Seperti yang sudah direncanakan, mereka berkumpul di klub. Tidak ada lagi alasan tak datang karena bekerja, semua orang sudah tahu sekarang Yerim menganggur. Dia sekarang benar-benar bergantung pada Bomin. Hubungan pura-pura yang dilakukan untuk siaran itu sekarang menjadi pertunjukkan nyata. Demi ego, sepasang kekasih tercipta.
Jam sembilan malam Bomin datang menjemput Yerim di apartemen. Tidak seperti Hyunjin yang mengeluh saat datang, pemuda itu santai saja. Dia tidak masalah memarkir mobilnya di pelataran kumuh yang sedikit jauh dari pintu masuk apartemen. Dia juga tak peduli dengan aroma tak sedap di lingkungan itu. Ia tetap menyambut sang kekasih dengan senyuman.
Bahkan senyuman itu terlalu aneh bagi Yerim.
Yerim yang sudah siap dengan pakaian pendek yang memamerkan tubuhnya itu saat dia membuka pintu mobil dan menemukan senyuman tak biasa dari Bomin. "Suasana hatimu sedang bagus, Oppa?"
Bomin terkekeh keras, mengonfirmasi dugaan bahwa dia benar-benar dalam suasana hati yang baik. "Akunku sudah kembali."
Yerim meringis, "sudah kuduga." Dia lalu memasang seat belt, "bagaimana dengan penghasilanmu?"
Bomin seperti sengaja menunggu waktu yang tepat saat dia hanya diam dan memperhatikan Yerim bersiap di kursi penumpang. Senyumannya merekah terlalu lebar, semakin lama semakin tak menyenangkan untuk dilihat.
Bomin membiarkan lampu mobil menyala. Beberapa saat dia sengaja membuat kesan mengerikan. Dia menarik senyuman, menggantikan kesan bahagia menjadi menyeramkan. Bertepatan dengan lampu mobil dimatikan, dia mengeluarkan kalimat yang membuat Yerim merinding.
"Tentu saja semuanya hilang."
.
.
.
.
.
Jelas ada perbedaan antara Bomin yang biasa dengan Bomin malam ini. Senyuman yang dia tampilkan sama sekali tidak menyenangkan hati. Kecepatan mobilnya juga tak membuat tenang. Yerim tahu kalau dia akan mendapatkan kesialan malam ini. Dalam diam, dia mempersiapkan diri untuk menghadapi kegilaan pemuda itu.
Sudah sejak beberapa menit lalu Yerim sadar kalau jalan yang diambil Bomin bukan mengarah ke klub. Dia berbelok ke tempat lain. Dia sepertinya pernah melewati jalur ini, namun ia tak ingat. Dia pun tak ingin bertanya karena tak mau memperkeruh keadaan.
Laju mobil berkurang saat Yerim melihat tempat tak asing di depan jalan. Bomin membelokkan mobilnya memasuki sebuah lapangan parkir yang cukup luas di pinggir sungai Han. Tempat ini familiar, karena dia pernah datang ke sana bersama Heeseung.
Waktu bertanya sudah tiba.
"Kenapa kita ke sini?"
Bomin enggan menjawab. Dalam diam dia menghentikan mesin mobil.
"Apa ini tentang akunmu?" tanya Yerim tak sabar. "Aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Tentang akunmu, tentang uang itu, atau ... atau tentang orang yang mengacaukan siaran itu. Kau tahu sendiri itu bukan Hyunjin. Jangan salahkan aku."
Bomin tertawa, "lalu salah siapa?"
"Hah?"
"Kalau bukan salahmu lalu salah siapa?!" Bomin berteriak keras, sampai telinga Yerim berdengung. Ia refleks menutup kedua telinganya.
Trauma belum bisa hilang sepenuhnya. Yerim tak suka saat dirinya dibentak. Suara-suara keras yang memekakkan telinga itu membangkitkan memori tak menyenangkan. Bahkan setelah semua yang telah ia alami untuk mengatasinya, dia masih tak sanggup.
"Bagaimanapun caranya, kau harus mengembalikan semua uang yang hilang itu."
"Kau sudah berjanji padaku--"

KAMU SEDANG MEMBACA
THE GAMBLER 2: Big League🔞 | TXT & EN-
Fanfiction🚫PLAGIAT ADALAH TINDAKAN KRIMINAL🚫 HOTTER, BADDER, BRAVER Kim Yerim bersama kawan-kawan barunya memutuskan untuk membalas dendam pada orang-orang jahat di masa lalu. Namun, akankah semua berjalan sesuai rencana? .Kim Yerim (OC) .Lee Heeseung (ENHY...