Dalam perjalanan pulang menuju ke mansion-nya. Di dalam mobil, Raphael sedang melamun, dan keheningan di dalam mobil tersebut membuat seorang wanita dewasa yang duduk di sebelahnya menghela napas lembut.
Rossa mengulurkan tangannya, meraih tangan Raphael dan meremasnya, "Raph..."
Panggilan lembut itu membuat Raphael menoleh pada istrinya yang kini menatapnya penuh kelembutan, "Hmm... Ada apa?" tanyanya.
Rossa menggeleng, dan tarikan ringan di bahunya, membuat dia jatuh ke dalam pelukan sang, suami.
"Maaf... Membuatmu khawatir, Sayang."
"Tidak apa-apa... Aku tahu apa yang membuatmu seperti ini, Raph. Dan aku akan kembali mengatakan ini padamu, tidak ada siapapun yang salah disini, tidak kau, tidak Aldebaran, tidak Sal, maupun gadis itu. Jadi... Kumohon, berhenti menyalahkan dirimu sendiri." kata Rossa sambil membelai dada Raphael yang berdegup keras. Seolah-olah suaminya itu bisa kapan saja mengalami serangan jantung jika terus-terusan dengan kondisi gelisah seperti ini.
Raphael menunduk, mencium rambut Rossa penuh kasih sayang, "Ternyata kau tahu."
Rossa terdiam, dan keheningan itu membuat Raphael mendesah lebih keras lagi.
"Kejadian itu tidak bisa aku lupakan begitu saja...."
"... Dan begitu pula dengan aku Raph." Rossa menimpali.
Yang mereka ingat pada waktu kecelakaan itu terjadi, gadis itu tidak pernah beranjak sekalipun dari bangsal putra bungsu mereka.
Tapi kebencian dari mengetahui putranya dalam kondisi hampir mati, karena disebabkan tidak langsung putranya dalam menyelamatkan gadis itu tetaplah tidak bisa mereka abaikan. Dan semua amarah yang mereka rasakan, Rossa menyalahkannya pada gadis itu. Terus mengusir kedatangan gadis itu yang setiap hari gigih untuk datang melihat putra bungsunya. Meski betapa kejamnya mereka memperlakukan gadis itu, gadis tersebut tidak pernah berhenti datang.
Mereka bersikukuh memegang kebencian dan tak henti-hentinya melontarkan hinaan pada orang yang tidak bersalah. Tidak sampai putra sulungnya memberitahu mereka kebenarannya, Rossa dan Raphael yang sangat membenci gadis itu selama ini, ternganga shock dan dia pun pingsan dari tempatnya duduk.
Mengingat ketololan mereka di masa lalu, membuat Rossa dan Raphael bersedia berlutut di depan gadis yang mereka sakiti hanya untuk mendapatkan maafnya.
Kebencian tak berdasar itulah yang membawa perasaan bersalah seumur hidup pada keluarga Wayne sampai sekarang.
"Keluarga Wayne berhutang sangat besar pada gadis itu. Kalau bukan karenanya, mungkin kita sudah kehilangan Aldebaran. Aku tahu tidak seharusnya bersikap seperti itu padanya dulu, keegoisan kita nyatanya hanya menabur banyak luka."
Rossa mendengarkan dalam diam. Beberapa kejadian di dalam rumah sakit melintas di kepalanya, tangisan, ratapan putus asa, permohonan egoisnya pada gadis yang berurai air mata, dia sangat jelas mengingatnya. Seakan-akan dirinya masih bisa merasakan keputusasaan gadis itu yang terakhir kalinya dia lihat. Senyum sedih dan mata hancur itu tidak akan pernah bisa dia lupakan.
Itu sebabnya bukan hanya Raphael yang terkejut, dirinya pun tak kalah terkejut melihat perbedaan gadis itu yang kini tumbuh dewasa dan juga berubah cacat.
"Menurutmu, apakah kecacatannya karena kecelakaan itu?"
"Ya... Aku sudah bertanya pada Surya."
Tubuh Rossa tegang, kaku di dalam pelukan Raphael. Informasi ini terlalu banyak untuk dia rasakan, belum selesai rasa bersalah di hatinya, dan kini harus bertambah dengan kenyataan mencengangkan dari keadaan gadis itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Musimnya Cinta
FanfictionMenceritakan tentang kisah cinta antara mantan atlet ice skating yang cantik dengan lelaki tampan yang berprofesi sebagai pengusaha developer real estate. Semua tokoh berdasarkan sinet Ikatan Cinta.