Selamat Membaca...
.
.
.
***
Naruto sampai di villa tempat Shikamaru dan Temari mengadakan pesta tepat pukul tiga sore. Mereka tadi sempat mampir membeli beberapa potong stelan baju. Naruto membawa pakaian yang tidak seberapa itu sedangkan Hinata membawa beberapa buah tangan untuk diberikan pada Temari.
"Akhirnya," itu saudara Sai yang kelihatannya masih jengkel dengan Naruto. Ino, Sakura dan Temari berdiri disusul Sasuke, Shikamaru dan tentu saja Sai.
"Maaf," hanya kata singkat itu yang disampaikan Naruto. Dan para sahabatnya sudah terbiasa dengan sikap Naruto yang seperti ini.
"Temari-san, ini ada sedikit buah tangan dari kami dan maaf kami datang terlambat," membungkuk pada Temari sebagai tanda penyesalan datang terlambat.
"Aduh, kau tidak usah repot-repot begini Hinata-san," menerima buah tangan dari Hinata dengan sungkan. Hinata hanya tersenyum canggung, ini pertama kalinya ia turut berkumpul dengan para sahabat suaminya.
"Bagaimana menikah dengan Naruto?" Tanya Ino setelah menggiring Hinata duduk di sofa panjang bersama mereka.
"Hahaha, ya, biasa saja," jawab Hinata sedikit heran.
"Waaah, aku kira kau bosan hahahah. Melihat Naruto yang sangat dingin apalagi pada wanita," ujar Ino lagi.
Hinata tertawa pelan, merasa sedikit canggung karna ini bukanlah circle nya sendiri. Hinata adalah golongan gadis bar-bar sedangkan para istri dari sahabat suaminya ini sosok anggun dan santun, jauh sekali jika dibandingkan dengan Hinata yang ceplas ceplos dan bar-bar.
"Mengapa kemarin sore kau pergi ke hotel?" Tanya Sai.
"Tidur," sahut Naruto santai, kini ia merebahkan dirinya bersandar dipunggung sofa. Tubuhnya letih, setelah menggempur istrinya semalam suntuk. Dan harus melakukan perjalanan tiga jam untuk sampai disini. Diperjalanan tadi, ia menyuruh Hinata untuk tidur karna Naruto pun tau Hinata pasti sangat lelah.
"Memang segawat darurat itu sampai-sampai kau tidak tahan untuk sampai ke rumah?"
"Aku mengantuk,"
"Hilih, tidak usah berkelit. Kalian pasti melakukan hal asik kan? Jika hanya tidur mengapa telat?"
"Berisik," sahut Naruto pada Sai yang memang suka sekali menggoda dirinya.
"Hahahahah, berapa ronde?"
Mereka semua tertawa, didalam hati para sahabat Naruto, mereka semua bahagia jika memang Naruto mampu menerima Hinata.
"Semoga bulan depan Hinata menyusul Temari ya," ujar Sakura.
Hinata memerah, ia tau apa yang Sakura maksudkan.
"Disini udaranya sejuk lebih ke dingin jika kau ingin berkembang biak maka sangat pas sekali," kini Shikamaru yang menggoda Naruto.
"Doakan kami juga, semoga hasilnya juga positif ya. Aku sudah telat haid selama lima hari tapi belum berani test dengan testpack takut hasilnya mengecewakan lagi," ucap Sakura yang memang sering merasa kecewa ketika mengetes dengan alat test kehamilan berbetuk tipis itu. Diantara mereka semua, Sakura dan Sasuke lah yang paling dahulu menikah, disusul Shikamaru dan Temari lalu Sai dan Ino.
"Aammin. Semoga cepat mendapat momongan. Kau juga Ino, biar tidak hobi keluyuran saja," nasehat Temari pada Ino.
"Aku belum siap, nanti badanku pasti melar," gerutu Ino yang membuat hati Sai sedikit sakit mendengarnya. Lelaki pucat itu sebenarnya sudah sangat ingin memiliki seorang putra namun apa boleh buat jika istri tercintanya masih belum mau mengandung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bear The Burden
FanfictionNaruto seperti tersengat listrik ribuan volt ketika mendengar titah dari sang Ibunda. Menanggung akibat dari perbuatan yang tidak dilakukan memang sangat menyakitkan. Apalagi harus mengorbankan sisa hidupnya. Menikah bukanlah untuk jangka waktu yan...
