CHAPTER 4 : KONSPIRASI

35 17 11
                                    

Seiring berjalannya waktu, pada pagi ini Jeffran memilih untuk menggunakan motornya saat menuju sekolah. Saat sedang dalam perjalanan, dia melihat sekelompok siswa yang mengenakan seragam yang sama dengannya, yang secara tak terduga menghalangi jalannya di jalan raya yang ramai. Melihat situasi itu, Jeffran memutuskan untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada mereka dengan rasa penasaran yang menghampiri pikirannya.

"Siapa sebenarnya kalian?" tanya Jeffran dengan sedikit keheranan kepada kelompok tersebut. "Lo ga perlu tahu kita di sini cuma mau ngasih tau lo bahwa lo harus jadi pacarnya Cahya," ucap salah satu dari mereka dengan nada sombong. Mendengar pernyataan itu, Jeffran merasa agak terheran dengan sikap mereka yang begitu tegas hanya karena masalah sepele dan tidak masuk akal seperti itu. "Gua gak mau," sahut Jeffran dengan santai.

"Oh, lo gamau? Berarti lo harus dikasih paham dulu," kata David tiba-tiba muncul dari arah belakang Jeffran ia mengancam nya dengan ekspresi menantang. "Semuanya kasih dia pelajaran yang pantes," ujarnya dengan suara lantang, memerintahkan anggota kelompoknya yang lain.

Dengan rasa enggan, Jeffran terpaksa melibatkan diri dalam perkelahian, berusaha bertahan dan akhirnya berhasil melukai 5-6 orang dari kelompok tersebut. Namun, tak lama kemudian, David yang datang ke arah kanan dan begitu pun Reza datang ke arah kiri.secara bersamaan menyerang Jeffran dengan keras, sehingga akhirnya membuatnya jatuh pingsan di tanah.

"Mampus lo," ucap David dengan nada kesal sambil mengusap keringat yang mengucur di dahinya.

"Udahlah, kita harus cepet ngurus si Jeffran. Kalau enggak, nanti si Cahya bisa ngamuk sama kita," tambah Reza sambil memberi penjelasan kepada David.

"Emang sih, tapi kita harus akui dia keren banget, bisa KO-in 6 teman kita hampir mati ditonjok sama dia," ungkap David sambil mengakui kehebatan Jeffran.

"Iya, bener juga. Udah, nggak usah ngobrol panjang lebar. Sekarang udah jam berapa, masih ada waktu buat ke sekolah. Lo sama mereka urus motor si Jeffran, gua urus si Jeffran ke UKS sekolah," lanjut Reza sambil memberikan instruksi.

"Tapi gimana cara ngasih tau ke guru guru yang ada di sekolah kalau si Jeffran pingsan gini?" tanya David, ekspresinya penuh keraguan.

"Ya udah, bilang aja abis kecelakaan. Kita yang bantu," jawab Reza sambil memberikan solusi.

Mereka lalu membawa Jeffran beserta motornya ke sekolah, dan memberikan alasan kepada pihak sekolah bahwa keadaan Jeffran bukan karena berantem, melainkan karena kecelakaan.

Saat tiba di sekolah, mereka berbondong-bondong membawa Jeffran, langkah mereka terburu-buru sambil sesekali melewati pandangan penasaran dari beberapa siswa yang menyaksikan kejadian tersebut. Di antara mereka, bisikan-bisikan tentang apa yang terjadi mulai bergema.

Tiba-tiba, seorang siswi berbisik kepada Viorine bahwa Jeffran dibawa ke sekolah dalam keadaan pingsan. Kata-kata itu seperti petir di siang bolong bagi Viorine, yang segera merespons dengan langkah cepat menuju kerumunan orang yang ramai.

"Jeffran!!! Kenapa, Jeffran?!" teriak Viorine di tengah kerumunan, suaranya terdengar penuh kekhawatiran yang tulus. Ekspresinya mencerminkan kegelisahan yang mendalam, membuatnya merasa sangat khawatir atas kondisi temannya. Dan dalam kegelisahan itu, terdapat juga kebingungan, entah mengapa perasaannya begitu kuat.

Jeffran kemudian dibawa ke UKS, dan ketika mereka melintasi koridor sekolah, pandangan penasaran dari siswa-siswi yang menyaksikan semakin menjadi-jadi. Di dalam UKS, suasana gaduh memenuhi ruangan ketika semua orang ingin melihat keadaan Jeffran melalui jendela UKS.

Tiba-tiba, David, dengan nada tegas dan penuh keputusan, berbicara, " bubar!" Teriakannya memecah keheningan di ruangan, memerintahkan semua orang untuk keluar dari UKS dengan cepat.

Kisah untuk jeffran Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang