Karina
Ia tersentak kaget. Lalu menatap tak percaya ke arah Dipa. Yang kini tengah berdiri dengan wajah antara khawatir, cemas, dan marah di ruang tengah rumahnya.
Hatinya mendadak mencelos. Demi melihat ekspresi wajah Dipa yang pias. Persis seperti bertahun-tahun lalu, sesaat sebelum ia mengetahui, jika Kuro dan Chloe telah mati karena keracunan.
Wajah yang membuatnya ingin segera menghambur, ke dalam pelukan forever crushnya itu, untuk sekedar membisikkan kalimat singkat yang menenangkan, "It's all right."
Namun bayangan mimpi paling buruk tentang kejadian semalam di GOR, saat Dipa memeluk dan mencium Tiara di tengah lapangan, membuat lintasan indah tentang membisikkan it's all right sirna tanpa bekas.
"Lo nggak kenapa-napa?" suara Dipa terdengar penuh kekhawatiran.
Tapi ia tak berminat untuk menjawab. Dengan tanpa melihat sekalipun, ia berjalan melewati Dipa menuju wastafel untuk mencuci tangan.
"Lo ke mana semalam? Gue cari-cari nggak ketemu."
*Oh, nyari?
Telat.*
"Lo tidur dimana semalam? Hanum sama Bening juga khawatir banget nunggu kabar dari elo."
"Kenapa ponselnya dimatiin sih? Bikin semua orang khawatir."
Ia telah selesai mencuci tangan dan kini sedang mengeringkan telapak tangan menggunakan handuk gantung.
"Papa sama Mama lo nanyain terus. Sampai Hanum bohong, bilang kalau lo tidur di rumahnya semalam."
Hanum memang the best. Kayaknya perlu ditraktir nih sebagai capan terima kasih.
"Karina?" suara Dipa terdengar kesal dan menuntut. Karena ia tak menjawab sepatah katapun.
"Lo denger gue ngomong nggak sih?!"
Ia kini melangkah menuju kulkas di dapur. Dengan Dipa mengikuti di belakangnya.
"Kalau lo masih marah sama gue soal kejadian semalam, gue minta maaf."
"Tapi lo jangan jadi kek gini dong, Rin."
Ia mengambil segelas air es dari dalam kulkas, lalu meneguknya cepat. Membuat kepala yang berat dan masih terasa amat pusing menjadi sedikit tercerahkan.
"Lo harusnya mikir panjang kalau mau ngelakuin sesuatu. Lo nggak harus mempermalukan diri sendiri kayak semalam. Lo bisa ngomong langsung ke gue tanpa—"
Kepalanya seolah mau meledak mendengar rentetan kalimat yang diucapkan Dipa. Membuatnya segera beranjak pergi dari depan kulkas.
"Karina!" Dipa kembali mengekori langkahnya menuju bagian belakang rumah. Ia berniat menyimpan kantong kresek berisi dress dan baju dalamnya yang basah ke mesin cuci.
"Oke... oke..." Dipa mengalah dengan mengangkat kedua tangan keatas. "Lo mau gimana sekarang? Gue ikutin."
Ia masih tetap—seolah—tak peduli dengan menyibukkan diri memencet-mencet mesin cuci.
"Lo mau gue putus sama Tiara? Oke, gue lakuin."
*Putus?
Jadi mereka, Dipa dan Tiara, udah resmi pacaran?!?!

KAMU SEDANG MEMBACA
Senja dan Pagi | Na Jaemin
RomanceSometimes someone comes into your life so unexpectedly, takes your heart by surprise.