Seorang siswi yang kerap dipanggil Luna adalah salah satu dari sekian banyaknya korban yang diambil oleh para ilmuwan untuk dibuat eksperimen. Kala itu, tanggal 6 pada bulan Januari tahun 2019. Luna dan salah seorang temannya bernama Nikita sedang berada di minimarket, mereka berdua sedang membeli kebutuhan sehari-hari sebab pemerintah mengabarkan bahwa esok kota yang mereka tempati akan di lockdown. Sebuah virus yang dikabarkan sangat mematikan dengan cepat menyebar dari negeri China hingga ke negeri lainnya, termasuk Indonesia. Kala mendnegar kabar itu, semua warga Indonesia di anjurkan untuk segera membeli kebutuhan sehari-hari yang dikira cukup untuk beberapa bulan kedepan. Lonjakan pembelian disemua minimarket yang ada di Indonesia semakin bertambah tinggi, para pembeli terus berdatangan dari kota satu ke kota lainnya untuk membeli kebutuhan yang diinginkan. Para pembeli yang terus berdatangan menambahkan kesan yang melelahkan bagi para penjual diseluruh minimarket. Sebab, pembeli yang berdatangan sangat tidak sabar, tidak mau mengantri dan bersikap seenaknya. Akibatnya, kebanyakan barang di minimarket terus dicuri, minimarket terus terkena dampak rugi dari tindakan tersebut. Luna dan Nikita yang berada di minimarket sekitar Jakarta berada dibagian makanan untuk mencari beberapa makanan yang akan mereka beli. Ketika sedang berpencar agar cepat kembali ke rumah, Luna berhenti di area tangga darurat, ia melihat segerombolan orang sedang berdesakan untuk melihat sesuatu. Luna dengan perlahan menghampiri mereka dan mencoba melihat apa yang sedang di pertontonkan itu, ketika ia mencapai tangga yang lumayan tinggi untuk melihat, ia dibuat terdiam oleh kejadian yang ia tonton didepan matanya. Orang-orang yang berada di tangga darurat, mereka sedang menonton ilmuwan yang dengan gilanya memutilasi seorang pria dihadapan orang-orang. Luna dengan segera berlari mencari Nikita, ketika ia bertemu Nikita di rak bagian minuman, Nikita ternyata sedang menatap fokus mencari minuman yang dibutuhkan mereka berdua. Tanpa basa-basi, Luna dengan cepat mengambil semua minuman yang ada dihadapan Nikita lalu memasukkannya ke troli yang hendak mereka bawa kerumah mereka. Nikita terkejut dengan aksi Luna, ia dengan segera menahan tangan Luna dan menatap matanya sambil menggelengkan kepalanya. Luna dengan segera menarik tangan Nikita agar mendekat dan kemudian ia berkata dengan nada pelan, "Kita harus melakukan ini, kurasa virus yang dikatakan pemerintah kala itu sudah terjadi tepat di hadapan mataku. Kita harus segera mengambil semua barang dan kembali kerumah secepatnya tanpa berkontak mata ataupun bertabrakan dengan seseorang yang menggunakan jubah lab." Nikita dengan segera menatap ke arah Luna dengan terkejut, ia membelalakkan matanya dan terdiam sebentar sebelum membantu Luna memasukkan minuman yang dibutuhkan ke dalam troli sambil bergumam pelan, "Jika itu adalah kebenarannya, kuharap pemerintah bisa dengan segera mendapatkan solusi untuk kita semua." Luna yang mendengar itu mengangguk dan dengan segera mendorong troli menuju pintu minimarket. Ketika mereka tiba di pintu menuju keluar minimarket, mereka dihadang oleh beberapa orang yang menggunakan pakaian serba hitam. Mereka yang terkejut dengan segera bergerak mundur, namun salah seorang yang memakai penutup wajah berbentuk paruh burung bergerak maju, ia menghampiri mereka dengan dagu yang sedikit di naikkan, menambah kesan sombong dan angkuh. Pria itu meraih troli yang sedang mereka dorong, "Lepaskan troli ini dan kami akan membiarkan kalian keluar dari sini." Ucap pria itu dengan nada yang angkuh. Nikita dengan berani melangkah maju dan menatap pria itu dengan tatapannya yang mematikan, "Persediaan di minimarket ini masih banyak, tidakkah tenaga kalian cukup untuk mengambil sendiri tanpa mengambil milik orang lain?" Pria itu tentu kesal, ia menampar pipi Nikita dan dengan cepat meraih troli itu. Luna yang melihat kejadian itu dengan segera membantu Nikita untuk berdiri, ia menatap pria yang menggunakan penutup paruh burung itu dengan kesal. Tanpa aba-aba, Luna dengan segera menendang kaki pria itu dengan sedikit keras. Teman si pria berparuh burung tentu terkejut, mereka dengan segera menodongkan senjata tajam ke arah Luna, hingga salah satu dari pria itu berkata, "Kalian menyusahkan. Pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran." Luna yang mendengar itupun terkejut, sebab ia tidak menyangka jika kejadian itu akan sangat cepat selesainya. Ia kira, masalah ini akan panjang urusannya hingga terjadi baku hantam yang melelahkan, namun ia salah. Ia dengan segera meraih lengan Nikita dan mendorong troli yang sempat ditarik paksa oleh sekawanan pria itu tadi. Sayup ia dengar perdebatan dari arah belakang, dimana pria yang menampar Nikita tadi bertengkar dengan pria yang menyuruh ia pergi dari sana. Namun, ia memilih abai. Tanpa menengok ataupun berhenti barang sekejap, ia lebih memilih menarik tangan Nikita dengan cepat sambil mendorong trolinya. Nikita hanya meringis merasakan panas yang menjalar disekitar pipinya akibat tamparan pria tadi yang lumayan keras, ia menoleh sedikit untuk menatap ke belakang namun dengan cepat Luna memaksa wajahnya untuk mengarah ke depan sambil bergumam, "Lebih baik kita segera ke mobil, aku tidak ingin kita berurusan dengan kawanan pria itu lagi." Ucapnya sambil tertatih memapah Nikita menuju mobil sedan hitam yang berada di parkiran mobil tepat disamping minimarket tersebut.