Katherina
Sekitar jam 4 sore, Hanum dan Bening benar-benar datang menjenguknya. Sambil tersenyum lebar mereka memasuki ruang perawatan dengan membawa buket bunga yang terbuat dari beberapa batang cokelat merk favoritnya.
"Makasih," ujarnya saat menerima buket cokelat tersebut.
"Ya ampuuuuun, Rin," Hanum langsung memeluknya erat. "Lo kemana aja sih? Kita sampai ketakutan lo kenapa-napa."
Ia tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung Hanum dengan sebelah tangan, "Gue baik-baik aja kok. Lagi males ke sekolah aja.
"Males ke sekolah gimana?" Bening menatapnya curiga. Dari tiga serangkai, Bening memang yang paling aware dengan something fishy. Hidung Bening seolah memiliki kemampuan mumpuni dalam mengendus hal-hal mencurigakan yang sengaja ditutupi.
"Orang kita lagi getol-getolnya TO," sungut Bening sembari mendudukkan diri di atas tempat tidur, tepat di sampingnya.
"Minggu depan malah udah mulai simulasi UNBK," tambah Bening yang kini beralih merangkul pundaknya, "Lo kenapa sih, Rin?"
"Eh, iya, UNBK tanggal 23 ya?" potong Hanum seraya mengingat sesuatu. "Pas banget habis birthday lo."
"Lo lagi ada masalah?" tanya Bening lagi. "Nggak biasanya tingkah lo aneh begini."
"Eh, mau dirayain dimana?" Hanum kembali menginterupsi. "Sama kayak waktu sweet seventeen lo kemarin nggak?"
"Lo jadi sering sakit, kurus, pucat," Bening masih tetap konsisten membahas hal yang sama. "Kalau ada apa-apa tuh cerita, Rin. Jangan dipendam sendiri. Ntar jadi jerawat lho!"
"Seru tuh! Kalau iya jangan lupa undang Faza ya," sementara Hanum masih sibuk mengurusi hari ulang tahunnya. "Gue bakal bikin dia terpesona sampai tak mampu berpaling."
Membuatnya tertawa, "Enggak, Han..."
"Hah?" Hanum terbelalak. "Enggak apa? Nggak ngundang Faza? Yah, elo gimana sih kan gu..."
"Nggak ada party-party," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Kok... gitu?" Hanum mengkerut.
Membuatnya tersenyum, "Bokap gue masih sakit. Bentar lagi mau dirawat di luar," ujarnya memberi alasan. "Ya masa gue mesti party pas bokap sakit sih?"
"Oh iya ya," Hanum menepuk keningnya sendiri. "Sori, Rin."
Namun sejurus kemudian, "Eh kita rayain bertiga aja yuk?" ujar Hanum dengan mata berbinar.
"Girls night gitu. Pajamas party. Di rumah lo aja, Rin. Kan kita bisa seru-seruan tuh. Sebelum hari Seninnya kita ikut simulasi. Mantaaaaappp!" sambung Hanum cepat sambil mengacungkan jempol.
"Eh, gue lagi nanya serius lo malah ngomongin party!" sungut Bening yang merasa spotlight didominasi oleh Hanum.
"Iya, sori...," Hanum mencibir. "Itu sebagai tanda kalau gue nggak pernah lupa tanggal ultah kalian berdua."
"Jadi, lo kemarin kemana?" Bening tak menggubris cibiran Hanum dan kembali konsentrasi padanya.
"Senin, Selasa, Rabu," Bening menghitung dengan jari. Ya ampun, tiga hari bayangin, gue sama sekali nggak bisa hubungin elo!"
Hanum mengikuti jejak Bening dengan duduk di atas tempat tidur. Membuatnya kini diapit oleh mereka berdua.
"Iya, Rin," Hanum menimpali. "Bahkan Dipa aja nggak tahu lo dimana."
Ia menghela napas perlahan, "Gue tidur di rumah sakit nungguin bokap. Ponsel gue non aktifin. Secara ICU kan ngg..."
"Kalau lo di rumah sakit, kok waktu kita nengok bokap lo, nggak lihat elo?" kernyit Bening heran.

KAMU SEDANG MEMBACA
Senja dan Pagi | Na Jaemin
RomanceSometimes someone comes into your life so unexpectedly, takes your heart by surprise.