Pagi telah tiba, alarm tanda untuk mengakhiri tidur keras terdengar. Soal alarm Popy masih memperdebatkannya dengan Mara. Alarm yang terdengar keras itu bisa saja didengar oleh pihak-pihak asing dan akhinya akan mencari sumber suara itu. Mara menganggap alarm adalah bentuk kedisiplinan yang harus diterapkan pada satu kelompok. Apalagi kelompok perang yang harus mengutamakan efisiensi waktu.
Seorang prajurit menaiki rumah pohon saat Popy dan Mara masih dalam keadaan berbaring tapi mata mereka telah terbuka.
"Ada sekumpulan orang yang mengarah kesini."
"Ha?" Mara dan Popy bangkit bersamaan.
"Darimana?" tanya Popy.
"Dari barat," Si Prajurit nongol di lubang masuk.
"Ciri-cirinya?" tanya Mara besiap.
"Mereka serba abu-abu dan hitam."
"Ayo kita turun," Popy mengkomando.
Alarm dimatikan, Mara baru menyadari bahwa ketakutan Popy benar terjadi. Mara memberi komando pada para perawat-perawat dan penduduk-penduduk tua untuk bersembunyi di sebuah bunker kecil yang mereka gali bersama. Popy langsung memberi komando—mengumpulkan semua prajurit di tengah camp. Tidak ada makan pagi atau bersih-bersih diri yang biasanya dilakukan di danau yang terletak tidak jauh dari camp. Persenjataan telah disiapkan, Popy membagi menjadi empat bagian kelompok, strategi untuk mengepung lawan.
"Kelompok satu kepung mereka dari barat, kelompok dua dari timur, kelompok tiga berputar—kalian harus cepat sampai di belakang mereka, kelompok empat bersiaga mencegah mereka untuk menginjak tempat ini. Laksanakan!"
"Siap!" sontak seluruh prajaurit berpisah sesuai tugas masing-masing. Mara berada di kelompok tiga, Popy di kelompok empat. Setiap ada keadaan genting Popy dan Mara harus memisahkan diri untuk menghindari hal-hal yang bisa membunuh mereka bersamaan.
Strategi untuk mengepung pasukan lawan dimulai. Masing-masing pemimpin kelompok yang ditunjuk Popy saling menatap dari kejauhan, memberikan kode aba-aba dengan jari-jari. Dua kelompok yang mengepung dari sisi kanan dan kiri sudah berada di tempatnya, tinggal menunggu Mara yang hampir sampai. Popy menggenggam tangan kanan dan mengangkatnya setengah di atas kepala—komando untuk berhenti, menunggu lawan berada tepat di tengah posisi pengepungan. Mara telah sampai, memberi kode pada Popy.
Prajurit Albucacis menyiapkan senjata. Mengarahkannya ke pasukan lawan. Popy memberi kode untuk mulai mengepung dengan jari telunjuknya. Dengan bersamaan empat kelompok Albucacis yang jumlahnya lebih banyak dari pasukan lawan mulai mengepung dari empat arah mata angin.
Kelompok serba abu itu sontak kaget membuatnya kocar-kacir mengarahkan senjata. Ada yang ke kanan, kiri, belakang dan depan. Kelompok itu melindungi seseorang yang berada di tengah—membuatnya tidak terlihat.
"Stop!" Seorang di tengah prajurit berteriak, membuat prajurit di sekitarnya menurunkan senjata. Prajurit serba abu itu berlutut sembari masih bersiaga ke segala arah. Terlihat seorang dengan jubah yang lebih besar dengan aksesoris yang ramai berdiri dengan cerutu di mulutnya. Seorang pria bertubuh tinggi besar yang memakai kacamata hitam jenis Aviator.
Popy menatap orang itu—menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas lagi. Memberikan kode untuk menurunkan senjata, perintah itu diikuti kelompok prajurit lainnya. Popy berjalan pelan mendekati, diikuti semua prajurit Albucacis termasuk Mara yang kebingungan, bertanya dalam hati. Prajurit Albucacis mengepung tepat satu meter di sekitar prajurit serba abu itu, Mara menghampiri Popy dan berbisik.
"Kenapa, Pop?"
Popy tidak menjawab pertanyaan Mara. Mimik muka Popy berubah seperti sedang mengingat sesuatu dari masa lalunya. Seorang bertubuh besar itu melepas kacamatanya dan menghisap cerutu terakhirnya lalu menyerahkannya pada salah satu prajurit. Raut muka Popy dan Mara berubah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dhanurveda
FantasyPasca perang dunia ketiga, bumi mengalami kerusakan hebat. Serangan nuklir dari lima negara membabi buta seluruh penjuru bumi, benua dan pulau-pulau terpisah tak berbentuk. Lautan naik drastis. Membelotnya beberapa negara untuk tidak menandatangani...