja setelah operasi Sita menanyakan kabar, lalu menghilang bak di telan bumi. Mungkin sedang sibuk dengan ujian akhir sekolah dan fase mendaftar universitas.

"Sita gagal masuk ITB, Ta. Sementara waktu, Om Agus menyuruhnya untuk masuk Padma." Dari Gie-lah aku tahu kabar Sita. Apakah ini alasannya menjauh selama ini?

"Terus gimana, Budhe sama Pakdhe marah gak sama dia?" tanyaku penasaran. Ketika Alfian ada kelas, aku memutuskan untuk menunggunya di Kafe Kelana, sekalian bertemu dengan Gie yang kebetulan saja menjaga kafe.

"Marah besar. Sita sedih, tetapi gak bisa berbuat apa-apa. Sejak dulu, dia sering memendam perasaannya."

Dugaanku benar. Pasti selama ini dia mengalami masa-masa sulit. Setelah ini aku bertekad akan menemuinya untuk sekadar memberi semangat. Jika kegagalan bukan akhir dari segalanya.

Kemudian—tanpa membicarakan Sita lagi—Gie menatapku dengan serius. "Lo, apa kabar?"

Aku menoleh sekilas, takut akan tajam tatapannya. Bibirku mengatup, lalu mengangguk sebagai jawaban. "Kalau kamu?"

"Capek, sedikit kewalahan," balasnya, lalu menghamburkan pandangannya lagi ke sembarang arah.

"Pasti karena aku keluar seenaknya dari Laguna."

"Tidak juga."

"Eum—kalau begitu—misalnya ada kesempatan—aku bisa gak di sini lagi bantuin kalian?"

Tahun depan Nata lulus kuliah. Ia pasti sangat sulit membagi tugas kuliah, magang, dan pekerjaan part timenya. Setelah lulus kemungkinan Mas Nata juga tidak lagi bekerja di sini dan beban pekerjaan akan dibebankan pada dua orang saja.

"Laguna selalu terbuka untuk lo. Karena lo juga, kafe ini jadi ada..."

"Hah? Maksudnya?" Aku benar-benar tidak mengerti dengan perkataan Gie. Ia tidak tampak sedang bercanda, malah sebaliknya, ia sangat serius sekali. "Wajah kamu—"

"Gue selalu serius dengan perasaan, Ta. Gue pernah bilang kan selama ini gak pernah punya kemauan sama bokap. Tetapi ngeliat lo atau mungkin Alfian—sahabat gue—kesusahan ... gue puter otak buat bantuin kalian. Karena gue tahu, kalian gak mau menerima uang gue Cuma-Cuma.."

"Gie, kamu gak perlu sampai segitunya."

"Tapi siapa sangaka gue malah jatuh cinta beneran sama Laguna. Merasa udah ikut merawatnya bertumbuh. Untuk pertama kalinya dalam hidup, gue mau memperjuangkan sesuatu. Dan salah satunya berkat lo. Terima kasih, Ta!"

Hanya ada kami berdua saja di kafe ini. Duduk saling berhadapan. Aku yang berdiam diri, sementara Gie berusaha jujur dengan perasaannya. "Gue gak suka pengkhianatan. Sebelum lebih jauh gue mau jujur. Dulu ... dari pertama kali bertemu ... gue udah suka sama lo. Tetapi setelah tau lo jadian sama Alfian, gue udah berniat melupakan. Karena gue gak mau jadi pengkhianat sahabat gue sendiri. Jadi sekarang ... lo tenang aja dan gausah merasa bersalah, ya!"

"Tapi bagaimana sama Sita? Lo gak ngerasa khianatin dia?"

"Gue gak pernah punya perasaan apa pun sama Sita. Dia bahkan tahu kalau selama ini gue menganggapnya sebagai adik. Ga lebih dari itu."

Setelah ini aku berharap bisa berpura-pura seolajh percakapan kami tidak terjadi. Karena sama seperti Gie, aku tidak ingin menjadi pengkhianat bagi siapa pun, termasuk Alfian yang aku sayangi.

**

"Ini ada yang bobol brankas!" teriak Nata ketakutan. Aku, Alfian, dan Gie yang berada di sana langsung berlari menuju meja bartender yang di laci bawahnya ada brankas. Branka silver berukur sedang itu terbuka. "Uangnya udah gak sepeser pun!"

Gie langsung melihat sudut sisi CCTV yang kameranya sudah di tutup lakban dan dirusak "Ah, sial!" umpatnya kesal.

"Siapa yang tahu kode brankas selain lo Gie?" Dalam keadaan panik, sikap Nata yang Heboh membuat semua orang tidak bisa berpikir jernih. "Kita lapor polisi aja kalau gitu!" serunya membuat Gie sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.

"Lo bisa diem dulu gak sih, Bang?!"

Alfian langsung bergegas ke dalam dapur, meneliti setiap sudut ruangan. Dia orang yang terakhir yang shift kemarin. Kebagian shift terakhir adalah pekerjaan berat. Karena selain menyuci segala peralatan yang kotor, mengangkat meja, menyapu mengepel, membuang sampah, mereka juga yang bertanggung jawab untuk menutup kafe sebaik-baiknya. Alfian akan merasa bersalah sekali jika ini karena keteledorannya.

"Tadi pagi aku lihat semua terkunci dengan baik kok!" Aku yakin akan hal itu.

"Terus gimana caranya maling itu bisa masuk? Ini pasti ada yang gak beres. Sekarang gue tanya, selain lo siapa yang tahu kode brankas ini? Soalnya ini gak dibobol paksa, tapi dibuka."

"Tapi buat apa orang itu gak nutup lagi seolah-olah pengen ngasih tahu kalau brankas ini gada isinya?" kataku sambil menatap brankas kosong itu.

"Selain Gie, Cuma gue yang tahu kodenya, Bang," timpal Alfian dengan wajah datar. Ia tak tampak takut sama sekali dengan mimic wajah Nata yang mulai mengintimidasinya.

"Kemarin Yoga ke sini nanyain Alfian. Dia bilang kalau rumah kontrakan punya Bibinya sudah harus dilunasi. Bisa jadi kan lo butuh uang?"

"Kontrakan?" Aku mengulangi perkataan Nata.

"Lo nuduh gue, Sat?!" Intonasi suara Alfian meninggi. Kakinya maju selangkah mendekat ke arah Nata dan mencengkeram kemejanya.

"Kok lo nyolot gitu sih? Gue bilang kan "bisa jadi". Harusnya kalau gak bener, lo gak perlu se-sewot ini sih."

"SIAPA YANG GAK MARAH DI FITNAH YA BAJINGAN!"

Nata tidak melakukan perlawanan apa-apa. Ia menunggingkan senyum meremehkan. "Bapak lo kan nyolong duit rakyat ... bisa jadi nular ke lo nyolong duit sahabat lo sendiri."

"Sekali lagi lo berani ngatain bokap gue ... gue gak akan sungkan buat bikin lo lebih dari ini!" Kemudian satu pukulan bogem mentah mendarat di pipi Nata membuatnya meringis kesakitan.

Aku dan Gie berusaha memisahkan mereka. Tetapi keduanya malah makin menyerang  satu sama lain. Sampai ketika tangan Nata tak sengaja mendorongku sampai jatuh ke lantai. Gie langsung berteriak kencang. "UDAH STOP! BIAR GUE YANG URUS SEMUA. LO SEMUA PERGI DARI SINI!!!!"

Kemudian suasana menjadi hening terkendali.

**to be continued**

Kira-kira siapa yaa yang tega nyuri :(

Eternal Sunshine (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang