..
Wilona tengah sibuk dengan laptopnya, berbeda dengan sepasang kekasih yang berada di satu ruangan dengannya.
Azura dan George, Fred tengah berada di belakang, beradu ayam dengan Raon? kalau Azura tidak salah dengar.
Jujur, Azura sempat termenung saat Fred berkata sudah membuat perjanjian penting yang bisa membahayakan nyawanya- hingga Ia sendiri bingung, perjanjian macam apa yang membuatnya harus melepas pelukan di pagi hari?
Namun setelah di lihat— oh. rupanya orang gila itu tidak berubah sama sekali.
"Kenapa bisa sampe berdarah gini?" Pertanyaan George menyadarkannya, Azura kemudian menoleh ke belakang.
George masih mengolesi salep luka di tengkuknya. Tatapannya terlihat terluka. Dan Azura mendapati perilakunya berbanding terbalik dengan ucapannya.
Sejujurnya, setelah mengucapkan kata menyakitkan seolah keduanya akan berpisah terakhir kali—Azura penasaran apa yang membuat George mengurungkan niat untuk tetap mau bersamanya.
Apakah karna kasihan? atau memang George hanya menguji kesetiaannya saja.
Tapi untuk apa? ... yang rusak Azura, bukan dia—bukankah jika tentang menguji masih mau atau tidak, Azura yang bertindak?
Lama tak mendapat jawaban, George mengetuk belakang kepala Azura 2 kali. Azura di buat kesal, kedua alisnya hampir menyatu.
"Kamu pikir aku pintu?!" George terkekeh di buatnya. "Kalo di tanya jawab makannya.
"Gatel." Jawabnya sewot. Helaan nafas terdengar di telinga Azura. sedari tadi George terus menghebuskan nafas kasar, seolah beban berat ada di pundaknya.
What could it be?
"Kalo ada apa-apa bilang, jangan apa-apa sendiri, udah tau kamu ngga bisa sendirian." Penjelasan George masuk ke telinga kanannya, keluar telinga kiri.
Sebagai balasan, bukannya menjawab Azura malah membuat bibirnya merucut, sebal. "Jawab." Tunjuk George.
Azura tersinggung enggan menjawab, namun melihat Mamanya yang menatapnya dari kejauhan membuat Zuya mau tak mau mengeluarkan suara.
"Iya-iya, berisik."
Willona yang mendengar Azura menjawab George dengan terpaksa hanya menggelengkan kepalanya. Setelah sembuh, anak itu jadi lebih sensitif.
Namun, syukurnya anak itu sudah tidak sependiam kemarin, mungkin karna kondisinya mulai membaik.
Meskipun pagi ini semua anggota keluarganya di serang kejutan— jantung mereka hampir copot, seperti akan mati, akibat melihat luka yang ada di leher anak itu.
Jika tidak ada George, yakinlah anak itu tidak akan mau di obati—bahkan sebelum Fred bertarung ayam, Dia terus membujuk Azura agar mau di bersihkan paling tidak lukanya, namun hasilnya nihil.
Azura menggaruk pipinya canggung saat tanpa sengaja melihat wajah George dari pantulan layar ponsel yang ia mainkan.
Anak itu berbalik menghadap George, wajahnya masih di tekuk. "Kamu marah?" Tanya Azura.
George menggelengkan kepala, namun tak menatap balik Azura. Menahan tawa melihat Azura yang merasa sebal tapi masih mau perduli padanya.
"George— tolong cek in komputer gua dong, bisa kagak?"
George mengangkat pandangannya sekilas, Max yang baru datang sudah meminta tolong padanya, mungkin karna terlalu sering bermain ke rumahnya—tiap keluarga sudah merasa sedekat nadi.
Bisa di lihat dari motor George yang raib di bawa Andy keluar entah kemana. "Kenapa emang?" Tanya George.
Pandangannya tetap fokus pada Azura yang kini sudah kembali berfokus dengan ponselnya. Tangannya menjulur untuk meratakan salep untuk terakhir kali.
Max melirik Azura—ikut duduk dan mengangkat Azura untuk di pangku. "Hp mulu Cuya."
Azura sendiri tidak perduli, dia masih fokus dengan kegiatannya sendiri. Menghiraukan dan enggan menanggapi Max.
Meskipun begitu, Max tak tersinggung, dia memeluk Azura erat, serta menciumi pipinya gemas—tentu.
Sembari bangkit, George tak dapat melarang, helaan nafas satu-satunya hal yang ia bisa lakukan.
"Di mana Komputernya?" Max mengangkat ibu jarinya, menunjuk ke atas. "Di kamar gua, kaya di tempat biasa."
🫧
"Emangnya jaman sekarang wisuda ada perayaannya?" Rosa mengupasi kulit jeruk.
Satu bersatu tiap dagingnya ia bersihkan—jaga-jaga Azura tersedak. Azura mengendikkan bahunya. Mulutnya terisi penuh dengan jeruk suapan Rosa.
Jemarinya terangkat, "Mau yang ini, Ma." Rosa mengerjap, tangannya beralih mengambil kue beras yang ada di meja.
"Ini?" Azura mengangguk. Rosa masih memegang jeruk di jemarinya—sisa 3 daging yang belum di makan.
Tapi ya sudahlah—"Tapi kalo Zuya ngga ikut wisuda ngga apa Ma?" Belum mendapat jawaban, suara langkah terburu-buru di dengar.
Itu Leon, tangannya memegang banyak kotak putih yang entah bagaimana terlihat baru. "Bawa apa itu?"
Rosa mengalihkan pandangannya pada Leon, Azura pun tak luput—fokus pada 5 kotak yang hampir terjatuh.
Leon membungkuk, "Oh—ini dari Kaira, buat Cuya." Jawabnya sekilas melirik Rosa.
Azura yang di sebutkan namanya mengerjap. Kaira? siapa Kaira?
Huh? ...Ia bahkan tak mengingatnya.
Pantulan ekspresinya jelas, Leon tertawa melihatnya. "Itu sih—Anaknya Om Marcel."
Lalu, siapa lagi Marcel, Azura sama sekali tak pernah mendengar namanya. Rosa memotong kue beras itu dan menyuapkannya pada Azura.
"Ngga lucu ah— masa lupa, Adeknya Papah lo."
Azura mengalihkan perhatiannya, tatapannya meliar. ah, dia bahkan tak pernah mendengar namanya sekalipun sebelumnya.
Selagi Azura masih sibuk berfikir, mulutnya masih sibuk mengunyah, dan tangannya yang memegang ponsel, Ia menghiraukan Leon yang membuka satu persatu kotak tersebut.
"Ini vitamin kamu." 5 botol kecil di letakkan, jelas sekali bukan brand lokal.
Kemudian berpindah pada kardus berikutnya, Oh- jangan salah sangkat, itu memang tugas Leon untuk membuka bungkus apapun yang di tunjukkan pada Azura.
Menghindari kejadian saat mereka menemukan potongan jari beberapa waktu silam.
"Oh— kamu waktu itu mention mau jaket-nih." Ugh—warnanya mencolok.
Kemudian berpindah pada kardus yang terakhir setelah mengeluarkan semuanya. baju, jam tangan, vitamin, syal— dan terakhir adalah, hmmm.
Wajah ketiga orang itu menggambarkan raut yang who knows. Damn—the heck was this.
Siapa yang butuh Lingerie?!
Sinting.
...
