11. Aku tidak baik-baik saja

1.7K 226 20
                                    

Untuk mengusir isi kepalanya yang hanya memikirkan pria itu. Claire menyibukkan diri dengan memanen buah liar, menanam bunga di kebunnya sendiri, kebun ibunya serta kebun di istana peri. Mengeringkan buah serta bunga untuk teh. Tak lupa merangkai bunga sebagai hiasan. Memang Claire buta, namun instingnya sudah semakin kuat.

Ibunya kerap kali mengajak Claire pergi ke dunia manusia. Namun wanita itu menolak, Claire masih merasa ketakutan untuk melngkahkan kakinya ke Bumi. Dunia yang membuatnya harus berurusan dengan iblis. Claire sudah terlampau nyaman di sini. Kadang ia bermain dengan berang-berang serta burung merpati yang bulunya sehalus sutra.

Hari ini Claire berencana untuk memasak kue kesukaan kedua ularnya. Juga memasakkan menu daging untuk Marie. Wanita itu dengan telaten menguleni adonan kue. Sesekali bersenandung di dalam batinnya. Ketiga hewan itu masih bermain bersama hewan-hewan lain di hutan. Mereka akan kembali saat sore hari. Awalnya penduduk Gardenia takut melihat Forest dan River. Ular hitam melambangkan dunia bawah, begitulah alasannya. Sekarang keadaan sudah berbalik, kedua ular itu menjadi kesayangan peri-peri kecil. Kadang mereka menaruh bunga sebagai hiasan untuk kedua ular itu. Merangkai bunga menjadi kalung untuk Marie si kucing pemalas.

"Tolong aku ... aku membutuhkanmu, Claire."

"Sakit sekali. Aku ingin pergi ..."

Claire menghentikan aktivitasnya. Ia meletakkan adonan kue itu di atas meja. Suara rintihan milik Jayden kembali terdengar. Claire kembali terduduk untuk menenangkan diri. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa Claire terus mendengar suara rintihan itu?

Buliran bening mengalir di pelupuk mata indah milik Claire. Hatinya terasa ikut merasakan pilu, entah mengapa dia merasakan bagaimana sakit serta kesedihan sang iblis yang entah dimana dia berada. Claire memukul pelan dadanya. Ada rasa nyeri yang menjalar di dalam hatinya.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Jayden?"

Claire masih belum mampu untuk berdiri. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Suara rintihan Jayden semakin terdengar. Suara tersebut berhasil menyayat sanubarinya. Bagaimana mungkin Claire dapat melupakan pria itu jika terus menerus bermimpi melihat Jayden tersiksa dan mendengar semua kesakitannya.

"Claire, kau tidak apa-apa?"

Suara sang ibu menghancurkan lamunan Claire. Memang saat ini ia tengah berada di rumah Samantha. Rencananya mereka berlima akan mengadakan makan malam di rumah ini. Lalu Claire berinisiatif untuk membuat kue serta memasak makanan untuk mereka semua.

"Jangan khawatir Ibu, aku baik-baik saja. Hanya saja tiba-tiba aku merasa tubuhku lemas dan sakit kepala."

Samantha segera menghampiri Claire yang terlihat jelas menangis. Tangannya bergerak untuk mengelus surai Claire. "Kau istirahat saja, Nak. Jangan terlalu memaksakan tubuhmu. Biar Ibu saja yang memasak. Lebih baik kau menidurkan tubuhmu dahulu."

Samantha segera membopong tubuh anaknya menuju ranjang. Wanita itu tentu tahu bagaimana tubuh anaknya menjadi selemah ini. Bahkan penyihir agung pun tidak mempunyai obat atau mantra untuk menyembuhkan Claire. Penyihir itu mengatakan bahwa Claire bisa kembali normal jika iblis itu menarik semua kutukan itu pada Claire. Mana mungkin itu terjadi, Samantha tentu tak menginginkan putrinya kembali berurusan dengan iblis kejam tersebut.

"Terima kasih, Ibu."

Samantha tersenyum samar. Kembali mengusap puncak kepala milik Claire. Memandang putri yang ia rawat itu dengan sayang. Samantha sangat menyayangi putri jelitanya ini.

Black Clouds [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang