🍭A promise is a Debt (Mitzu)

198 22 2
                                    

*Mina POV

Mina...Mina...Minari.........

"Woi, ngk usah teriak-teriak. Kebiasaan deh, Tzu" Ucapku setelah turun ke bawah. Sangat kesal pada Sahabatku ini. Kebiasaannya itu sering teriak-teriak kalau memanggilku.

"Jalan yuk?" Ajaknya sambil mengangkat alisnya.

"Ngk mau" Kataku.

"Ayolah Mina, malam ini malam Minggu loh" Katanya.

"Ya, terus?"

"Ya, kita jalan-jalan dong" Ucapnya.

"Ini aku udah cakep gini loh" Sambungnya melihat cermin spion dan merapikan rambutnya. Aku memutar kedua bola mataku.

"Terus yang bayar siapa?" Tanyaku.

"Ya kamu dong" Katanya enteng.

Aku kembali memutar kedua bola mataku. Selain kebiasaannya yang suka teriak-teriak, dia juga sering minta ditraktirkan. Dia yang ngajak, tapi ia tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Bahkan kadang kala, ia memintaku untuk membelikan barang untuknya. Menyebalkan bukan? Entah kenapa aku bisa bersahabat dengannya? tapi ngomong-ngomong kami sudah bersahabat sejak kecil.

"Aku ngk mau. Dimana-mana cowok yang harus traktir cewek" Ujarku.

"Aku tau, tapi kamu lebih kaya kan dari aku?" sekedar traktiran seperti biasa, ngk ada masalah kan buat seorang Myoui Mina" Jelasnya dengan menggodaku. Aku mengerucutkan bibirku.

"Ini karena aku sahabatmu yah Tzu mau jalan sama kamu. Kalo jadi pacarmu mah aku ngk mau, cowok ngk ada modal kayak kamu" Kataku.

Tzuyu hanya tertawa mendengar penuturanku. Mungkin karena sudah biasa? aku terlalu sering berbicara ceplas-ceplos dengannya. Ya, namanya juga Sahabat, sudah sangat saling mengenal.

Kami berpamitan pada orang tuaku dan tentu saja orang tuaku mengizinkannya. Appa dan Eommaku pun sudah menganggap Tzuyu seperti anak laki-lakinya.

Ngomong-ngomong, kami pergi dengan sepeda motornya Tzuyu. Sepeda kesayangannya yang sering mogok. Karena sering kali aku harus membantunya mendorongkannya. Aku harap kali ini sepedanya tidak bermasalah.

"Aku pikir kamu harus memelukku Minari" Katanya ketika kami sudah diatas kendaraan.

"Aww..."Rengeknya setelah aku mencubitnya.

"Kamu selalu ingin mendapatkan kesempatan" Kataku.

"Maafkan aku"

Deg!

Maafkan aku? sangat aneh? ini kali pertama Tzuyu menjawab seperti itu. Biasanya, jika aku berkata demikian, pasti ia menjawab "Iya dong" atau "memeluk sahabat sendiri ngk papa kok"
Aku bertanya-tanya? ada apa dengannya?

"Mina?" Panggilnya.

"Nee"

"Kamu baik-baik saja?" Tanyanya dan melihatku di kaca spionnya. Aku mengangguk. Dia terlihat lega. Aku segera memeluk Tzuyu. Sejujurnya, memeluknya aku merasa nyaman. Meski pun dengan kebiasaan buruknya yang kukatakan tadi dan ia sering membuatku kesal. Disisi lain, aku bersyukur memiliki sahabat sepertinya. Tzuyu bisa diandalkan. Dia selalu berhasil menghiburku saat aku bersedih. Dia selalu mengajakku bersenang-senang, tertawa dan bercanda dengan hal yang konyol. Dia selalu ada disaat aku membutuhkannya. Dia memiliki jiwa yang tulus dan hangat.



***

Setelah hampir sekitar 40 Menitan perjalanan. Ternyata Tzuyu mengajakku ke Pasar Malam. Suasananya sangat ramai. Hingga Tzuyu tidak melepaskan genggaman tangannya dariku. Sudah kukatakan dia bisa diandalkan. Dia menjagaku dengan sangat baik. Bahkan ia memarahi orang yang tidak sengaja menabrakku. Aku tersenyum.

ONESHOT (SATZU/MITZU/JITZU)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang