5. KOPI DINGIN SETIAP PAGI

0 0 0
                                    



Sahira Nur Sidik. Aku suka memanggilnya Nur. Perempuan yang ramah, cantik juga baik.

"Nur, ini uang bulanan buat kebutuhan rumah dan kebutuhan kamu..., aku taruh di atas meja makan ya," ucapku sedikit berteriak, sembari menaruh amplop berisi uang di atas meja dekat secangkir kopi.

Secangkir kopi hitam yang masih panas, asapnya yang masih mengepul. Mungkin baru saja dia membuat kopinya. Dia tahu, aku adalah lelaki penikmat kopi tanpa rokok, setiap pagi dan sore aku selalu menyeduh kopi. Namun, setiap pagi kopi buatannya sama sekali belum pernah aku seduh. Aku lebih sering membuat kopi pagi dan sore di kantor.

"Aku berangkat kerja dulu ya," ucapku lagi, dan dia kini telah berada di hadapanku.

"Gak mau sarapan dulu mas?" Tanya dia tersenyum.

"Nanti saja di kantor," ucapku. "Assalamualaikum," lanjutku.

"Hati-hati di jalan..., Wa'alaikum salam." Ucapnya.

Sudah tiga bulan aku menikahi perempuan bernama Sahira Nur Sidik itu. Namun selama tiga bulan itu sikapku padanya begitu dingin, bahkan bisa dibilang sangat dingin. Selama tiga bulan aku dengannya menikah, kita tidur saja berbeda kamar. Jujur saja, aku menikahi dia bukan karena kemauanku.

Kita dijodohkan oleh orang tua kita. Awalnya aku sendiri sangat menolak perjodohan itu, namun pada akhirnya aku harus menerimanya. Karena itu, adalah permintaan terakhir ibu padaku sebelum dia meninggal dunia.

Waktu itu beliau sangat ingin sekali aku menikah bersama Nur, padahal beliau sudah tahu bahwa aku sudah memiliki kekasih yang bernama Sela.

"Nak, kamu menikahlah sama Nur. Ibu ingin kamu menikah bersamanya," pinta beliau waktu itu. Beliau yang waktu itu sedang dirawat di RS.

"Bu, ibu kan tahu. Bahwa Amar sudah punya kekasih, namanya Sela. Gak mungkin Amar ninggalin Sela Bu, Amar juga cinta pada Sela Bu."

"Nak, Nur perempuan baik. Kalau nanti ibu telah tiada, dia yang akan menemani kamu dengan baik."

"Bu, ko ibu bicara begitu? Ibu pasti sembuh ko, ibu pasti sehat lagi."

"Nak, tolonglah..., kamu mau ya menikah sama Nur?" Pinta beliau lagi.

Dan pada akhirnya aku pun menuruti permintaan beliau. Akhirnya aku menikah bersama Nur.

Sebulan aku menikah, ibu meninggal dunia. Waktu beliau meninggal, kesedihan yang luar biasa aku rasakan, hidupku seakan-akan tiada arti lagi. Beliau adalah perempuan hebat, perempuan tangguh, membesarkan dan merawatku dengan penuh kasih sayang. Dia berjuang sendirian membesarkanku, setelah ayah meninggal dunia waktu aku masih duduk di bangku SD. Ibu begitu sangat tulus, penuh kasih sayang merawat dan membesarkanku. Aku sangat bahagia memiliki seorang ibu seperti beliau. Ayah, juga pasti bahagia waktu itu mendapatkan istri yang begitu cantik, hebat, tangguh dan sangat baik.

I love you bu. I love you yah.

***

Setelah sehabis maghrib aku selalu sudah pulang ke rumah.

"Assalamualaikum," ucapku sembari membuka pintu rumah.

"Wa'alaikum salam," sahut Nur sembari tersenyum.

Dia selalu menyambutku pulang kerja dengan ramah, dia selalu tersenyum saat aku sampai di rumah, meskipun aku selalu memasang wajah datar yang dingin padanya. Bahkan dia selalu menghampiriku ke pintu, waktu aku baru sampai. Dia melayaniku sebagai seorang istri yang sangat baik. Dia selalu membantu membawakan tas kerjaku saat sampai rumah. Lalu setelah itu, dia selalu segera menyiapkan air hangat untuk aku mandi, lalu menyiapkan hidangan makan malam untuk kita makan malam bersama.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 12, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CINTA DAN LUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang