3. Mungkin, hanya aku yang mau mempertahankan ini

199 34 5
                                    

• Mungkin •

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

• Mungkin •









































































































Ada banyak pertanyaan yang memenuhi kepala Damara, sampai-sampai di pertengahan malam Damara yang kelelahan tak bisa memejamkan kedua matanya.

Sebenarnya, Damara ingin sekali menanyakan hal ini kepada Hawa— tentang sikap cuek yang kerap kali ia dapatkan dari sang kekasih, disaat Damara sendiri sadar bahwa ia tidak melakukan kesalahan apapun terhadap Hawa.

Diliriknya sejenak si gadis mungil yang meringkuk di dalam dekapan nya. Mata indah Hawa memang sudah terpejam damai, menyebabkan tiap ujung bulu matanya menyentuh pipi gembul nya yang menggemaskan itu.

Diam-diam Damara sibuk memuja betapa lucu nya wajah tidur sang kekasih saat ini.

"Hei, kamu udah tidur?" Bisik Damara yang masih terjaga, guna memastikan jika sang kekasih benar-benar terlelap atau tidak.

Hari sudah semakin gelap. Bahkan, saking gelapnya sinar rembulan pun sampai tak menyinari kamar Damara dan Hawa. Padahal, tirai pada pintu balkon berbahan kaca itu sudah Damara singkirkan agar Hawa— sang kekasih dapat melihat betapa indahnya ciptaan Tuhan yang satu itu.

Namun, seperti nya Hawa harus menelan kekecewaan nya lantaran sang primadona langit malam tak muncul pada malam hari ini.

Hawa bergumam kecil seiring menyamankan posisi berbaringnya di dalam rengkuhan hangat seorang Damara. Hidung bangir nya sesekali menggesek leher sang kekasih, mencari-cari titik hangat disana.

Maka yang dilakukan Damara didetik berikutnya adalah semakin menarik kepala dan tubuh mungil Hawa agar tenggelam di dalam dekapan nya itu.

Ah, sepertinya Hawa sudah benar-benar terlelap— terbukti dengan timbulnya suara dengkuran halus yang lolos dari sela bibir kekasih mungil nya itu. Pasti Hawa kelelahan sekali, makanya gadis nya itu bisa terlelap dengan begitu tenang.

Ah, mungkin bukan sekarang waktu yang tepat bagi Damara untuk bertanya perihal perubahan sikap yang sempat Hawa berikan kepadanya beberapa waktu yang lalu.

Maka yang bisa Damara lakukan saat ini hanyalah menghela nafasnya pelan, sebelum akhirnya ikut memejamkan kedua matanya yang lelah agar ikut menyusul Hawa ke alam bawah sadar nya.

Ia harus membicarakan hal ini besok.

Anehnya, di esok hari nya Hawa malah kembali dengan sikap cuek nya itu.

Seingat Damara, ia tidak melakukan kesalahan sedikitpun.

"Kak, kamu gapapa?" Tanya Damara manakala manik amber nya melihat wajah muram Hawa.

Mungkin | NinizTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang