Max
Mataku terus mengikuti kemana pria itu pergi, diriku tak dapat mengalihkan pandangan ini darinya. Saat aku memesan minuman lagi yang entah sudah gelas ke berapa ini sekarang, wanita yang bersamanya tadi sudah menghilang. Aku bisa melihat pria itu duduk disebrang bar stool milikku. Beberapa jam berlalu kulihat dirinya sudah mulai tak nyaman singgah disana, beberapa wanita ataupun pria sudah menggodanya sedari tadi. Ia sekarang nampak sangat risih dan akhirnya ia bangun dari duduknya dan menuju ke arah diriku. Sampai ia akhirnya duduk sampingku dan mengajakku berbicara.
"Hai." Sapa dirinya sambil tersenyum, itu membuatnya menampakkan lesung pipinya. Sialnya ia terlihat semakin manis. Ia memiliki mata berwarna hijau yang menghanyutkan membuat orang betah untuk melihat kedalamnya, mengagumi kesempurnaannya.
"Hai." Jawabku sedikit kikuk bisa kurasakan jika telingaku sedikit memanas. 'Oh God─ I hope he didn't notice it.'
🏎₊ ⊹
Charles
"Apa yang membuatmu berada disini?" Tanyaku. Oh Charles itu pertanyaan yang bodoh kenapa kau menayakan hal itu?!
'You're idiot Charles!', batin ku menjerit mendengarkan pertanyaan bodoh yang keluar bergitu saja dari mulutku. Bisa kulihat ia sedikit terlihat tidak nyaman, 'Gosh You're so stupid, great job Charles.'
"Oh─ itu aku terlibat sedikit pertengkaran dengan pacarku." Jawabnya. Aku terkejut tidak menyangka jika ia bersedia menjawab pertanyaan bodoh dan konyol milikku itu. Bisa kulihat juga sinar matanya mulai meredup tidak seperti tadi dan pandangannya yang mengarah kebawah seperti menerawang jauh ke susuatu yang menyakitkan.
"I'm sorry, I don't know. Sekali lagi aku minta maaf. " Ujarku merasa bersalah membuatnya mengingat sesuatu yang menyakitkan.
"Tidak apa-apa." Jawabnya sambil memaksakan sebuah senyuman. Senyuman yang terlihat palsu, seolah-olah membuat dunia tahu ia tak apa-apa walau nyatanya ia terluka.
"Sedangkan dirimu?" Balasnya bertanya kepadaku.
"Ah─ sahabatku memaksa diriku kemari. Dia sebal karena terus melihat diriku menghabiskan malam tahun baru di kamar, mengisolasi diri dari dunia." Jawabku sambil sedikit tertawa, memikirkan jika hidupku ternyata semonoton itu jika tidak ada Victoria.
🏎₊ ⊹
MaxAku melihat ia tertawa, itu sekali lagi membuat kedua dimplenya muncul. Ia terlihat sangat manis dengan kedua dimple itu apalagi saat tertawa. Aku bahkan terkejut dengan diriku sendiri saat aku membuka masalah pertengkaran diriku dengan pacarku kepada orang asing sepertinya. Itu tidak seperti diriku, karena aku bukan tipe orang yang terbuka dengan semua orang. Aku lebih suka menyimpan semuanya sendiri, melampiaskannya sendiri membiarkan waktu menghilangkan rasa sakitnya.
Kurasa ini semua terjadi karena masa kecilku yang lumayan keras. Berusaha memenuhi semua ekspetasi yang ayahku miliki terhadap ku tanpa memiliki suara untuk berbicara, menelan semuanya mentah-mentah dan tidak memiliki kendali terhadap diriku sendiri. Tapi entah kenapa aku seperti memiliki kepercayaan buta kepada orang asing yang bahkan belum ada sepuluh menit ku temui ini ya walaupun sudah sejak sekitar dua jam yang lalu aku memperhatika nya dari kejauhan sejak dirinya tiba di club ini.
'Oh max get a grip you can't just trust some random people!' batin ku berteriak seperti itu tapi entah kenapa aku memilih untuk abai. Aku tertarik untuk berbicara dengannya.
"Kamu beruntung memiliki seseorang yang mengkhawatirkan dirimu seperti itu." Jawabku dengan nada sedikit bercanda.
"Ya─ tapi itu sedikit menyebalkan kau tahu? Ia terus mengoceh tentang betapa tidak asiknya aku karena memilih untuk berkencan dengan kasurku dan anjingku." Balasnya menggebu-ngebu. Bisa kulihat raut wajahnya yang kesal dan alisnya yang mengkerut ke tengah.
"Sahabatmu itu tidak salah. Kau harus menikmati hidupmu sesekali sebelum kau tak bisa melakukannya." Jawabku bercanda sambil mengingat masalalu ku yang aku bahkan tak bisa menentukan jalan hidupku sendiri. Semuanya telah diatur oleh ayahku, bagi dirinya aku hanyalah sekedar robotnya untuk memenuhi keinginannya.
"Tapi itu tetap saja menyebalkan." Ujarnya sambil mempoutkan bibirnya membentuk lengkungan yang unik seperti bentuk hati. Sekali lagi mata hijau itu menatap diriku membuatmu tenggelam kedalamnya tanpa kusadari.
"Apakah kau memiliki sahabat yang menyebalkan seperti itu?" Tanyanya membuatku kembali tersadar, menarikku dari pengaruh sihir mata hijau miliknya ke dunia nyata.
"Ah─ iya, aku juga punya. Ia orang yang lumayan cerewet." Ujarku sambil mengingat sahabatku sekaligus rival ku di dunia F1. Namanya Daniel Ricciardo orangnya seperti matahari yang menyinari dunia, hangat. Namun mulutnya itu bisa mengalahi bebek saking cerewetnya. Ia adalah salah satu orang yang kupercayai dengan segenap hatiku dan juga orang yang mengetahui rahasia-rahasia besarku. Dia sudah kuanggap seperti saudara sendiri lebih tepatnya kakak, karena usia ku terpaut delapan tahun lebih muda darinya.
"Sama seperti sahabatku dia wanita yang lumayan cerewet juga. Sepertinya kita memiliki kesamaan, sama-sama memiliki sahabat yang menyebalkan." Ujarnya sambil tertawa dan sialnya sekali lagi aku tenggelam di manik hijau itu.
"Ngomong-ngomong sekarang dimana sahabatmu?" Tanya ku penasaran karena dia kemari dengan seorang wanita dan mereka tampak mesra sekali tidak mungkin itu sahabatnya.
"Dia ya? Dia sedang bersenang-senang dengan seseorang." Jawabnya dengan lugas.
"Kenapa kau disini sendirian disini? Kau tidak ingin ikut bersenang-senang dengan sahabatmu?"
"Ehm─ tidak jujur aku kurang suka dengan keramaian. Aku lebih suka duduk menyendiri disini dan mengobrol dengan mu ternyata menyenangkan." Ujarnya dengan nada suara sedikit menggoda di kalimat. Aku yang mendengar nada bicaranya sedikit membuatku tersipu.
"Siapa yang tidak suka berbicara dengan pria tampan sepertiku." Jawabku dengan percaya diri entah apa yang merasuki diriku sehingga aku bisa sepercaya diri itu. Mungkin setelah mengingatnya esok hari aku akan malu setengah mati.
"Ya kau memang tampan sih." Jawabnya dengan berani aku tidak menyangka ia akan meladeni candaan tidak jelasku itu.
"Kau juga tampan─ dan juga manis." Jawabku dengan nada suara yang memelan diakhir kalimat namun sepertinya ia mendengarnya itu terbuktikan dengan semburan berwarna pink pudar di pipinya. Pipinya tadi juga sudah memerah akibat efek alkohol tetapi ini berbeda warnanya lebih pekat lagi, sehingga aku yakin ia sedang tersipu.
🏎₊ ⊹
@Ncxtinezz_

KAMU SEDANG MEMBACA
Love In Pit [Lestappen]
FanfictionCharles Leclerc seorang engineer baru di Red Bull Racing. Ia menjadi sangat populer dengan cepat berkat wajahnya yang tampan dan memiliki beberapa fans girl. Max Verstappen seorang pembalap andalan Red Bull Racing yang tengah naik daun. Seorang Worl...