Chapter Thirteen: Arrangement - 4

228 40 1
                                    

Yerim terkekeh ketika mendengar suara ketukan dengan tempo cepat di pintu apartemennya. Mendadak dia kembali mendapat nafsu makan, sedang mengunyah ramen dengan wajah yang ceria. Kurang dari sepuluh menit, dia menghitung waktu yang diperlukan bagi Hyunjin untuk kalah. Dia akhirnya datang juga.

"Sebentar!" ucap Yerim sedikit keras, ketika mulutnya tak lagi penuh akan makanan. Responsnya justru menjengkelkan, ketukan di pintu makin cepat dan terkesan tidak sabar. Gadis itu terpaksa menyeret kakinya segera untuk mencegah para tetangga protes dengan keributan yang pemuda itu buat.

"Kau lama sekali!"

Etika bertamu sangat muluk untuk diharapkan.

"Lingkungan ini sangat bau! Kau tinggal di tempat seperti ini? Berapa kau membayar biaya sewanya? Pantas saja kau bertingkah seperti gadis murahan dan maniak judi."

Yerim sudah terlalu terbiasa dengan pedasnya kritikan untuk tersinggung. "Ya, karena itu aku menguras dompet Bomin dan sekarang giliranmu."

"Ya, ya, kau akan dapat uang yang cukup saat kau turuti kemauanku." Hyunjin mendorong Yerim, kemudian masuk ke dalam apartemen tanpa permisi. "Aku tidak tahan dengan bau tempat ini."

Yerim yang terhempas dan terdampar di pintu hanya bisa menggeleng. Perilaku anak manja satu ini benar-benar menguji kesabarannya.

Ia seperti tak perlu menunjukkan kondisi apartemennya, karena memang hanya ada satu ruang dan semua bisa langsung terlihat begitu seseorang masuk. Hyunjin tidak lagi protes soal bau, karena memang aroma ramyeon menyeruak ke seluruh ruangan. Sedikit selidik, pemuda itu sempat memandangi isi rumahnya. Tetapi dia lebih cermat untuk mengambil posisi duduk di lantai, di depan meja makan.

"Tempat ini lebih seperti gudang. Tapi kau tidak punya apa-apa," ucap Hyunjin sekali lagi mengomentari. "Kau makan ramyeon di waktu seperti ini? Besok pagi tubuhmu akan menggembung seperti ikan buntal."

"Bukan urusanmu, kan?" Yerim membalas malas, kemudian kembali duduk dan makan tanpa memikirkan si tamu. "Kalian selalu menghinaku dengan berbagai hal, namun memakan makananku seperti anak panti asuhan."

"Itu karena kami lapar. Kau memasak lama sekali."

"Seharusnya kalian pesan saja, seperti biasanya."

"Untung makananmu layak. Kalau tidak aku pasti akan membuatmu menyesal."

Yerim tertawa di antara kunyahannya. "Membuatku menyesal?" Tak sengaja ia melirik ke arah Hyunjin, menemukan sekilas bahwa pemuda itu tergiur oleh makanannya sekarang. "Kalau makananku tidak enak kau akan tantrum?"

"Yang pasti aku akan membuatmu menyesal!"

Hyunjin mungkin berusaha untuk tak terlihat lapar, tetapi gelagatnya sangat lucu.

"Kau mau makan juga?"

"Dan menjadi sapi sepertimu? Yang benar saja!"

Yerim mencibir lalu mengangkat bahunya. "Terserah kau saja."

Hyunjin masih tak bisa menemukan kenyamanan, dia akhirnya duduk di hadapan Yerim. Aroma panas ramyeon menyapa wajahnya, dia meringis dalam hati. Tetapi di hanya di sana yang baginya layak untuk diduduki, jadi ia menyimpan omelan.

"Kau pasti sangat horny, ya?"

Tiada angin dan hujan, Yerim memberikan pertanyaan yang seketika membuat Hyunjin terkejut. Dia tengah memperhatikan isi rumah itu saat matanya langsung menatap dengan lekat. "Maksudmu apa?"

Ramyeon hanya tersisa sup, Yerim mengulur waktu dengan menyesap kuah pelan-pelan. "Maksudku ... kau pasti sangat horny sekarang." Dengan sengaja, gadis itu menguji kesabaran Hyunjin yang sangat tipis. "Di tengah malam begini, kau keluar mencariku. Kau berkata tempatku sangat kumuh tetapi kau masih bersedia untuk datang. Kau pasti sangat bernafsu sampai tidak peduli lagi dengan semua itu dan datang ke sini untuk seks denganku, kan?"

THE GAMBLER 2: Big League🔞 | TXT & EN-Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang