Kim Jaehan tak mengenal apa itu kenangan, karena kenangan akan berlalu dan hilang begitu cepat dari ingatannya.
Sementara Shin Yechan sangat bersahabat dengan kenangan, sampai-sampai terus bersumpah tak akan ada sedetik kenangan pun yang akan ia si...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yechan menelusuri jalan dengan perasaan gamang, gemericik air hujan yang terdengar tak terlalu deras itu menemani langkahnya.
Sesekali Yechan melihat jalanan itu, lalu mengeratkan genggamannya pada gagang payungnya, ia memikirkan inikah tempat dimana kekasihnya dilecehkan.
Jalan ini selalu menjadi trauma bagi Jaehan. Meski pelakunya sudah tertangkap, pada kenyataannya tubuh Jaehan tak pernah memaafkan, semua terekam jelas betapa mengerikannya insiden itu.
Sejenak Yechan memejamkan matanya, memikirkan nya saja sudah membuat hati Yechan panas, bagaimana dengan kekasihnya yang harus menanggung rasa sakit itu sendirian.
Yechan menghentikan langkahnya saat tujuannya sudah berada di depan mata.
Rumah Abu, ia kembali kesana untuk menemui Ayah Jaehan.
Memasuki gedung tempat berbagai macam kendi Abu itu, Yechan menelusurinya hingga atensinya menemukan Abu milik Ayah Jaehan.
Mengusap pipinya kasar saat tanpa sadar air mata mengalir disana. Ia bahkan menghujat diri sendiri karena terlalu lemah. Ia tak pernah bisa menahan air mata nya.
Dalam lirihannya Yechan berkata dengan suara bergetar.
"Paman.... Jaehan hyung, sudah melupakan ku..."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Bosan, Jaehan tak tau lagi mau melakukan apa. Ia bosan seharian di kamarnya. Kenapa juga ia menuruti perintah Yechan yang tidak membolehkannya kemana-mana. Ia merasa tubuhnya juga sehat, kenapa selalu di larang pergi sendirian.
Mematikan ponselnya, Jaehan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, mungkin ke Taman kota tidak buruk.
Ia juga tidak menghubungi Yechan untuk sekedar meminta izin karena ia yakin pasti akan di larang. Biarlah, tidak mungkin juga kan Yechan akan memarahinya.
Setelah siap dengan setelan casual, Jaehan tersenyum berharap hari nya akan menyenangkan kali ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. .
Sampai dengan selamat di taman tempat tujuan awal nya. Jaehan kembali merasa kebingungan, setelah sampai disana ia tak tau mau melakukan apa. Ternyata di taman pun tak terlalu asik pikirnya, sendirian seperti orang bodoh ternyata tidak menyenangkan juga. Jaehan menatap sekelilingnya berharap ada hal menarik yang bisa ia hampiri untuk sekedar membuang rasa kepo. Tapi ternyata nihil, taman itu hanya berisi tanaman hias, tempat bermain anak dan area jalan yang hanya bisa untuk berjalan-jalan santai saja. Lebih enak harusnya bersama pasangan, kalau sendiri begini aneh rasanya.
Ia menghela nafas, merutuki sikap impulsif nya. Memang lebih baik bersama Yechan saja. Padahal Yechan selalu mau di ajak pergi keluar. Mungkinkah karena ini juga Yechan melarangnya pergi sendirian? Yechan memikirkan ia akan kesepian? Entahlah yang jelas Jaehan menyesal.
Setelah menunduk lama sambil mengerucutkan bibirnya, Jaehan pun mengangkat kepalanya karena netranya cukup terkejut dengan sepasang sepatu kulit yang terlihat begitu mengkilap saking bersihnya.
Mendongak dan melihat siapa pemilik sepatu itu, Jaehan tak terlalu banyak berekspresi, karena ia merasa tak mengenalnya.
"Jaehan Hyung."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.