Dua bulan kemudian.
Hari pernikahan Jeffrey dan Lama akan berlangsung besok pagi. Joanna Tantu menginap di rumah Lana guna menemani. Sebab hanya dia teman dekat yang dimiliki. Mengingat teman-teman yang lain hanya sebatas say hi.
"Aku gugup sekali. Ya Tuhan! Besok aku akan menjadi istri! Joanna, kita tidak akan bisa sering-sering main."
Joanna yang sedang menatap ponsel guna war promoan mulai mendecih pelan. Sebab dia yakin jika Jeffrey tidak mungkin melarang mereka sering bermain setelah menikah. Mengingat pria itu sangat baik dan tidak banyak menuntut sepertinya.
Bahkan dia tidak mempermasalahkan jika Lana tidak bisa memasak dan mengurus rumah. Tidak masalah jika saat tahu Lana agak lack of emphaty jika berbicara dan bertindak. Karena dia memang jarang bersosial di masyarakat, sehingga kemampuan bersosialnya kurang.
"Tidak mungkin Jeffrey seperti itu. Dia terlihat baik dan penurut. Kalau dia melarang, aku yang akan maju!"
Lana terkekeh kencang. Lalu memeluk Joanna yang sedang tengkurap di atas ranjang. Membuat wanita itu berteriak kesal sebab gagal mendapat promoan. Karena terlambat lima detik saja.
"FAKKK!"
Joanna mendorong Lana agar melepas pelukan. Dia tampak kesal. Namun tidak terlalu parah. Sebab sudah sering gagal juga saat war. Sehingga kekesalannya tidak akan bertahan lama.
"Aku haus dan lapar. Buatkan es sirup dan buah, ya?"
See? Lana memang tidak memiliki empati. Dia tahu jika Joanna baru saja gagal war, namun dia langsung menyuruh dia turun ke dapur sendirian. Saat di sana ramai orang. Tentu Joanna akan menjadi pusat perhatian dan berakhir menjadi gunjingan.
Namun sepertinya dia tidak berpikir jauh sampai ke sana. Sehingga tidak sadar. Atau justru, dia sadar namun hal ini disengaja?
Entahlah, 27 tahun berteman tidak membuat Joanna tahu bagaimana isi hati Lana yang sebenarnya. Namun dia tahu jika semua orang punya sisi baik dan buruk juga. Sehingga dia harus bisa menerima keduanya. Karena diapun sama. Memiliki dua sisi yang berbeda di dalam dirinya.
Satu sisi tampak menyedihkan dan tidak berdaya karena tidak memiliki backingan keluarga kaya. Satu sisi lain tampak kurang ajar dan jahat karena selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Tidak peduli jika harus menjual jiwa dan raganya.
"Minta salah satu saudaramu, naik! Malas ke bawah karena takut digunjing!"
"Aku maunya kamu yang ambil. Es sirup buatanmu enak. Buah yang kamu kupas juga akan jadi semakin segar kalau kamu yang potong kecil-kecil di mangkok kaca."
"Dasar, Anjing!"
Lana terkekeh pelan. Sedangkan Joanna mulai menyambar ponsel dan keluar kamar. Sebab kalau sudah seperti ini, dia pasti harus turun tangan. Karena kalau tidak, Lana tidak akan mau minum dan makan meski orang lain yang bawakan.
"Mau apa?"
Tanya Sumi, salah satu ART yang ada di sana. Dia jelas mengenal Joanna. Namun tidak terlalu suka dengannya. Karena Lana sering memuji jika masakan Joanna lebih enak daripada masakannya.
"Mau buat es sirup dan buah. Lana haus dan lapar."
Sumi membuka kulkas. Lalu menyiapkan bahan-bahan yang Joanna butuhkan. Sebab dia tahu jika Lana sadar mana es sirup buatan Joanna dan dirinya. Karena mereka sudah 27 berteman dan jelas sudah tahu hampir semua kebiasaan.
Joanna berkutat di dapur agak lama. Dia bersyukur karena di sana tidak ada orang. Mungkin karena ini sudah jam dua belas malam. Sehingga orang-orang sedang istirahat. Karena tidak ada banyak hal juga yang perlu disiapkan di rumah. Mengingat seluruh persiapan sudah dilakukan di gedung acara.
"Sedang apa?"
Tanya Laras, kakak Ariana. Dia adalah satu-satunya saudara perempuan yang wanita itu punya. Tidak heran jika dia begitu agresif pada orang-orang yang hadir di keluarga saudaranya. Termasuk pada Joanna yang sudah bertahun-tahun berteman dengan Lana.
"Membuat minuman dan memotong buah untuk Lana, Tante."
Ucap Joanna panik. Dia agak takut saat ini. Karena sejak dulu, dia memang kurang disukai. Sebab dikira ingin memanfaatkan Lana mungkin.
"Kamu atau Lana? Aku tahu lama suka makan, tapi dia punya otak. Tidak mungkin dia makan saat besok akan memakai gaun pernikahan."
"Ini hanya buah, Tante. Tidak banyak juga, mudah dicerna pula. Aku tahu Lana pintar, makanya dia minta buah. Tidak indomie kuah."
Joanna berusaha bercanda. Dia mulai mempercepat proses memotong buah. Karena ingin segera pergi dari sana.
"Ini Joanna yang waktu kecil sering bermain dengan Lana, ya? Wah, cantiknya! Kerja di mana sekarang?"
Tanya Lucinta, adik Stevan. Dia satu-satunya saudara yang pria itu punya. Selama ini dia tinggal di Australia, menikah dan membangun restoran di sana. Bersama suaminya yang seorang dokter bedah.
"Kerja di perusahaan Stevan, lah. Sekeluarga. Dia, ayahnya dan dua adiknya. Enak sekali, kan?"
Jawab Laras sembari menatap Joanna dari atas hingga bawah. Dia akui Joanna tumbuh menjadi wanita yang menawan. Kulitnya bersih, rambutnya rapi dan berkilau sekali. Tidak lupa yang satu ini, wangi. Joanna sangat wangi, entah sabun apa yang dipakai saat mandi.
"Iya, Tante. Aku sekeluarga kerja di sana. Om Stevan baik sekali. Aku sangat berhutang budi pada keluarga ini."
Joanna masih berusaha bersabar. Karena dia tidak mungkin menunjukkan kekesalan. Mengingat ini bukan daerah kekuasaannya. Seperti di rumah.
"Ohhh. Lalu kamu punya pacar? Suamiku ada banyak kenalan anak muda di rumah sakit. Kapan-kapan ke Australi, nanti aku kenalkan pada cowok-cowok ini!"
Ucap Lucinta sembari tersenyum tipis. Dia senang melihat Joanna yang kini tumbuh secantik ini. Karena dulu dia kurus dan tidak terawat sama sekali. Rambutnya juga mengembang seperti sapu ijuk warna-warni.
"Mana mau dokter-dokter itu dengan dia? Dokter harus dengan dokter supaya setara! Supaya nyambung kalau diajak bicara!"
Seruan Laras membuat Lucinta tertawa. Entah apa yang lucu sekarang. Membuat Joanna mulai berkaca-kaca. Meski bibirnya menyunggingkan senyuman. Seolah setuju akan apa yang baru saja diucapkan.
"Joanna, kok lama?"
Tanya Lana yang baru saja datang. Dia melihat dua tantenya yang sudah berada di dekat Joanna. Membuat dirinya langsung menyapa.
"Tante sedang apa di sini? Tidak istirahat?"
"Tidak, Sayang. Tadi mau ambil air. Tapi bertemu temanmu di sini. Lucinta mau mengenalkan Joanna dengan dokter-dokter di Aussie. Aduh! Lucu sekali! Ya tidak cocok sama sekali! Wong bule juga punya selera tinggi, mereka tidak hanya butuh wanita cantik. Mereka juga butuh keluarga pasangan yang terdidik!"
Laras menepuk pundak Lana. Membuat wanita itu hanya meringis saja. Sebab tidak berani menyanggah juga. Karena takut menyulut pertikaian. Mengingat besok akan menikah. Sehingga dia harus menghindari ketegangan.
30 comments for next chapter.
Tbc...

KAMU SEDANG MEMBACA
BEHIND THE BACK PASS [END]
Romance: a pass to a player behind the ball carrier in some sports (such as soccer and basketball)