10. Chocolate Almond Cinnamon

357 74 7
                                    

Karina

Ia membuka kaca samping kanan dengan tangan gemetaran. Sambil mempersiapkan diri jika orang yang mengetuk akan marah-marah lalu memaki-makinya. Mulutnya sedari tadi komat kamit menyusun kalimat pembelaan yang akan diucapkannya jika orang tersebut mulai membentak. Namun begitu kaca turun dengan sempurna dan memperlihatkan keseluruhan wajahnya, orang yang memakai helm full face dengan kaca tertutup itu justru tertegun sebentar. Untuk kemudian bertanya,

"Kenapa berhenti? Mesin mati?"

Ia masih berusaha menenangkan diri dari rasa takut yang melanda. Sama sekali tak menyangka akan mendengar pertanyaan yang jauh diluar perkiraan. Ia tadi sudah sangat yakin akan mendapat makian atau bentakan, tapi ternyata tidak.

"Nyalain lagi!" orang itu memberi isyarat dengan tangan memintanya agar segera menyalakan mesin. "Macet di belakang!"

Ia buru-buru mengangguk. Namun lagi-lagi mesin tak bisa menyala. Membuatnya putus asa dan menggelengkan kepala dengan wajah pias. Tapi ia masih berusaha mencoba, off/on/menyala/masuk gigi/lepas kopling/injak gas/mati lagi. Begitu terus sampai telinganya tak lagi sanggup mendengar lengkingan klakson yang membabi buta.

DIIIN! DIIIN! DIIIN!

DIIIIIIIIIIIINNNNN!!!!

Ia masih berusaha mencoba menyalakan mesin dengan tangan berkeringat yang gemetaran, ketika orang itu membuka helm yang sedang dipakai lalu memintanya untuk turun.

"Sini biar gua aja."

Kini gantian ia yang tertegun demi mendengar nada suara yang sepertinya pernah didengar namun entah dimana. Dan masih tertegun sampai orang itu berinisiatif membuka central lock untuk kemudian membuka pintu samping kanan.

"Lo pindah ke samping."

Ia pasti sekarang sedang terlelap di atas tempat tidur dan tengah mengalami mimpi buruk. Namun lonjakan degup jantung yang bertalu-talu dan tangan gemetaran yang dipenuhi keringat dingin membuatnya sadar jika ini benar-benar kenyataan buruk yang sedang dihadapinya.

Ia masih terlolong ketika Jefan dengan cepat menyuruhnya untuk turun, "Buruan! Tambah macet di belakang!"

Dengan tergopoh-gopoh ia turun untuk pindah ke pintu sebelah kiri. Diiringi tatapan kesal semua orang dan lengkingan klakson yang tiada henti.

DIIIN! DIIIN! DIIIN!

DIIIIIIIIINNNNN!!!!

DIIIIIIIIIINNNNN!!!!!

"Iya, sabar... sabar!" sungut Jefan sembari menyalakan mesin dan... langsung berhasil.

Busyet.

Dengan sigap Jefan segera melajukan mobil ke depan agar antrian kendaraan di belakang bisa terurai.

Setelah yakin arus lalu lintas telah kembali normal, tak lama kemudian Jefan menepikan mobil di pinggir jalan yang kosong lumayan lebar.

Ia hanya bisa memilin-milin jemari tangan sambil menunduk demi menyadari Jefan telah membantunya melewati kejadian paling tak menyenangkan di jalan raya barusan.

Jefan menghembuskan napas sebelum berkata, "Lo gimana sih, kalau nggak bisa bawa sendiri jangan nekat!"

For sure? Ia yang awalnya telah menyiapkan ucapan beribu terima kasih langsung menguap begitu saja digantikan oleh kekesalan demi mendengar omelan Jefan.

"Eh, bacot lo!" ia melotot kesal. "Suka suka gue mau bawa kek mau enggak kek! Kenapa jadi lo ngatur-ngatur gue?!?"

"Lepas koplingnya jangan semua! Itu yang bikin mesin langsung mati!" telunjuk Jefan mengarah ke belakang tempat insiden tadi terjadi. "Sampai bikin macet!"

Senja dan Pagi | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang