bonus 1: surat untuk Lita

239 21 14
                                    

Dear, Lita Anindya,

Selamat atas kelulusanmu. Mungkin aku sudah bilang ini secara langsung ketika memberikan surat ini, tetapi aku bingung mencari kata pembuka surat selain kata selamat.

Sekali lagi, selamat sudah bisa mewujudkan impian ayah dan ibu. Aku bangga banget sama kamu.

Lita, aku yakin kalau pertemuan dan pertemanan kita bukan sebuah kebetulan. Itu takdir. Di masa kita masih anak kecil, kamu adalah anak perempuan pemberani, dan itu menarik perhatianku.

Dulu waktu kecil, aku tidak tahu "perasaan apa ini?" Tetapi setelah menginjak remaja, aku tahu bahwa itu perasaan cinta. Memang konyol kedengarannya, kan? Mana mungkin anak ingusan sepertiku merasakan cinta? Tetapi itu yang benar-benar aku rasakan.

Kamu tahu ... setelah ayah di penjara dan semua orang termasuk teman-temanku yang lain menjauhi dan mengutukku? Kamu adalah satu-satunya orang yang membelaku. Dan sampai aku pindah rumah, hanya Lita Anindya satu-satunya orang yang aku anggap teman. Aku berani bersumpah!

Dan perihal ciuman di kelas waktu itu .... aku hanya ingin kamu mengingatnya sampai kapan pun 😁😁😁😁😁😁😁😁 maafkan aku yang kurang ajar, ya! 

Lagi-lagi takdir membawa kita bertemu kembali. Tetapi aku sedikit kesal melihat kamu dekat dengan cowok menyebalkan. Kita sebut saja namanya, Nata! 🤯

Tapi aku senang, ternyata kesibukan kampus membuat kalian merenggang. Di sisi lain aku juga merasa senang karena kesibukan kampus sebagai staff magang BEM buat hubungan kita makin dekat.

Lita,

Aku juga bukan lelaki yang 100% baik seperti pemeran protagonis di sebuah film, novel, atau AU-AU yang kamu baca. Ada kalanya aku hilang akal dan cari pelampiasan lain ketika ada masalah. Dan pada akhirnya aku telah mematahkan perasaan wanita lain dan membuat kamu bersedih.

Sekali lagi maafkan aku yang terlambat menyadari bahwa sejak dulu hanya kamu yang aku suka.

Asal kamu tahu ... sebenarnya aku juga kesal sama Gie. Tetapi dia teman baikku. Aku banyak berhutang budi padanya. Sejak awal, aku tahu bahwa dia tertarik sama kamu. Tetapi aku gak mau ambil pusing. Setidaknya, kita sepakat buat bersaing sehat.

Aku pernah bilang kan kalau Gie adalah pria yang baik. Dia memang baik banget, Ta. Dia cukup fair mengakui kekalahannya dan merelakan kamu untuk aku.

Sampai akhirnya aku tahu kita punya perasaan yang sama. Aku senaaaaang banget.

Lita,

Sudah begitu banyak masalah yang kita hadapi bersama, aku bersyukur karena hal itu tidak mengurangi rasa cinta kita berdua. Kamu menguatkan aku, dan begitu pun sebaliknya. Kita saling mendukung dan menguatkan. Tidak ada yang lebih membahagiakan dalam hidupku dari pada ini.

Dulu, mimpi kita begitu sederhana; bisa lulus kuliah dan bekerja. Tetapi aku sudah bilang kan kalau aku bukan lelaki yang baik. Semakin aku berhasil menggapai sesuatu yang tinggi, aku akan berusaha meraih yang lebih tinggi lagi. Mungkin benar, manusia memang tidak akan pernah puas.

Hal itu membuatku makin egois dan menginginkan lebih. Maafkan aku, Ta.

Hari-hari kegelisan dan penuh keraguan aku lalui dengan memendamnya sendiri. Waktu itu, aku mau memberikan lembaran formulir salah satu universitas di Australia impianku, tetapi urung aku berikan karena melihat kamu begitu putus asa mengerjakan lembaran sialan itu. Aku rasa, kamu masih butuh aku.

Tetapi, Ta ... aku juga mau mengejar apa yang aku inginkan, kuliah lagi di bidang bisnis. Jadi, aku benar-benar mendaftar.

Apakah aku benar-benar egois? Itu adalah pertanyaan untuk diriku sendiri setiap hari.

Sehari sebelum hari wisudamu, pengumuman LPDP keluar. Aku diterima di Universitas Queensland, impianku. Perasaanku campur aduk. Aku merasa senang dan merasa berengsek secara bersamaan.

Bukankah itu artinya aku harus meninggalkan kamu dan merepotkan kamu dengan bisnis yang kita rintis bersama.

Lita, aku rasa benar ... aku memang egois.

Tapi, apa aku boleh meminta sesuatu sama kamu?

Will you wait for me? Sampai aku kembali lagi ke sini.

Aku memang bukan lelaki yang baik, tapi aku tipe orang yang bisa memegang perkataan dan janjiku. Kamu pasti tahu itu.

Jadi, tolong jawab :mau:karena selain kata-kata itu, aku akan tuli untuk sementara.

Sekali lagi, aku memang egois. Tapi aku benar-benar tidak bisa kehilangan kamu. Sungguh.

Maafkan aku, Sayang.
Maafkan segalanya.

Alfian Sudjiwo.

Eternal Sunshine (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang