The Gift

1 0 0
                                    

Popy yang tidur sendiri, tiba-tiba tubuhnya menggeliat, tidak bisa diam, seperti belut yang ditangkap tangan manusia. Suhu tubuh meningkat panas. Pagi yang hampir tiba membangunkan Popy, beberapa dari dirinya yang ditemui tempo hari datang lagi. Kali ini visinya terlihat jelas, tiga orang membelah—keluar dari dalam tubuhnya. Mereka menatap Popy dalam-dalam, duduk bersila, seperti seorang yang sedang bermeditasi. Awalnya Popy merasa bingung, dia mencoba mengingat lagi apa yang telah Mara ajarkan padanya. Untuk tetap tenang dan fokus. Ada pesan yang ingin disampaikan dan harus diterima dengan Baik. Popy bangkit dari tidurnya, ikut duduk bersila.

Ketenangan membuat suara-suara alam berhenti sejenak, burung-burung berhenti berkicau, angin berhenti berhembus, daun-daun berhenti jatuh ke tanah. Energi yang ditransfer tiga diri Popy yang lain sangat besar. Visi yang sama, Popy mulai bisa mengendalikan dirinya dan sekitar. Berada dalam ruangan serba putih, ruangan itu seperti ruangan kendali bagi Popy. Hanya dengan sekali ucap, semua permintaan akan terjadi. Popy memfokuskan diri pada satu visinya, mencoba mengendalikan.

Visi itu bangkit berdiri, menatap sekitar lalu turun dari rumah pohon. Berhenti sejenak lalu menatap sekitar sekali lagi. Visi itu menatap rumah pohon tempat Mara dan Saka tidur. Lama mendongak, visi berjalan mengarah ke hutan bagian timur. Jalannya lambat seperti seorang yang mabuk. Popy mulai berkeringat, tapi suhu tubuhnya mulai turun—dingin. Dua visi yang lain masih duduk menemani Popy, tetap menatapnya dalam-dalam. Satu visi mulai mendekati tempat dua korban jatuh akibat peluru tajam. Popy memfokuskan diri, memberi energi pada visi itu untuk berdiri tegak, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Berhasil! Visi itu tidak seperti seorang yang mabuk lagi. Setengah dari tubuh visi itu adalah Popy.

Popy melihat keanehan yang mulai terlihat di seberang hutan. Ada garis kontur yang membelah pengelihatannya, seperti dua sisi hutan yang berbeda. Popy mendengar suara gesekkan di salah satu pohon. Popy melihat satu persatu pohon dari kiri ke kanan. Tidak ada yang aneh, sampai pada satu pohon, Popy melihat moncong senjata laras panjang mengarah padanya. Peluru menuju padanya, dengan cepat Popy membelah diri dari visinya, kembali pada tubuhnya. Satu visinya tumbang—jatuh. Peluru yang menembus jantung visi itu sedikit menggetarkan tubuh Popy, jantungya sempat terasa nyeri beberapa saat.

Popy menatap dua visinya, keyakinan dalam dirinya membuncah. Ada yang aneh di hutan bagian timur. Popy berpikir sekali lagi, menggunakan visinya lagi atau memberitahu Saka dan Mara untuk datang lagi kesana. Sejenak Popy diam, menimbang pilihan yang ada. Kurang dari tiga jam lagi alarm berbunyi. Popy melihat dua visinya mengangguk pasti. Dia tersenyum membalas, lalu memfokuskan diri lagi, duduk bersila seperti orang yang meditasi.

Popy memilih untuk menggunakan dua visinya bersamaan. Mengatur strategi. Kali ini visinya berjalan seperti manusia biasa, normal dan tidak sedang mabuk. Dua visinya tidak berjalan seiringan, mereka menunggu giliran dari Popy, untuk menghindari kecurigaan. Visi pertama berhasil melewati camp dengan mulus, tanpa kecurigaan. Dia menunggu di salah satu pohon, beberapa meter sebelum sampai ke hutan bagian timur. Saat visi kedua mulai berjalan, seorang prajurit melihatnya, seketika jantung Popy berdebar kencang. Prajurit itu diam, menundukan kepala tanda menghormati. Popy melanjutkan perjalanan visi keduanya.

Popy menjadi mata bagi visi-visinya, nyawanya berada di dalam tubuh, menggerakkan dengan tenang dan berfokus pada pusat syaraf otak. Tubuhnya tetap seperti seorang yang meditasi. Kedua visi itu sampai di hutan bagian timur—mengendap-endap. Popy menjalankan dua visinya tanpa kendala. Semuanya berjalan normal. Tetap saja tidak ada yang aneh di hutan bagian timur. Semua tampak seperti biasa. Popy mencoba menggerakkan visinya untuk menyeberang—menuju bangkai kapal yang jatuh tempo hari. Hutan bagian timur dipisahkan oleh lapangan kecil, bekas pohon-pohon yang ditebang.

Popy merasa aneh, kedua visinya tidak bisa melewati satu titik hutan yang berdekatan dengan jatuhnya kapal skyline. Popy berpikir, memutar otak apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kedua visinya seperti seorang yang menatap tembok. Sama sekali tidak bisa dilewati. Beberapa detik berdiri menunggu, Popy menoleh, dua visinya melihat seseorang, seluruh tubuhnya putih, sontak Popy terkaget membuat kedua visinya terjatuh membentur tanah. Makhluk serba putih itu sempat melihat kedua visi Popy. Makhluk itu mendekat, Popy membiarkan kedua visinya tetap jatuh—merunduk, agar tidak ketahuan.

DhanurvedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang