Chapter 5 : Perisai Keluarga

37 4 3
                                    


Bima terkekeh, melihat sahabatnya yang terlihat berapi-api itu, padahal yang mengalami itu dirinya, tetapi kenapa malah Raja yang paling terlihat kesal.

"Kok jadi kamu yang marah sih, Ja?" Bima sampai tak habis pikir kenapa sahabatnya itu sangat emosian. Walaupun begitu, Bima tahu, Raja peduli padanya.

"Aku ngga marah, Bim, aku cuma kesel aja sama sikap Ayah kamu yang kayak gitu. Kamu orang yang baik, begitupun Alby dan juga Bunda kamu, tapi kenapa Ayah kamu bisa sejahat itu? Salah kalian apa? Aku bener-bener ngga ngerti sama jalan pikiran Ayah kamu. Maaf, bukannya aku menjelak-jelekkan Ayah kamu, Bim. Tapi aku bener-bener udah muak, udah ngga tahan. Sakit hati aku setiap kali liat kamu kayak gini," terang Raja panjang lebar, kali ini dengan nada bicara normal dan tenang, tidak nyolot seperti tadi. Bahkan Bima bisa melihat dengan jelas, kedua mata sahabatnya itu berkaca-kaca.

Bima tidak mau ambil pusing dengan omelan yang diberikan oleh sahabatnya itu pun hanya tersenyum. “Kamu ngga usah minta maaf, Ja, kamu ngga salah karena apa yang kamu omongin itu semuanya benar. Harusnya di sini aku yang minta maaf sama kamu, maaf karena selalu membuatmu sedih dan sakit hati setiap melihat keadaanku yang berantakan seperti ini. Maaf ya, Ja,” katanya yang terdengar tulus. Raja sama sekali tidak menemukan kebohongan dari ucapan Bima tersebut.

Lantas Raja menggeleng cepat. “Kenapa kamu yang jadi minta maaf sih, Bim? Bukan salah kamu. Aku kayak gini karena aku sahabat kamu, aku sayang dan peduli sama kamu. Kamu bisa ngandelin aku, Bim, kalo kamu sedang butuh sesuatu atau apapun itu, kamu harus ngasih tahu aku, okay? Jangan dipendam sendirian, ngga baik juga buat kondisi psikis kamu. Kita ini sahabat yang harus selalu ada di kala suka maupun duka. Kamu bisa mengingat kata-kataku ini kan, Bim?”

Bima masih tersenyum, bahkan senyumannya terlihat lebih lebar daripada yang sebelumnya. “Makasih ya, Ja. Betapa beruntungnya aku mempunyai sahabat yang baik seperti kamu. Aku sangat berterima kasih kepada Allah karena sudah diberikan sahabat sebaik kamu, Raja.”

Pun Raja tersenyum sambil merangkul bahu Bima. “Sama-sama. Aku juga sangat beruntung mempunyai sahabat sebaik dan sekuat kamu, Bim. Kalo aku yang ada di posisi kamu, mungkin sekarang aku hanya tinggal nama alias aku udah ngga ada lagi di bumi. Aku hanya berharap semoga Allah segera membuka mata dan hati Ayah kamu ya, Bim. Karena aku sangat yakin jika Ayah kamu adalah orang yang baik, hanya saja dia sedang tersesat saja.”

Bima lantas mengangguk sambil masih tersenyum. “Sebenarnya aku tidak sekuat yang kamu kira, Ja. Tapi aku setuju dengan apa yang kamu katakan itu. Entah kapan terjadi, tapi aku yakin jika Ayah akan bersikap baik lagi kepadaku, Alby, dan juga Bunda.”

“Pasti hal itu akan terjadi, Bim. Kamu pantas bahagia.”

“Iya, Ja. Ngomong-ngomong udah dulu ah ngebahas tentang keluargaku yang udah kayak drama di tv-tv. Lebih  baik sekarang kita menghafal dulu materi matematika yang akan diulangkan hari ini. Yang nilainya paling gede harus dapet traktiran," kata Bima yang memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan sekaligus menggoda sahabatnya itu.

Raja berdecak kesal. “Mana ada aturannya kayak begitu, yang bener tuh siapa yang nilainya lebih kecil harus ditraktir supaya sedihnya hilang,” protes Raja lengkap dengan wajahnya yang ditekuk, karena Raja tahu, dia tidak akan pernah bisa mengalahkan nilai Bima dalam pelajaran matematika, paling mentok Raja dapat nilai 87, itu pun dengan effort yang tidak sedikit. Berbeda dengan Bima yang hanya belajar 10 menit saja sudah bisa mendapat nilai 90.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 25, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

NAFAS UNTUK AYAH (ON HOLD)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang