🥀🥀
🥀
Ketegangan begitu tampak dan terasa begitu kuat di sebuah ruang tengah di dalam salah satu rumah mewah milik Jimin. Rumah yang dihuni oleh Joe dan teman-temannya.
Ada Jimin yang duduk berhadapan dengan Joe dan Hae Mi di sampingnya. Sedangkan Jiwon dan Do Yun duduk berdampingan di sebuah kursi yang lain.
"Kau menikahi anak seorang pembunuh!" kata Hae Mi dengan berapi-api. "Dan kau bilang apa? Musnahkan semua buktinya?" Hae Mi yang tidak bisa menahan emosinya lantas berdiri, "Kau gila!"
"Duduk Hae ... Dengarkan Jimin dulu."
Jimin tersenyum lalu mengangguk, "Ya aku memang sudah gila."
"Hyung ... Kau tidak lupa dengan tujuan kita kemari kan?" Jiwon membuka suaranya untuk pertama kali sejak lima belas menit mereka berada dalam ketegangan.
Joe masih berusaha menarik lengan Hae Mi untuk kembali duduk dengan tenang dan berharap bisa melanjutkan obrolan mereka. "Kita tidak akan bisa bicra kalau kau begini Hae Mi. Kau harus tenang."
"Bagaimana aku bisa tenang sedangkan dia mulai gila! Melupakan tujuan kita karena cinta!" cerca Hae Mi tidak ada habisnya.
"Hyung ... Pikirkan lagi ..." Jiwon berusaha membujuk Jimin yang masih terus terdiam mendapatkan berbagai klaimat menyakitkan dari Hae Mi.
Jimin yang tertunduk perlahan mengangkat wajahnya. Dia memandang satu persatu temannya, tidka terkecuali Hae Mi yang menatapnya penuh benci.
"Lalu kau ingin aku memikirkan apa? Apa yang harus aku pikirkan lagi? Dia istriku. Dia orang yang aku cintai asal kalian tau!"
Hae Mi tersenyum miring yang membuat Jimin lantas menatapnya dengan tak suka.
"Kau bilang cinta! Tapi kau tidur denganku!" Ucapan Hae Mi sontak membuat Jimin meradang. Termasuk Jiwon, Do Yun, dan Joe ketiganya serentak menutup mulut merasa tak percaya dengan kenyataan yang baru saja mereka dengar.
Jimin berdiri dari duduknya. Sorot matanya menajam menatap Hae Mi. Guratan-guratan hijau begitu tampak di lehernya yang tegas. Jimin murka. Dia yang sepanjang hari selalu memohon ampun dan meminta maaf pada Lya, berusaha keras untuk mengubur dan melupakan dosa besarnya tapi mendadak siang ini Hae Mi seperti sedang menelanjanginya.
Kedua mata Jimin memerah karena menahan marah. Dia benci dengan kenyataan bahwa dia dan Hae Mi melakukan hubungan terlarang. Dia marah karena dia sudah melakukan dosa yang tidak terampuni itu.
"Jadi kau ingin mereka juga mendengarnya? Baiklah!"
"Hyung, tenangkan dirimu dulu." Joe mencoba menahan Jimin untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Karena Joe tau kalimat seperti apa yang akan ia dengar selanjutnya. Tapi Jimin memilih abai. Dia tidak peduli dengan Joe yang sudah merangkul bahunya. Dia tetap menatap lurus pada Hae Mi yang juga sedang menatapnya penuh kecewa.
"Seperti yang kalian dengar--"
"Hyung!!"
"Kalian tidak tuli kan? Kalian dengar dengan jelas apa yang sudah Hae Mi katakan!"
Merasa usahanya sia-sia, Joe hanya terus merangkul dan mengusap lembut bahu serta punggung Jimin.
"Aku dan Hae Mi sudah tidur bersama tanpa sepengetahuan istriku dan tanpa sepengetahuan kalian juga." Bahu Jimin mulai naik turun tapi dia tetap menjaga napasnya yang memburu agar tidak tersengal. "Kami berdua," Jimin menjeda kalimatnya namun pandangannya masih terkunci pada Hae Mi. "Kami sudah melakukan dosa besar yang tidak akan bisa dimaafkan. Tapi kau harus ingat--" kata Jimin pada Hae Mi. "Yang kita lakukan kemarin adalah sebuah kesalahan. Kesalahan itu murni dariku. Aku yang tidak bisa mengontrol diriku. Aku yang bajingan akrena sudah melukai hati temanku sendiri. Aku pria brengsek yang sudah menyakiti hati tulusmu!"

KAMU SEDANG MEMBACA
PARK & LEE
FanfictionJimin bertekad mencari manusia yang sudah menghancurkan hidupnya lima belas tahun yang lalu. Hingga akhirnya ia membangun sebuah firma hukum dibantu oleh Hae Mi dan teman-temannya. Siapa sangka di tengah pencarian itu Jimin justru bertemu dengan se...