🥀
🥀
[Jimin Pov]
Aku berjalan lesu setelah mengecup kening Lya dan meninggalkannya untuk yang kesekian kali. Pintu kamar hotelnya kubiarkan menutup sendiri karena sejujurnya aku berharap Lya akan berlari mengejarku lalu menahanku untuk tidak pergi.
Tapi tentu saja sepertinya itu hanya akan menjadi angan-anganku saja. Mana mungkin Lya dengan mudah akan memaafkanku setelah luka yang kuberikan padanya.
Suasana pelataran hotel begitu sepi seolah sedang menertawaiku yang sedang merasa hampa. Bagaimana bisa aku menghancurkan hidup seseorang hanya dengan waktu semalam. Aku memang pria paling bodoh sedunia.
Pikiranku kacau. Lagi-lagi aku tidak berhasil membawa Lya pulang ke rumah. Dan parahnya lagi kali ini aku sudah menyakiti istriku terlalu dalam.
Aku melajukan kendaraanku meninggalkan gedung hotel menuju rumah. Pikiranku yang kacau membuatku beberapa kali mendapat teguran dari pengendara lain berupa suara klakson yang sangat keras dan berkali-kali.
Aku hanya ingin segera sampai di rumah, mandi, lalu tidur untuk melupakan sedikit rasa sesak yang aku rasakan.
Begitu memasuki pelataran rumah, kedua mataku menyipit ketika mendapati mobil lain berada di halaman rumah.
Dan saat menyadari seseorang yang baru saja turun dan menutup pintu mobilnya adalah dokter Nam, aku pun lantas buru-buru menghampirinya.
"Dokter Nam ..." Sapaku ketika sudah berjarak dua langkah di belakangnya.
Dokter Nam menoleh lalu tersenyum, "Tuan Park, maaf aku datang kemari. Ponsel istrimu tidak bisa aku hubungi. Ada sesuatu yang harus kuberikan padanya."
Aku melihat dokter Nam membawa paper bag berwarna cokelat.
"Silahkan masuk," kataku setelah aku membuka pintuku lebih lebar.
Kulihat dokter Nam duduk dengan nyaman di salah satu kursi yang ada di sudut ruang. Paper bag yang sejak tadi ia bawa ia letakkan di atas meja.
"Maaf dokter," ucapku lirih. "Istriku sedang tidak berada di rumah. Kalau boleh aku tau, apa yang ingin kau berikan padanya?" Tanyaku dengan ragu. Khawatir jika dokter Nam tidak mempercayaiku.
"Oh tidak masalah," dokter Nam menggeser benda berwarna cokelat itu hingga berada tepat di depanku. "Ini. Ini yang ingin kuberikan pada Lee."
"Apa ini?" Aku mengambil tas kecil itu. "Boleh kubuka?" Dokter Nam mengangguk.
Keningku mengernyit saat aku mendapati beberapa bungkus obat. "Apa ini dokter?"
"Itu vitamin penguat kandungan. Aku membeli atas saran dari dokter kandungan yang memeriksanya tadi." Jawaban dokter Nam terdengan begitu lugas dan santai. Tapi tidak denganku.
Tubuhku gemetaran. Tanganku mendadak gemetar. Aku tidak percaya dengan apa yang akh dengar beberapa detik lalu.
Istriku hamil?
"Dokter, maaf ... J--jadi Lya—"
Seolah mengerti dengan pertanyaanku dokter Nam mengangguk. "Iya, tapi maaf aku tidak begitu paham berapa usianya," dokter Nam terkekeh. "Hanya mengerti kalau kandungan Lee sedang dalam masalah."
"M--masalah?" Tanyaku dengan gurat-gurat khawatir. Aku begitu ketakutan mendengar kata masalah pada tubuh Lya.
"Sedikit yang kudengar tadi— aah harusnya anda mendengarnya sendiri dari Lee," ucap dokter Nam dengan sungkan. "Kalau begitu aku pamit dulu. Sampaikan salamku untuk Lee. Semoga dia tetap menjadi wanita yang kuat."

KAMU SEDANG MEMBACA
PARK & LEE
FanfictionJimin bertekad mencari manusia yang sudah menghancurkan hidupnya lima belas tahun yang lalu. Hingga akhirnya ia membangun sebuah firma hukum dibantu oleh Hae Mi dan teman-temannya. Siapa sangka di tengah pencarian itu Jimin justru bertemu dengan se...